Kamis, 03 Agustus 2017

Menata Hati Bersama Imam Al-Ghazali

Sabar. Itu poin pertama yang melekat di pikiran setelah membaca buku ini. Soalnya tadi sudah nulis banyak. Tulisannya tinggal beberapa kalimat. Tapi lantas hilang tak bersisa dan aku harus menulisnya kembali dari awal.


Sabar. Karena dalam Ali Imran ayat 186 tertulis di sana bahwa sabar adalah sikap utama yang harus dimiliki oleh orang yang bertakwa. Dan Imam Ghazali juga mengingatkan kita akan Surat Az-Zumar ayat 10 yaknk hanya orang-orang yang bersabarlah, yang Allah beri pahala tanpa batas.

Pun Rasulullah juga bersabda, la taghdab wa lakal jannah. Janganlah kamu marah surga untukmu.

Setimpal, karena menurut Ifa Avianty, Putri Salju yang baik hati bisa berubah sikapnya seperti ibu tiri kala marah. Menyeramkan sekali bukan.

Pangeran yang biasanya jadi pahlawan pun 180 derajat berbeda sikapnya kala marah. Laiknya penjahat kelas kakap yang kehausan darah. Ups, kayaknya ini berlebihan pemirsa.

Tapi jika itu fakta, kita tetap berharap orang-orang yang dikuasai amarah kembali lagi ke jalan yang benar.

Tips dari Rasulullah. Jadi jika kamu marah saat berdiri, duduklah. Berbaringlah jika belum juga reda. Lalu sholat dan membaca quran agar hati kembali tenang.

Perkara hati menjadi perhatian utama Imam Al-Ghazali. Karena jika hati nggak karuan. Sulitlah untuk bisa fokus beribadah. Keikhlasan berkurang. Mau qanaah rasanya susah dan bawaannya riya' melulu. Astaghfirullah.

Jadi apa gunanya beribadah selama 70 tahun jika hanya seperti mengisi ember bocor. Na'udzubillahi min dzalik.

Imam Ghazali mengajari kita untuk dzikrul minnah. Mengingat segala kekuasan Allah, kebesaranNya. Agar kita tidak takabbur. Untuk tidak thulul amal, alias lebih banyak berangan-angan daripada beribadah. Sholat tapi mikirin A-B sampai Z.

Itulah mengapa Imam Ghazali menempatkan hati sebagi porsi paling banyak untuk dibahas. Kita memang diperintahkan menjaga mata untuk tidak bermaksiat. Tapi dengan menutup pandangan jadilah sekeliling gelap. Lisan bisa berbicara banyak. Dengan mengatupkannya, berhentilah ia berkata-kata.

Namun hati, meski semua anggota badan diam tak bergerak. Hati bebas berkeliaran siang malam. Boleh berpikir apa saja.

Kita sebagai raja, tentulah sangat disarankan untuk bisa menata hati. Agar ia lebih condong pada Allah. Jadi kalau mau marah ingat Allah. Ingat surga yang dijanjikan. Ingat bahwa amarah itu hanya sementara dan sebentar lagi reda jika kita mengikuti saran-saran dari Rasulullah.

Ingat dampak amarah yang bisa saja membuat orang lain terluka. Bisa hati, bisa juga fisik. Hanya dikarenakan emosi yang tak terkendali. Allah, Allah, Allah!

Jangan karena Allah memberi kita lima emosi, maka marah pun dipakai dengan alasan biar tidak mubadzir. Duh.

Sebenarnya marah pun bisa diarahkan dengan baik. Misalnya marah dengan Israel yang menjajah Palestina bertahun-tahun. Marah dengan pemerintah yang pro Zionis contohnya. Seperti kata Asma Nadia, istilahnya, dendam positif.

Namun dibalik itu semua, aku masih bertanya-tanya, benarkah penulis buku ini Imam Al Ghazali? Soalnya beberapa kali tertulis kata penyusun di sana. Ada tulisan, "Imam Ghazali berkata..." di halaman 366.
Di sampul depan tertulis Imam Al Ghazali, namun di dalam buku tercantum Imam Al Ghazaly. Entah itu typo atau memang beda orang.

