Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2018

Surabaya BBW 2018 Looks Like

Big Bad Wolf, pameran buku impor terbesar kembali digelar di Surabaya tahun 2018 ini. Event yang aku tunggu-tunggu karena mendatangi acara BBW bisa membuatku kalap mata. Semua buku aku liatin.

Memang surga rasanya mendatangi pameran buku. Tempat berkumpulnya banyak ilmu.

How We Get There.

Berlokasi di tempat yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya; JX International Expo. Di jalan A. Yani yang bersebelahan dengan UINSA. Membuat kami tak perlu repot mencari.

Aku menuju lokasi BBW bersama dua orang teman dengan menaiki taksi online. Dari stasiun Wonokromo, hanya membayar Rp 13.000. Jika dibagi tiga orang, lumayan ~

Finally We Here!

Sampai di lokasi, bayar taksi dulu baru bisa masuk. Kasian Pak Sopir sudah mengantar tapi tidak dibayar :D

Di pintu masuk, sudah berjejer 2-3 orang sekuriti. Mereka bertugas mengecek tas, ransel dan barang bawaan pengunjung. Makanan dan minuman tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Harus diletakkan di luar ruangan.

Pastikan perut dalam keadaan kenyang dan badan sehat bugar. Ben kuat menghadapi kenyataan. Agar di dalam area BBW tidak banyak jajan. Jajan buku aja yang banyak. Dan biar kita bisa mengelilingi stan-stan impian berupa tumpukan buku berisi ilmu baru ♡

Itulah yang aku lakukan. Mendatangi stan buku satu per-satu. Sampai-sampai dua temanku lelah menunggu.

You never know how lifestyle being a bookworm :D

Iya, dua-tiga jam hunting buku nggak kerasa.

Kalau qiyamullail selama itu kuat, nggak? T.T

Qadarullah, panitia BBW menyiapkan stan makanan dan aneka window shopping untuk para pengunjung di lantai dua. Daripada menunggu diriku yang entah sampai kapan bisa ditungguin, dan buku-buku yang dijual di situ pun kebanyakan in English, they left me for a serve of food and bags.

Dua tas cantik khusus untuk travelling berhasil membius mereka berdua. Masya Allah harganya juga cantik. Beli satu dapat dua. Jadi bisa berdua. Lucky them.

Sementara aku terus menjelajahi lautan buku di antara ratusan manusia.

Our Experience

Masuk ke dalam arena pameran BBW 2018 aroma buku-buku baru langsung tercium. Binar para pemburu juga terlihat. Masya Allah atmosfer bookworm-nya membuatku semangat mengambil troli besar.

Padahal biasanya cuma ambil tempat yang berwarna merah itu. Hanya saja punggungku harus segera beristirahat dari beban ransel yang berat ~

Sambil mendorong troli, sejauh mata memandang aku hanya mendapati stan khusus anak-anak. Label CHILDREN terpampang besar dan sangat jelas.

Masak iya semuanya buku-buku anak-anak?

Kalau dari label yang terlihat di segala penjuru memang iya. Di sana CHILDREN. Di situ CHILDREN.

Stan khusus untuk fiksi, young adult hanya satu-dua. Puluhan lainnya CHILDREN.

Kalau aku boleh mepresentasikan maka; menurutku kategori macam arsitek, sejarah itu hanya 1-10%. Tapi buku-buku anak bisa sampai 80-90%!

Dari mulai pengenalan huruf dan angka hingga buku pop-up serta kreatifitas anak-anak. Ujung ke ujung.

Namun aku ter-bahagia-kan oleh stan khusus art & design. Nemu buku yang rasanya aku banget. Berisi tentang all about design. Dari mulai pembahasan poster, iklan, logo hingga desainer ternama.

Pegang buku ini berasa mahasiswa DKV

Buku tersebut tebalnya diibaratkan dua buku Dan Brown ditumpuk jadi dua. Dan sepertinya lebih tebal lagi. Terbitan terbaru; 2018 membuat harga buky WOW. Sekitar Rp 450-an ribu. Jika saja diskon membuat nilainya miring hingga kurang dari 100 ribu sudah kubeli dia.

Tapi mengingat ongkos pulang; naksi online lagi, naik kapal dll aku urung beli. Tak cukup, pemirsah.

Aku hanya puas membaca di tempat dan tentu saja dengan teknik membaca cepat.

Badha ollena noro' Reading Challenge sampe ka ghan kelas Super Reader.

Stan art & design ini cukup sepi. Tak banyak orang mendatangi. Lucky me. Aku bisa membacanya dengan puas.

After a lot of description about logo, packaging etc, at the end of this book shows the people behind the design. Para desainer ternama dan studio keren dunia tersajikan di akhir bab.