Hal menjanggal lainnya adalah ada beberapa hadits atau kisah yang sanad atau riwayatnya tidak dijelaskan dari siapa dan siapa. Tidak seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang fenomenal itu, beliau menyebut mana yang berstatus shahih, hasan bahkan yang gharib.

Terlepas dari itu. Yuk move on. Kalau belum bisa menata hati, bisa baca buku ini.

***
Judul: Minhajul Abidin: Petunjuk Ahli Ibadah
Penulis: Imam Al Ghazaly
Penerjemah: Abul Hiyadh
Penerbit: Mutiara Ilmu
Cetakan: Pertama Muharram 1416
Halaman: 390


Jumat, 28 Juli 2017

Belajar dari 101 Dosa Penulis

Dosa adalah kesalahan. Darinya kita belajar agar menjadi lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Isa Alamsyah, suami Asma Nadia membocorkan kepada kita 101 Dosa Penulis Pemula. Tentunya agar kita mengambil hikmah. Belajar untuk tidak mengulanginya. Tobat euy, tobat!

Buku ini diawali dengan berbagai jenis pengulangan yang sering dilakukan oleh penulis. Seperti terlalu banyak aku dalam satu kalimat. Menerangkan yang sudah jelas. Klise tapi sering terjadi.


Aku masuk ke kelasku sambil kubawa buku sejarahku yang lumayan berat. Baru saja kumelangkah, sahabatku yang selalu membantuku di saat aku sedang kesulitan, memanggilku dari jauh.

Ups.

Dosa lainnya adalah konflik dan detail. Terkadang seorang penulis tidak fokus dengan apa yang ingin dia sampaikan. Tulisan yang harusnya hanya membicarakan satu pokok permasalahan lantas melebar ke mana-mana. Dan detail yang tidak perlu menjadi ada.

Pak Isa mengisyaratkan hal tersebut dengan penulis mabuk. Bicaranya banyak tapi maksud dari yang dikatakan tidak ada. Fokusnya hilang.
Beliau mengibaratkannya dengan drama yang membosankan. Apalagi jika lead atau opening tulisan tidak membuat pembaca tertarik. Mereka pergi begitu membaca paragraf pertama, atau bahkan hanya kalimat pembuka.

Itulah pentingnya belajar mengaplikasikan teknik-teknik yang benar pada tulisan.  Cara tertentu yang harus kita pelajari. Tentunya menulis berita berbeda dengan menulis puisi.

Di dalam buku ini Pak Isa memaparkan beragam contoh. Sampelnya diambil dari anggota KBM (Komunitas Bisa Menulis) di Facebook.


Sedangkan untuk shirathal mustaqim alias tulisan yang sesuai kaidah, banyak mengambil ilustrasi dari adegan film-film luar negeri. Kamu bisa mencatat judul dan mengunduhnya sebagai bahan ajar. Contekan biar tulisanmu makin indah di mata pembaca.

Menurutku buku ini nggak hanya cocok untuk pemula. Penulis profesional pun butuh mengoleksi karya Pak Isa sebagai bacaan. Tentunya agar sehabis membaca mereka bisa langsung praktek. Karena tuntutan profesi kan.

Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah yang diamalkan? Tambah nafi' wes.

Melihat semua seluk-beluk kepenulisan dikupas habis di sini, Dari A sampai Z! Itu membuatku memberi empat bintang dari lima.  Titik koma penulisan dialog hingga PoV [point of view] dan pemilihan diksi juga dibahas.


Kerennya lagi, buku 101 Dosa Penulis Pemula hanya disusun dalam jangka waktu sepekan! Masya Allah. Tujuh hari menulis tanpa henti. Buku setebal 318 halaman.

Karena gigih dan nekat juga perlu menjadi mental penulis. Pun semangat pantang menyerah. Louis L'Amor, pernah ditolak sebanyak 350 kali. Namun kini memiliki lebih dari 100 buku. Ya, beberapa bab terakhir membisikkan kita sekian motivasi agar terus melanjutkan tulisan. Meneruskan perjalanan literasi tanpa takut patah hati ditolak kepala direksi.

Yuk! Taubat, yuk.. biar nggak dosa.

Alias,
terus berlatih agar tulisan kita makin kece.


***
Judul: 101 Penulis Pemula
Penulis: Isa Alamsyah
Penerbit: Asma Nadia Publishing House
Halaman: 318



Rabu, 19 Juli 2017

Menjejak Karya Angkatan '45

Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2, begitu judul buku yang sempurna disusun H.B. Jassin di tahun 1948. Antologi yang berisi kumpulan sajak dan cerita karangan pujangga angkatan '45. Penyair favorit kita, Chairil Anwar hadir dengan 9 karya sastra pilihan. Aku yang fenomenal itu bahkan ada di urutan pertama yang tampil di hadapan pembaca.


Ada 21 pujangga yang ikut terangkum oleh H.B. Jassin. Jadi tak hanya Bung Chairil saja. Tercantum di sana Asrul Sani, Sakti Alamsyah, Abas Kartadinata dkk. Kesemuanya lelaki kecuali Siti Nuraini dan Samiati Alisjahbana. Itu perkiraanku saja. Menebak gender dari nama.

Penulis-penulis itu ditampakkan lengkap dengan biografi singkat sebelum pergelaran karya di dalam buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2. Dari paparan H.B. Jassin yang tertera di sana lantas kutahu semua-muanya adalah orang berpendidikan.

Dan kebanyakan pujangga-pujangga kita alumni sekolah Belanda yang lahir di tahun 20-30an. Itulah mengapa banyak berpengaruh dalam sajak atau cerita yang mereka karang.

Jikalau Aku adalah puisi yang kusuka di antara lainnya, maka dari kalangan (bangsawan :p) prosa aku menikmati karya Abas Kartadinata. Tulisannya berjudul Tidak Bernama beralamatkan halaman 174-184. Berkisah dua anak kembar yang bercengkrama di dalam rahim sang ibunda.

Mereka berdiskusikan suara-suara yang datang di telinga. Tak hanya berdua, keping-keping darah yang ada di sekitar pun diajak bercengkrama. Hingga lahir mereka tetap tak bernama.

Aku pun tertegun dalam puisi Asrul Sani berjudul Surat dari Ibu. Puisi beralamatkan halaman 102 ini adalah sajak yang aku nyanyikan saat kelas VII SMP. Bu Sahliah, sang guru Bahasa membagi dan menyuruh kami mengkreasikanny dengan nada dalam kelompok-kelompok. Cara mengajar beliau selalu unik. Membuat kami semakin mencintai sastra.

Kembali pulang, anakku sayang

Kembali ke langit malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu, pagi hari."


Karya lainnya lebih banyak menceritakan zaman mencekam. Serdadu Belanda-Jepang yang masih berada di Indonesia hingga penyakit menakutkan, mematikan; TBC, terlihat biasa mondar-mandir di antara karya satu dan lainnya.

Masyumi turut menjadi topik menarik di dalam buku ini. Menyaingi kehadiran anggur dan perempuan. Ini pasti dikarenakan, this party very incredible at that time. Pengen baca banyak tentang Masyumi. Apalagi buku most-favenya Pak Rafif, kepala sekolah Reading Challenge bertemakan Masyumi. It makes me more curious about.

However, penulisan dan pilihan kata yang dipakai para penulis menjadi perhatian tersendiri. Tertulis di zaman perang dan pemulihan bangsa, diksi kata yang dipilih tak sama dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang kita kenal sekarang. Kita tahunya 'suster' tapi di halaman 178 dan 273 tertulis 'zuster'. 'Pulpen' di zaman itu familiar dengan 'vulpen'. Pun 'uang' yang banyak tersebar di sekian prosa masih terejakan 'wang'.

Puisi dan prosa yang terkumpul dalam Gema Tanah Air ini tak semuanya baru. Banyak yang sudah terpublikasikan. Di bagian akhir karya tertulis nama-nama media yang pernah memuat sebelumnya. Zenith, Mimbar Indonesia, Siasat, Panca Raya, dan Kisah di sanalah H.B Jassin memetik bibit-bibit bunga hingga jadilah kebun kekata bernamakan Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2.