Quotes yang paling aku ingat adalah, katanya, desain yang paling bagus adalah yang simple. Then they said, design is a clear visual passage.

Aku lupa siapa yang bilangnya -.-
Saking cepatnya baca :D

Let's Go Home!

Lega rasanya setelah tamat baca buku tersebut. Jujur, aku nggak tega menaruhnya kembali ke tempat semula.

Atuhlah itu bukunya cuma ada satu pula ~
Aku pun tak bisa memotretnya. Baterai sekarat dan dua orang temanku tak tahu sudah ke mana ~
But we shoul be apart :D

Troli kembali kudorong sambil memindai keberadaan teman-teman kesayangan. Tak menemukan lokasi mereka aku melipir sebetar ke stan Mizan.

Di dekat pintu masuk sebelah kanan barulah ada dari penerbit Mizan untuk versi Bahasa Indonesianya. Stan ini hanya 20% isi pameran yang bukunya in international language.

Di situlah dua orang temanku kembali.

It is time. Alarm to get ready to go home ~

Mereka membantuku merapikan buku-buku. Kami memilah mana buku yang jadi kubeli.

Bunch of love and thanks. Buat dua akhwatii fillah. Sudah mau ikut aku ke BBW 2018. Meskipun tak satu pun buku yang menarik hati mereka.

Hal yang paling berkesan dari BBW tahun ini adalah ukhuwah yang terdiri dari persaudaraan, kekompakan dan rencana perjalanan yang panjang.

Karena dari Jombang dan Surabaya kami akan melanjutkan petualangan ke Bangkalan dan Kota Gerbang Salam ♡

Anyway, aku akan tetap datang ke acara pameran selanjutnya. Berburu buku bagus yang mencerahkan pikiran. Sama siapa? Kita tunggu kejutan dari Allah nanti.

Surabaya BBW 2018 Looks Like

Big Bad Wolf, pameran buku impor terbesar kembali digelar di Surabaya tahun 2018 ini. Event yang aku tunggu-tunggu karena mendatangi acara BBW bisa membuatku kalap mata. Semua buku aku liatin.

Memang surga rasanya mendatangi pameran buku. Tempat berkumpulnya banyak ilmu.

How We Get There.

Berlokasi di tempat yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya; JX International Expo. Di jalan A. Yani yang bersebelahan dengan UINSA. Membuat kami tak perlu repot mencari.

Aku menuju lokasi BBW bersama dua orang teman dengan menaiki taksi online. Dari stasiun Wonokromo, hanya membayar Rp 13.000. Jika dibagi tiga orang, lumayan ~

Finally We Here!

Sampai di lokasi, bayar taksi dulu baru bisa masuk. Kasian Pak Sopir sudah mengantar tapi tidak dibayar :D

Di pintu masuk, sudah berjejer 2-3 orang sekuriti. Mereka bertugas mengecek tas, ransel dan barang bawaan pengunjung. Makanan dan minuman tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Harus diletakkan di luar ruangan.

Pastikan perut dalam keadaan kenyang dan badan sehat bugar. Ben kuat menghadapi kenyataan. Agar di dalam area BBW tidak banyak jajan. Jajan buku aja yang banyak. Dan biar kita bisa mengelilingi stan-stan impian berupa tumpukan buku berisi ilmu baru ♡

Itulah yang aku lakukan. Mendatangi stan buku satu per-satu. Sampai-sampai dua temanku lelah menunggu.

You never know how lifestyle being a bookworm :D

Iya, dua-tiga jam hunting buku nggak kerasa.

Kalau qiyamullail selama itu kuat, nggak? T.T

Qadarullah, panitia BBW menyiapkan stan makanan dan aneka window shopping untuk para pengunjung di lantai dua. Daripada menunggu diriku yang entah sampai kapan bisa ditungguin, dan buku-buku yang dijual di situ pun kebanyakan in English, they left me for a serve of food and bags.

Dua tas cantik khusus untuk travelling berhasil membius mereka berdua. Masya Allah harganya juga cantik. Beli satu dapat dua. Jadi bisa berdua. Lucky them.

Sementara aku terus menjelajahi lautan buku di antara ratusan manusia.

Our Experience

Masuk ke dalam arena pameran BBW 2018 aroma buku-buku baru langsung tercium. Binar para pemburu juga terlihat. Masya Allah atmosfer bookworm-nya membuatku semangat mengambil troli besar.

Padahal biasanya cuma ambil tempat yang berwarna merah itu. Hanya saja punggungku harus segera beristirahat dari beban ransel yang berat ~

Sambil mendorong troli, sejauh mata memandang aku hanya mendapati stan khusus anak-anak. Label CHILDREN terpampang besar dan sangat jelas.