Antologi karya yang membuat pikiran kita lebih terbuka. Karena kita lebih tahu. Dengan karya penulis papan atas, selain menambah khazanah keilmuan, in this case sejarah bangsa, juga memperkaya diksi. Terlebih aku yang menyukai puisi.

***
Judul: Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2
Penyusun: H.B. Jassin
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: pertama - 1948, kesepuluh - 1993
Halaman: 278


Rabu, 12 Juli 2017

Keabadian Cinta Taj Mahal


Taj Mahal berasal dari kata Mumtaz Mahal yang berartikan Istana paling Istimewa. Ialah panggilan sayang sang raja pada permaisurinya. Namun bukan hanya itu, istana putih berpualam di India itu tidak hanya perwujudan rasa Shah Jahan. Ustadz Isa, sang arsitek, menanam pula romansanya di setiap inci mahakaryanya.

India telah dikuasai Islam pada saat Taj Mahal dibangun. Pun dengan raja mereka. Seneng banget, ketika Al-Qur’an terlantun merdu dalam romansa ini. AyatNya menjadi pembuka salah satu chapter di sana.

Aku jadi teringat Takudar. Rindu dengan penguasa Muslim Mongolia yang pertama, setelah Takhta Awan, aku masih menanti sekuel selanjutnya, semoga segera. Kita doakan saja.

Kembali cinta yang mengabadikan dirinya pada sinar terang di malam purnama. Taj Mahal, karya John Shors juga menampilkan kisah tentang ketegaran. Pada Jahanara sifat itu terpancarkan. Sang Putri yang merupakan cerminan kecantikan sang Ibunda. Aku belajar banyak padanya. Belajar menjadi cerdas, karib yang menyenangkan dan bagaimana berdiplomasi dengan para ningrat tanpa menimnulkan kecurigaan dan perpecahan.

Sama seperti kisah kerajaan yang pernah kau tonton atau terbaca dari buku-buku, romansa dari India ini sarat dengan adegan pengkhianatan, penggulingan takhta. Pernikahan politik atas dasar perluasan daerah atau perdamaian dengan penguasa lainnya juga terjadi di sini.

Membaca Kehidupan
Penerjemahan
Cara Meithya menerjemahkan buku sekitar 500 halaman ini memukauku. Ia pintar sekali memilih dan memilin kata menjadi sedemikian sempurna. Aku beberapa kali mencicipi kualitas terjemahan yang buruk, jadi kuacungi jempol pada sang penyunting.

Rembang petang, katanya beberapa kali terlihat dalam pilihan katanya. Rembang semakna dengan tepat betul, pada puncaknya. Itu terdengar hebat menurutku. Juga bagaimana Meithya mengambil kata sebagai diksi dalam terjemahan di seluruh suntingnya. Sangat nyastra, I want to be like her, someday. An incredible professional translator or even interpreter. 

Dekorasi
Sang Arsitek
“Kita membutuhkan orang-orang terbaik sedunia, Jahanara. Aku tak peduli negeri mana yang kausebut rumah.”

Taj Mahal membutuhkan dua puluh dua ribu pekerja yang berasal dari mancanegara. Pun beberapa ahlinya, berasal dari Eropa. Isa, sang arsitek tak peduli. Ia paham betul bahwa bangunan impian sang raja haruslah yang terbaik. Maka the experts pun ia panggil dari seluruh dunia.

Sayangnya Shors tak menceritakan dari mana Isa mempelajari seni yang sangat indah itu. Apakah ia lulusan universitas ternama atau, kursus paling mahal di dunia. Eh, dulu mah mana ada ya. Yang jelas dulunya ia lahir dan besar di Persia. Melihat betapa fenomelnya istana yang ia dirikan, aku jadi mengerti, cintalah yang menampakkan rasa pada karyanya.

Pengen deh rasanya manggil Ryan tokoh utamanya Diorama Sepasang Al Banna dan Dilatasi Memori untuk berkolaborasi dengan sang arsitek keren. Terus nanti mereka bikin perpustakaan setara atau malah mengalahkan Camridge yang memiliki milyaran koleksi. Oh I hope, I hope!

Idealisme
Pluralisme
Novel ini mengajarkan bagaimana berkompromi dan bertetangga dengan agama lainnya. Dara, sang putra mahkota yang gila syair dan sastra bahkan menulis buku yang menyatukan Hindu dan Islam yang menjadi agama mayoritas kala itu.

Itulah mengapa kemudian ia dituduh ahli bid’ah oleh Aurangzeb, saudara Jahanara yang takut ular kobra. Anak kedua raja yang kelak bernama Alamgir.

Cahaya
Nilai Islam
Dari apa yang Shors narasikan dengan banyaknya minuman keras yang ditampilkan hampir setiap bab, aku tak setuju. Ia juga menyebut bahwa Al-Qur’an sedikit keliru mengharamkan anggur karena ia membebaskan segala urusan pelik kehidupan. 

Tentu saja itu tidak benar. Sebagai Muslim aku tak sepakat dengan apa yang ia lontarkan. Jadi kita tak serta merta menelan mentah-mentah apa yang penulis tunjukkan dalam wacananya. Yup, it is about my faith.

Overall, setelah baca novel sejarah ini jadi mengerti latar belakang Istana Marmer Putih didirikan. Dan ternyata ada dua kisah cinta yang mendasarinya. Tapi untuk membuktikannya, kita harus menganalisis novel ini dengan New Criticism. Kalau pakai Historical Criticism nanti jadinya cuma berpatokan sama satu sumber aja. Kan katanya history is based on who is told you about. Dari perspektif mana sejarah diceritakan dan siapa yang menceritakan.

Seperti kisah ibu tiri yang biasanya diceritakan kejam, di Malleficent malah kita tahu alsannya kenapa. Eh. Jjadi ke situ-situ ya? Hoho, efek kangen nganalisis nih. Rindu bikin paper. Yawda gitu saja romansa dari India yang bisa kuceritakan pada permirsah sekalian. See ya!

***
Judul Asli: Beneath a Marble Sky: A Novel of Taj Mahal
Penulis: John Shors
Penerjemah: Meithya Rose
Penerbit: Mizan
Terbitan: Cetakan ke-VII Maret 2008
Jumlah Halaman: 458
Rating: 3,5 dari 5


Selasa, 27 Juni 2017

Tony Buzan's Speed Reading Technique

Speed reading atau membaca cepat kurasa sangat dibutuhkan semua orang. Bagi orang barat sana, time is money. Teknik ini dapat mengefektifkan waktu kita. 

Indeed, kita kan suka beralasan so many books so little time. Ngeliat buku-buku keren di perpus pengen dilahap semua. Buku di bazar murah apalagi. Dan apalah kita yang sok sibuk berlagak punya waktu sekadar baca buku, hoho.

Ceritanya aku baru aja namatin buku Speed Reading-nya Tony Buzan. Buku berwarna jingga yang lumayan beraat bacaannya.


Well, apa saja yang tertulis di sana?

Fakta berbicara bahwa warna mata, rambut bahkan katanya pun nilai IQ udah dari sononya nggak bisa berubah. Tapi speed reading, bisa! Gue udah cobain. Yang awalnya sekian jadi sekian. Ada-lha increase-nya.

Di dalam buku Tony Buzan ini juga dilengkapi dengan alat ukur kecepatan bacaan kita, soal-soal penunjang dan teknik-teknik yang dapat kita praktikkan langsung saat baca buku.

Hal yang pertama yang harus kita kuasai adalah how we use our eyes. Saat membaca usahakan kepala kita diem. Biarkan our visual equipment bekerja; bola mata yang bergerak ke kiri dan kanan atau atas ke bawah.

Bayangkan mata kita laiknya mata elang. Yang meskipun fokus menatap tengah, tapi teteup aware sama sekitar. Inilah trik salah seorang tokoh bagaimana ia dapat melahap satu halaman dalam satu kedipan mata. Cling! Udah kebaca semua.