Masak iya semuanya buku-buku anak-anak?

Kalau dari label yang terlihat di segala penjuru memang iya. Di sana CHILDREN. Di situ CHILDREN.

Stan khusus untuk fiksi, young adult hanya satu-dua. Puluhan lainnya CHILDREN.

Kalau aku boleh mepresentasikan maka; menurutku kategori macam arsitek, sejarah itu hanya 1-10%. Tapi buku-buku anak bisa sampai 80-90%!

Dari mulai pengenalan huruf dan angka hingga buku pop-up serta kreatifitas anak-anak. Ujung ke ujung.

Namun aku ter-bahagia-kan oleh stan khusus art & design. Nemu buku yang rasanya aku banget. Berisi tentang all about design. Dari mulai pembahasan poster, iklan, logo hingga desainer ternama.

Pegang buku ini berasa mahasiswa DKV

Buku tersebut tebalnya diibaratkan dua buku Dan Brown ditumpuk jadi dua. Dan sepertinya lebih tebal lagi. Terbitan terbaru; 2018 membuat harga buky WOW. Sekitar Rp 450-an ribu. Jika saja diskon membuat nilainya miring hingga kurang dari 100 ribu sudah kubeli dia.

Tapi mengingat ongkos pulang; naksi online lagi, naik kapal dll aku urung beli. Tak cukup, pemirsah.

Aku hanya puas membaca di tempat dan tentu saja dengan teknik membaca cepat.

Badha ollena noro' Reading Challenge sampe ka ghan kelas Super Reader.

Stan art & design ini cukup sepi. Tak banyak orang mendatangi. Lucky me. Aku bisa membacanya dengan puas.

After a lot of description about logo, packaging etc, at the end of this book shows the people behind the design. Para desainer ternama dan studio keren dunia tersajikan di akhir bab.

Quotes yang paling aku ingat adalah, katanya, desain yang paling bagus adalah yang simple. Then they said, design is a clear visual passage.

Aku lupa siapa yang bilangnya -.-
Saking cepatnya baca :D

Let's Go Home!

Lega rasanya setelah tamat baca buku tersebut. Jujur, aku nggak tega menaruhnya kembali ke tempat semula.

Atuhlah itu bukunya cuma ada satu pula ~
Aku pun tak bisa memotretnya. Baterai sekarat dan dua orang temanku tak tahu sudah ke mana ~
But we shoul be apart :D

Troli kembali kudorong sambil memindai keberadaan teman-teman kesayangan. Tak menemukan lokasi mereka aku melipir sebetar ke stan Mizan.

Di dekat pintu masuk sebelah kanan barulah ada dari penerbit Mizan untuk versi Bahasa Indonesianya. Stan ini hanya 20% isi pameran yang bukunya in international language.

Di situlah dua orang temanku kembali.

It is time. Alarm to get ready to go home ~

Mereka membantuku merapikan buku-buku. Kami memilah mana buku yang jadi kubeli.

Bunch of love and thanks. Buat dua akhwatii fillah. Sudah mau ikut aku ke BBW 2018. Meskipun tak satu pun buku yang menarik hati mereka.

Hal yang paling berkesan dari BBW tahun ini adalah ukhuwah yang terdiri dari persaudaraan, kekompakan dan rencana perjalanan yang panjang.

Karena dari Jombang dan Surabaya kami akan melanjutkan petualangan ke Bangkalan dan Kota Gerbang Salam ♡

Anyway, aku akan tetap datang ke acara pameran selanjutnya. Berburu buku bagus yang mencerahkan pikiran. Sama siapa? Kita tunggu kejutan dari Allah nanti.

Senin, 13 November 2017

Materi Tere Liye di Al-Amien Prenduan

"Aku Mengenal Tuhan karena Menulis," tema seminar Inspiratif Tere Liye tertanggal 6 November 2017 di Al-Amien Prenduan Sumenep Madura.

Iyaa ini telat nulisnya. Dejavu dan dapet hidayah karena nemu selembar kertasnya di dalam ransel berisi catatan materinya.

Ditulis ulang di blog ini dengan bahasaku dan beberapa celotehan. Sila ambil yang baik-baik ^^


BEING AN AUTHOR

"Penulis itu dikenal tulisannya bukan orangnya," jelas Bang Tere di permulaan acara. Logat beliau membuatku menebak-nebak. Tere Liye asalnya dari mana ya? Menilik dari karya-karyanya, kurasa dari Sumatera.

Mungkin saja, soalnya Bang Tere tak pernah menuliskan biodatanya di halaman terakhir karyanya. Karena katanya,

"Yang penting mengenal tulisannya tidak perlu mengenal penulisnya."
Seperti pepatah bahasa Arab yaa.

"Undzur maa qaala wa laa tandzur man qaala."

Perhatikan isi pembicaraannya. Bukan siapa yang berbicara. Tak peduli dia orang dari mana, asal materinya bagus, kita ambil saja. Tak peduli lebih muda dan berbeda suku bangsa misalnya.

Tere Leye di Al-Amien Prenduan

AUTHOR'S JOB

Menurut Bang Tere Liye, ada tiga hal yang harus dilakukan seorang penulis.

Satu. Harus terus berlatih.

Iyaa, jangan ngaku penulis kalau kamu menulisnya cuma sekali dan tidak pernah latihan. Kata Bunda Helvy, produser Duka Sedalam Cinta, menulis itu ibarat kungfu.

Kayak keren gitu lihat Jackie Chan main kungfu. Terus kepengen mahir kungfu juga. Nah, takkan engkau pandai berbela diri macam dia kecuali kamu latihan. Latihan dengan gigih dan keras. Sama seperti Om Jackie.

Kedua. Watch out how the other writes.

Lihat bagaimana orang lain menulis. Seperti Buya Hamka contohnya. Perhatikan style-nya. Bagaimana beliau memainkan diksi. Kalimatnya yang bak embun pagi di tangkai melati. Wangi, segar nan menyejukkan hati.
*Buka jendela lebar-lebar.

Dan Brown. Pelajari karangan-karangannya. Dari Angels and Demons sampai Origin. Pelajari bagaimana Paman Brown menguraikan detail bermain konflik dalam simbol-simbol.

Ketiga. Meet the author.

Mau jadi penulis harus ketemu penulis. Biar kita ketularan ilmunya. Belajar langsung dari sang mastah.

Ikutan seminar-seminar atau komunitas-komunitas literasi.

"Penyuka sandal jepit saja ada komunitasnya masakan menulis yang notabene memiliki kegiatan positif nggak ada." Itu yang dikatakan seorang pemateri di acara LPM Saint UTM setahun lalu.

Berkumpul dengan atmosfer alias lingkungan yang mendukung. Gabung di pecinta sastra macam Forum Lingkar Pena (FLP), atau di komunitas serupa.

FYI, FLP sudah tersebar di 34 wilayah Indonesia dan 4 cabang di luar negeri. Coba cek FLP Cabang di daerah terdekatmu. Yuk!

Karena berteman dengan penjual minyak wangi kita akan ketularangan wangi. Begitupula temenan sama penulis, biar kita ikutan pinter nulis.


THOUSAND WORDS

"Orang modern menulis seribu kata perhari," pesan Bang Tere di hadapan para santriwati yang memenuli Gedung Serba Guna TMaI.


Konsisten setiap hari.


Biar kelihatan kita ada usaha buat jadi penulis. Rajin latihan. Menurut para pakar setidaknya kita menghabiskan dua jam perhari agar mahir.

Aku biasanya set alarm. Nulis bentar deh satu jam saja. Tapi biasanya suka kebablasan. Saking keasyikan nulis. Itu trik sebenarnya kalau lagi males :D

Soalnya teko sudah penuh. Ide-ide di kepala berdesakan. Caper. Minta perhatian agar direalisasikan.

Cuma kadang yang susah mulainya ><


Action!
Start now!


Percaya deh kalau sudah dimulai jadinya rasanya gampaaaang banget. Nanti kelar satu tulisan akan mengharu biru, "Alhamdulillah nggak terasa sudah duaribu kata." Aku pernah. Haru sekali T.T


Infiruu khifaafaaw wa tsiqaalan..


Segeralah berangkat dalam keadaan ringan maupun berat hati. Dibisikin sama Allah dala surat cinta-Nya. Tertanda di At Taubah ayat 41.

Asababun Nuzulnya menerangkan untuk berangkat ke medan perang. Perang Tabuk tepatnya. Baik dalam kuat maupun lemah. Kaya atau miskin. Muda ataupun tua.

Menulis juga berperang lho. Berperang melawan pemikiran dan idealisme yang mencurigakan sekali.

"Kalimat pertama adalah yang paling mudah," terus kata Bang Tere berhentilah bertanya saya harus menulis apa. Menulislah apa yang merisaukanmu. Tulislah biar dunia tahu apa yang kamu pikirkan.

Segeralah mulai. Mau lagi rajin atau sedang malas. Mulailah menulis. Perbanyak latihan.

"Kebiasaan menyelesaikan akan membuat menulis lebih gampang lagi."


AUTHOR'S STICKY NOTES

Pertama. Perbanyak motivasi
Penting dicatat nih pesan Bang Tere.Bunda Asma Nadia bilangnya, "Find the reason why!"