Nggak heran, beliau-beliau yang jago itu bisa baca 3.000 wpm (dalam satu menit). Daebak sekali bukan?

Teknik lainnya adalah fokus pada kata yang ada tengah pada setiap baris. Jadi usahakan pandangan kita dalam mode wide angle. Jadi semua kata dalam satu baris lengkap terjangkau.

Bisa juga dengan membaca zig-zag. Mulai dari kiri atas ke kanan. Ke kiri lagi terus ke kanan sampai selesai satu halaman. I think this technique is the simplest one. *soalnya yang sekali kedip belum bisa, hoho.

Teteupp meskipun kita lagi membaca cepat konsentrasi masih diperlukan. Ya kan nanti kita kudu menguasai bacaan. Harus bisa jawab pas the examiners nanya-nanya di sidang skripsyong. Eh? :D

Terus biar kecepatan baca kita nambah, perlu nih menguasai vocabularies. Jadi pas baca, oh ini udah ngerti maksudnya apa. Bisa ditunjang dengan memahami pembentukan kata seperti afiks-prefiks-sufiks gitu. Kalo ada 'pre' atau 'pra' artinya 'sebelum', kalo 'post' maknanya 'sesudah'. Ini memudahkan otak kita biar cepet nyambung.

However, biar bacaan kita nggak terganggu alias makin lambat. Sangat tidak disarankan untuk kembali. Kembali membaca kata atau kalimat sebelumnya yang sudah kita baca. Karena sebenarnya otak kita lagi proses pencarian jati diri, hoho. So, meskipun kamu nggak balik nengokin, 'eh tadi maksudnya apa ya,' that thing already submitted to our brain file.

Dan lagi, jangan pakai jari untuk bantu baca. Karena itu akan memblokade pandangan kita. Ini akan membuat speed bacaan kita berkurang. Tapi kalo buat anak preschool bolehlah, karena mereka masih belajar mengenal huruf per huruf hingga kata per kata.

Well, sebenarnya masih banyak teknik-teknik yang diajarkan Tony Buzan. Tapi itu saja yang bisa aku bocorkan. Lainnya bisa kaubaca langsung on his book.

Don't forget to expand your visual power in order to be like Sean Adam who has 4.550 wpm. That's incredible! ♡

Selasa, 25 April 2017

Merangkum Jejak Sang Pujangga (Chairil)

..karya sastra bisa sedemikian menakutkan bagi penguasa..

Belum sempat kutuntaskan Gadis Pantai, buku Chairil sudah di genggaman meminta kesudahan. Dua buku dengan sastra tinggi buatku. Namun ternyata Chairil lebih mudah dicerna maksudnya. Pun jika dibandingkan dengan skenario Aku. Mungkin karena penulisnya yang hidup di masa kini. 

Tercatat di awal buku, biografi ini adalah cetakan pertama tahun lalu; 2016. Pantas bukan, jika aku menyebutnya masa kini.

Buku terbitan Gagasmedia tersebut menurutku adalah biografi yang super-lengkap disbanding lainnya; buku-buku yang juga menyajikan hal serupa. Di daftar pustaka ada 48 rujukan yang menjadi sumber bagi Hasan Aspahani, sang penulis dalam meliarkannya ceritanya tentang Chairil.



Kehidupan Chairil
Karena sejatinya senjata para penyair adalah kata-kata


Chairil berasal dari keturunan konglomerat. Asli Medan yang kemudian merantau ke Batavia. Meski begitu orangtuanya rutin mengirimkan uang untuk kebutuhan Chairil. Pantas saja jika Chairil seringkali terlihat di pesta-pesta para bangsawan.

Sang Penyair hidup di kala bangsa masih dijajah Belanda dan Negeri Sakura. Tidak mengherankan jika karyanya banyak dipengaruhi oleh keadaan sekitar. 

Sebagian puisinya bertuliskan kisah tentang perjuangan. Di buku Chairil kita juga menemukan Indonesia di masa lampau. Saat mendengarkan radio harus sembunyi-sembunyi. Kala sang penyair turut memiliki pistol di kantongnya. Selalu siap sedia untuk ditarik pelatuknya. Meski tak pernah dilakukannya. Karena sejatinya senjata bagi Chairil adalah kata-kata.