Temukan alasan menulis. Mengapa kita harus menulis?

Sama halnya juga ketika kita malas bangun sholat Shubuh atau Tahajjud. Kenapa harus Qiyamul Lail? Kenapa kudu bangun malam-malam? Kan dingin..

Find the reason!

Mengapa menulis?

Karena inilah cara menebar kebaikan. Dakwah tak hanya ceramah. Bisa juga lewat tulisan. Kita menyebutnya dakwah bil qalam.

Because writing is healing. Menulis adalah salah satu terapi bagi jiwa. Tanya deh Bunda Sinta Yudisia, seorang psikolog yang juga ketua FLP periode kemarin.

Kedua. Topik bisa apa aja.

Bingung mau nulis apa? Tulis saja apa yang berkelindan di kepalamu. Listrik naik. Cabe mahal. Rupiah nggak stabil.

Mengkritik pemerintah juga bisa. Seperti yang Tere Liye katakan di sini.

Apa saja hatta, daun yang gugur ditiup sepoinya angin. Jadilah ia Daun yang Gugur Tak Pernah Membenci Angin.

Ketiga. Sertakan niat yang ikhlas.

Ini asal muasalnya. Remember why you start. Apa motivasimu saat menulis. Apapun itu usahakan niat yang ikhlas turut disertakan. Agar Allah beri pahala yang berlipat.

Tapi bukan semata-mata untuk kaya.

"Kalau hanya ingin kaya tidak akan ke mana-mana." Masih dengan logat uniknya Tere Liye melontarkan kalimatnya di hadapan peserta.

Kalau memang akhirnya iya. Semoga itu bonus dari Allah untuk kita.

Tere Liye Menulis.

RESEARCH

Sst, Tere Liye membocorkan rahasinya, "Riset itu mencari sebanyak-banyaknya inspirasi."

Bisa didapatkan dengan:


Banyak baca buku.

Di situlah ilmu bisa kita dapatkan. Tanpa perlu berlelah-lelah. Mudah. Lagipula baca buku itu keren. Antimainstream.

Against orang-orang bilang 'semuanya bisa digugling.' -.- Ah nggak juga. Ada hal-hal keren yang nggak kamu temukan di internet. Banyak.

Baca buku itu menyejukkan pandangan. Terbebas dari sinar ultra yang kita dapat dari screen hape atau komputer.

Baca buku sambil minum teh melati. Slurp.


Yes, tea time!


Biar makin konsisten boleh tuh ikutan Reading Challenge-nya FLP JATIM. Biar bacanya makin semangat. Kelasnha ada empat stages. Kelas R minimal baca 5 halaman perhari. Kelas MR, HR hingga SR yang wajib baca 55 halaman dalam sehari.

Ikutan ODOJ juga mantaapp, galz.


Karena buku adalah sumber ilmu.


Banyak baca, banyak tahu.
Banyak baca, banyak ilmu.

Halan-halan.

Inspirasi bisa didapatkan dari mana saja asal kita semangat nyarinya. Salah satunya dengan halan-halan.

Melakukan perjalananan. Melepas penat. Mencari ide baru. Biar fresh.

The above statements clarified that nggak ada tuh nggak mood karena kehilangan inspirasi. Lha inspirasi saja belum dicari kok dibilang hilang -.-

"Buku yang baik akan menerangi separuh dunia." Gitu aja dulu. Latihan-latihan! That's the fundamental.

***

Sebuah perumpaan dikisahkan Tere Liye dalam pemaparannya. Tentang Burung, Kura-kura dan Kelapa.

Setahun berlalu. Mereka berpisah.

Burung terbang tinggi mengelilingi dunia. Bertemu sebangsa unggas lainnya dan menjejaki tempat-tempat istemewa.

Kura-kura menyelami lautan. Berjumpa banyak ikan-ikan. Mengetahui berbagai daratan indah dan menyejukkan pandangan.

Sedangkan Kelapa, apa yang dilakukannya di atas pohon sana?

"Menulis itu ibarat menjatuhkan pohon kelapa dan direngkuh ombak."

Dengan itu ia bisa ke mana saja. Melanglang buana. Menjemput hikmah di setiap tempatnya.

Minggu, 12 November 2017

Tere Liye Hadirkan Jokowi dan Sri Mulyani di Al Amien Prenduan

Tidak perlu mendatangi istana negara atau gedung keuangan negara untuk bertemu Pak Jokowi dan Ibu Sri Mulyani. Dua orang nomor satu di Indonesia tersebut malah dapat dengan mudah datang ke rumah-rumah penduduk. Di Al-Amien Prenduan, Sumenep Madura novelis kondang, Tere Liye memberi triknya.

"Jika kalian jeli, Pak Jokowi dan Ibu Sri Mudah dapat kalian temukan di dalam novelku." Di gedung serba guna TMaI (Tarbiyatul Mu'allimien al Islamiyah) putri Tere Liye santai membocorkan rahasianya.

Tere Liye
Seperti pajak penulis yang masih hangat menjadi perbincangan di kalangan kuli tinta. Tere Liye mengaku malas berdebat dengan mereka. Apalagi menghadapi komentar tak berdasar bin nyinyir di dunia maya. Penulis best seller ini lebih memilih melawan mereka dengan karya.

Dalam Eliana misalnya. Salah satu novel serial anak-anak Mamak ini memperlihatkan sebuah fakta. Kenyataan yang difiksikan tentunya, tentang orang-orang kota yang datang melibas hutan dan mengeruk habis pasir sungai. Ia mengkritik asap Sumatera dan menghadapi orang-orang kota yang memasuki desa dengan paparan kritisnya dalam novel.

"Bacalah novel Negeri Para Bedebah, kalian akan menemukan Pak Presiden dan menteri keuangan," katanya menjawab sebuah pertanyaan peserta.

GESERNA yang dipenuhi ratusan peserta seminar inspiratif pun mengangguk-angguk.  Para peserta  duduk di barisan berdasarkan asalnya. Dari berbagai lembaga dalam naungan Al-Amien; MTA, TMaI, IDIA misalnya atau dari luar pondok. Terlihat wajah-wajah mereka sedang mencoba untuk memahami dan sibuk berkutat menulis catatan. Terlebih, bagi seluruh santri Al-Amien membawa buku ke mana-mana adalah kewajiban. Sanksi siap menanti jika berani melanggar. Maka tangan-tangan terampil menulis ilmu baru yang ditemui mereka di sana.

Kebanyakan diskusi di dalam gedung terlontar seputar kepenulisan. Meski begitu pertanyaan mereka tetap beragam.

Siapa penulis favorit Bang Tere? "Dee Lestari, Asma Nadia, J.K Rowling dan masih banyak lagi. Apa tips menulis yang baik? Tidak ada. Tulis saja." Ringkas dan sederhana jawaban Tere Liye.

Tidak ada. Begitu juga jawaban mamak Tere Liye saat ditanya bagaimana cara memasak selezat beliau. Karena novelis tersebut tak menemukan yang serupa di kota-kota manapun. Padahal enaknya minta ampun.

Peserta yang ingin bertanya dipersilahkan berbaris mengantre di depan mikrofon yang telah disediakan panitia. Antrian juga tertib karena panitia membagi tempat duduk berdasarkan nomor daftar dan darimana mereka berasal. Pemberian doorprize dilakukan panitia dengan adil.

Tidak hanya santri PP. Al-Amien Prenduan yang datang menghadiri seminar bertajuk "Aku Mengenal Tuhan karena Menulis," mahasiswa dan peserta dari luar pondok pun dibolehkan ikut serta. Namun terbatas kuota dan hanya untuk kaum wanita. Bahkan beberapa santri putri sempat kecewa karena tidak bisa mengikuti acara karena kehabisan kuota. Terlebih acara seminar bertepatan dengan hari Jumat (6/10). Hari libur pondok.

"Iya, Mbak. Kuota untuk Tahfidz hanya 100 orang," ucap santriwati MTA (Ma'had Tahfidz Al-Quran) kelas VII SMP.
Antrean yang mengular
Ada kejadian unik saat acara berlangsung. Tere Liye ikut mengacung ketika panitia menanyakan nama asli sang novelis dan arti dari nama penanya. Namun tetap saja panitia memilih seorang peserta yang siap membocorkan dua rahasia tersebut.

"Nama asli Bang Tere Liye, Darwis dan Tere Liye artinya 'untukmu," jawab seorang peserta mantap.

Untuk-Mu. Menulis untuk Tuhan. Untuk memperlihatkan kepedulian. Begitu kira-kira menurut Tere Liye hakikatnya menulis. Bahkan Tere Liye berharap dari pondok pesantren Al-Amien lahir penulis cerdas nan kritis.

Di akhir acara peserta dipersilahkan berbaris rapi dan maju satu-persatu ke panggung. Untuk mendapatkan tandatangan spesial sang penulis.

"Bersabarlah menghadapi Burlian dan jadilah berani seperti Eliana," pesannya sebelum membubuhi tanda tangan di novelku.

Jumat, 20 Oktober 2017

Mengapa Harus Membaca?

Mengapa Harus Membaca?
Iqra'! Risalah pertama yang diberikan Allah pada kekasih-Nya. Yang harus diemban Nabi Muhammad langsung langit melalui perantara Jibril. Perintah yang membuat sekujur tubuh Rasulullah dibanjiri keringat dingin.

"Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq.."

Didekapnya Nabi. Bersama bacaan Jibril, wahyu pertama masuk ke dalam rongga dada sang rasul. Terbata Rasulullah mengeja. Meski sebelumnya, seringkali Muhammad menggelengkan kepala, "Maa ana bi qari'." Aku tak dapat membaca, wahai Jibril.

"Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.."

Maka sepantasnya sebagai Muslim kita menataati dan melestarikan budaya membaca ini. Karena itulah titah yang mesti disegerakan pelaksanaannya.

Mengapa harus membaca? Karena membaca adalah perintah Tuhan Allah sang penguasa semesta.

Saat syahadat terikrar, segala sesuatu yang Allah hadd-kan untuk sekalian manusia harus kita taati. Ikuti. Sami'naa wa atha'na. Karena manusia adalah nafsullawwamah. Makhluk yang lemah lagi suka menyesali diri.

Maka dikasihlah kita, Al-Quran sebagai pedoman. Diutuslah Muhammad sebagai teladan yang dapat dijadikan panutan. Biar kita nggak salah jalan. Pada mau ke surga kan?

^^ Berasa lagi ngisi muhasabah, hihi. Maafkan yak the readers. Ini efek ikutan diklatnya temen-temen LDF ^^V

Membaca adalah beribadah. Karena dengan melakukan aktivitas tersebut, berarti kita taat sama Allah. Manut perintah. Wahyu pertama yang dibawa Jibril ke bumi. Iqra'!

"Banyak baca bukan banyak tanya." Kalimat yang sering dilontarkan Mbak Anik NH, awardee LPDP 2017. Soalnya banyak calon pendaftar beasiswa paling bergengsi seantero negeri ini suka tanya hal-hal yang something written in the book. Seperti kapan deadline beasiswa atau apa saja syarat-syarat LPDP. Apalagi, semuanya sudah tertera dan lengkap  tersedia di dalam booklet.

Makanya sering banget kejadian, kalo ada anggota yang baru gabung di grup elpedepeh suka disindir sama penghuni lama. Mandat utama mereka; mengkhatamkan booklet terlebih dahulu sebelum bertanya A, B sampai Z.

"Kalo nggak ada di booklet atau nggak ngerti maksudnya baru deh boleh tanya kita-kita." Setuju dong terkait hal ini. Baca seksama bukunya, baru boleh tanya.

Di bandara atau stasiun misalnya. Sudah terpampang jelas tulisan di papan-papan; belok kanan toilet, belok kiri pintu keluar. Kadang kita masih malas baca notice-nya. Malah sibuk cari satpam buat tanya-tanya.

Contohnya lagi pada postingan info lomba, kita seringkali menemukan hal yang sama. Syarat dan ketentuan sudah panitia tuliskan di sana. Tapi masih ada saja yang menanyakan, "Mbak, tema cerpennya apa ya?"

ZzzzzZzzzzzzzZzzz

"Kan malu bertanya sesat di jalan, Mbak." -.-

ZzzzzZzzzzzzzZzzz.

---

Membaca itu, SUMBER ILMU. Era seperti sekarang, ilmu bisa didapatkan dari buku atau status teman-teman kita di dunia maya. Gampang banget lah. Iya, asal kita mau membaca. Sampai habis. Tidak parsial.

Jangan mau jadi bebek! Bebek itu maksudnya follower.  Jadi maksudnya kita nggak boleh jadi bebek. Nggak boleh asal mengekor sesuatu. Asal ngikuuut aja. Orang-orang ke barat, kita ikut. Temen-temen ke timur asal hayuk -.-

Kalo mau ikut-ikutan sesuatu, kita kudu paham ilmunya gimana. Mencari tahu ilmunya bisa lewat baca buku.

Ada yang sudah baca buu Jangan jadi Bebek?  Dulu populer pas esempe. Baca deh. Bukunya bagus. Terbitan GIP (Gema Insani Press), tulisan O. Solihin.

Oke balik lagi tentang jangan jadi bebek. Kenapa? Soalnya bebek itu suka jadi follower. Berbaris saling mengikuti.

Sebagai Muslim kita dilarang taklid buta; following something you know nothing about. Nggak boleh asal ikut-ikutan.

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."
[Al-Isra': 36]

Yup. Segalanya akan dimintai pertanggungjawaban. Semua yang kita lakukan. Semuanya. Termasuk yang ikut-ikutan juga.

Kan kita bisa milih, mau ikut atau tidak.

Nah, membaca adalah sarana biar kita nggak gampang kebawa arus.