Keadaan itu otomatis memutus kiriman dari tanah kelahiran. Terlebih perang masih bergejolak. Chairil pun mulai menghidupi diri dengan puisi. Berpuisi pun tak boleh sembarangan. Karena karya yang masuk redaksi akan dikontrol ketat oleh tentara Jepang. Meski begitu, ia pernah tertangkap. Masuk penjara menjadi tahanan sang penjajah.

Honornya tak seberapa tapi cukup untuk buku tuk kembali mengasah pena. Kerjanya yang tentu tiap bulan mendapat gaji membuatnya diusir Hapsah, sang istri. Bersama buku-buku ia pun pergi ke rumah rekannya. Ya, penyair kita ini dituliskan tak pernah punya rumah. Ia tinggal alias menumpang di berbagai tempat; orang-orang yang ia sebut sahabat.


Sahabat Sekitar
Jassin, yang kuserahkan padamu-yang kunamakan sajak!-itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.


Saudara, sahabat dan kenalan yang menjadi saksi perjalanan kepenyairan Chairil Anwar menjadi sumber utama selain buku-buku. Salah seorang sahabatnya, dikisahkan oleh Hasan Aspahani tentang Sal, Maria dan Sjahrir. 

Cerita yang hampir serupa dengan persahabatan Abu Darda’ dan Salman. Jika kau telah menamatkan Jalan Cinta Para Pejuang, pasti hafal betul kejadiannya. 

Baiklah akan kuceritakan perihal itu. Suatu saat Salman mengajak Abu Darda’ untuk menemaninya melamar seorang gadis. Sebagai seorang sahabat yang baik tentu saja beliau mengiyakan tawaran rekannya itu. Namun tanpa dinyana, setibanya di rumah sang gadis, pinangan Salman ditolak. 

Abu Darda’-lah ternyata kasih yang selama ini diidamkan oloeh sang gadis. Pekik takbir terelakan dari Salman. Semua mahar yang telah ia siapkan dengan ikhlas hati ia berikan untuk keperluan sahabatnya; Abu Darda’.

Bedanya Maria telah diperistri oleh Sal, namun demi melihat sahabatnya bahagia, dan ia tahu bahwa ternyata Sjahrir pun menaruh hati. Maka dilepasnya oleh Salomon Tas (p.47).

AM Chandra, Asrul Sani, Bohang si redaktur Pujangga Baru adalah nama-nama yang juga berada di sekitar Chairil Anwar. Melalui tangan Bohar-lah karya Chairil berhasil lolos dan terbit. Namun H.B. Jassin adalah sesosok rekan yang tak hanya mengarsipkan karya-karyanya namun juga berani berdebat dengannya.


Gairah Menganalisis
Sebab sebagai penyair, ia kita harapkan lebih banyak menembak dengan kata-katanya. Lewat puisi-puisi yang ia ciptakan. 


Perdebatan sengit antara Chairil dan Jassin yang terjadi di halaman 129 harusnya membuka pandangan baru bagi para penyair. Tentang keterbaruan. Tentang ekspresionisme. Katanya,

“Apakah kebagusan sebuah sajak itu diukur dari termuat atau tidaknya di majalah atau surat kabar? Bung, sajak yang baik itu menguji wawasan redaktur pengasuh sajak, bukan bukan mengikut mematut-matut dengan selera redaktur.”

Dalam buku ini berkali disebutkan tentang ekspresionisme. Banne des Expressionismus, buku dalam bahasa Jerman yang kerap kali dibaca Jassin. Seperti halnya Chairil, H.B. Jassin juga keranjingan buku-buku. Nah, paham ekspresionisme yang suka disebut-sebut itu menggairahkanku. Untuk segera memburu bukunya tentu saja, dan mulai mengaplikasikannya dalam karya sastra. Nganalisis lagi yuk! Jerman? Iya, kita akan bertemu prominent figure dari sana lagi. Wah kayak déjà vu dong.

Well, menamatkan buku Chairil laiknya bimbingan skripsi. Belajar menganalisis puisi.


Puisi Narasi Aspahani
Penyair takkan menjadi penyair jika ia tak menuliskan sajak-sajaknya.


Membaca narasi bernapaskan puisi. Menelusuri Chairil seperti mencicipi ribuan sajak. Penulis yang jago nyastra. Delapan buku tertulis di profil penulis. Di belakang buku.

Ada setidaknya delapan potong sajak yang kulahirkan berbarengan dengan membaca Chairil. Bisa saja itu dikarenakan gaya bahasa sang penulis yang amat puitis. Yang mungkin besar pengaruhnya dari biografi ini. Yang membuatku penaku gatal untuk menulis. Mau membaca mereka? Doakan saja, puisi-puisi itu terbit di koran dalam waktu dekat 

Terimakasih, Aspahani, telah menghadirhidupkan kembali puisi baru nan manis dalam sajakku.


Luka dan bisa kubawa berlari
berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.


Ya, kita lihat kini, Chairil masih bernyawa dalam puisi-puisinya meski raga telah berpulang di tanggal 28 April 1949.


Rabu, 19 April 2017

Pelarian Putra Mahkota

Baruji melarikan diri ke Baabussalam bersama dayangnya yang setia, Almamuchi. Di sana ia mendalami ilmu agama namun keresahannya akan istana terus membenak, berkelindan dalam kepala.

Di istana, ayah dan bundanya dibunuh orang tak dikenal. Sampai kini pun jejak sang pembunuh belumlah ditemukan. Di samping itu, Arghun putra kedua naik takhta. Sedang Baruji kabur dari sana sesuai perintah Ibunda Ilkhata.

Raja Arghun Khan memperluas kekuasaanya. Ia membabi buta. Memusnahkan segala hal yang menurutnya termasuk pengkhianat. Pejabat-pejabat Muslim diturunkan dari takhta. Perekonomian semakin carut marut di sana-sini.

Dalam novel kedua ini, Sinta Yudisia lebih menampakkan budaya-budaya Islam. Karena latar cerita tak hanya tentang kerajaan. Kisah sang pangeran mulai memasuki asrama-asrama tempat para pemuda menimba ilmu.

Ada juga padepokan-padepokan tempat belajar bela diri. Hmm, jadi pengen ikutan karate-an. Eh.

Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Sebaliknya, apabila dunia diperintah oleh orang saleh maka kehidupan berjalan laksana nirwana: tenang dan berlimpah kecukupan.

Quote di atas pertama kali kutemui di lemari kayu Sekret LDK dalam bentuk hadits. Di sebuah pagi ketika ODOW berlansung. One Day One Work, satu hari satu karya. Jadi dulu Divisi Pers 'n IT punya program harian, submit a work then it will be critisized by all of members.

Nah kebetulan hijab (pembatas) sekret menempatkan para akhwat di samping lemari itu dan kini kudapati nasehat itu di The Lost Princenya Bunda Sinta Yudisia.

Takudar Khan, putra mahkota imperium Mongolia yang sebenarnya. Yang harusnya menggantikan sang ayahanda. Bukan Kaisar Arghun yang kali ini memerintah negara. Sepertinya dia terpengaruh Jenderal Albulqa.

Well, buku ini akan bersambung di The Road to the Empire dan Takhta Awan. Hmm, ceritanya masih panjang sodara. Entah bagaimana caranya Takudar, sang Pangeran kembali ke istana. Tak tahu juga, ia akan menyerang adiknya, Arghun atau tetap menjadi rakyat jelata seperti yang ia impikan. Tanpa lagi memerdulikan urusan negara, Imperium Mongolia!

Namun yang pasti, The Lost Prince masih  bersama dayangnya. Almamuchi, yang setia. Setia pada janji Ibunda Ilkhata. Untuk menjaga pangeran dari Arghun yang haus akan kekuasaan.


Daan, jika kau tetap mencari putra mahkota. Takkan kautemukan. Karena kubawa ia berlari hingga hilang pedih perih :D