Tentu saja patokannya Al-Qur'an, As-Sunnah sama teladan-teladan dari Rasulullah.

Jadi kalau kita tahu ilmunya, kita punya pegangan. Prinsip. Misalnya kenapa nggak mau salaman sama non-mahram? Soalnya ditusuknya kepala dari besi panas lebih baik daripada salim dengan orang yang non-mahram. Dari mana tahunya? Dari baca buku yang membahas sebuah hadits yang diriwayatkan Thabrani.

Prok, prok, prok.

Apalagi amal tanpa ilmu adalah sia-sia. Maka pantas saja jika diibaratkan. Ulama' (orang yang banyak ilmu) yang tidur lebih baik daripada ahli ibadah yang menghabiskan waktunya untuk shalat. Why? Karena ulama' adalah ahli ilmu. Beliau lebih tahu caranya. Sedangkan boleh jadi orang yang shalat, ibadahnya nggak sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah. Misalnya.

---

Dengan ilmu kita bisa lebih dekat dengan Allah. Tentu saja, salah satu caranya adalah dengan membaca. As I mentioned before, buku adalah sumber ilmu.

Mengapa lebih dekat? Karena Allah meninggikan derajat orang beriman yang berilmu. Yes! Biar kita makin disayang sama Allah.

"Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
[Al-Mujadalah: 11]


Kenapa kudu banyak baca?

Banyak baca, banyak tahu. Banyak tahu, banyak ilmu. Banyak ilmu, banyak amal. Buat tabungan akhirat. Biar bisa ketemu sama Allah.

Aamiin, Insya Allah!

Ingin masuk surga? Harus! Malah sama Allah disuruh pilih Firdaus kalau mau. Surga tertinggi yang layak dicita-citakan.

Mungkin salah satu caranya dengan baca buku. Karena kita tak pernah tahu amal mana yang membawa kita ke surga.

Yuk banyak baca!

Catatan: Kalau kamu punya rekomendasi buku bagus, sini bisikin. Kita saling berbagi ilmu.

Selasa, 18 April 2017

Suka Duka FLP Reading Challenge


Yuhuu, hari ini FLP Reading Challenge sudah memiliki tiga kelas; dari yang pemula sampai the highest. Pastinya makin tinggi levelnya tantangan baca makin challenging. Ada apa aja?

Kalo dulu waktu pertama ikutan , di kelas perdana FLP Reading Challenge kita punya aturan; sehari kudu baca minimal 5 halaman. Mudah? Iya, tapi susah konsistennya. Sekali nggak baca bisa kena tanda. Kelas matarikulasi ini berlangsung selama sebulan. Dan kalo kamu sering bolos bisa tinggal kelas.

Alhamdulillah 1 Maret kemaren berhasil lolos dengan 3.035 halaman dari 8 buku yang berhasil dibaca. Jawara di kelas ini adalah Mbak Hiday. Yeay, selamat! Beliau ini keren lho bisa membaca 4.889 pages dalam sebulan. Dari 50 peserta yang mendaftar hanya 17 yang berhasil naik kelas. Tuuh kan keistiqamahan memang penting!

Middle Reader
17 peserta FLP Reading Challenge yang berhasil lolos reunian lagi deh di sini. Tentunya dengan rules yang lebih menantang.
Karena..
Bacaan para peserta haruslah sesuai tema.



Memburu Buku
Makin seru nih di kelas MR. Kita diharuskan pontang-panting memburu buku. Apalagi jika koleksi pribadi kita tidak ada yang berkaitan dengan tema hari itu. Bisa cari sampai perpus deh.


Tapi untungnya hari pertama temanya agama dan memang niatnya mau baca buku itu tapi nggak jadi mulu. Judulnya Dakwah Fardhiyah. Jadi aman lha di challenge pertama.

Selanjutnya sejarah! Panik, soalnya satu-satunya buku sejarah yang kupunya sudah kelar dibaca. Dan saatnya kita berburu!

Seluruh lemari kubuka satu persatu. Menyortir, mengambil buku berdebu yang lama tak tersentuh.Voila! Ternyata ada satu koleksi Abi di jaman baheula. Comot, cekrek, aplod!

Yup, kita harus memotret buku dan menyetornya di grup. Ada penyeleksian; mana yang boleh dan mana yang tidak. Dan buku Sejarah Madura Abi pun lolos, alhamdulillah!

Selanjutnya lanjut diaplod di instagram biar nggak mubadzir fotonya. Kuy, bisa diliat di @hafidzahcumlaude dengan tanda pagar #FLPReadingChallenge

Tema ketiga biografi. Yang ini save juga. Karena kebetulan bukunya ada. Jadi nggak perlu repot-repot berburu lagi. Ditambah ini buku sudah ada dalam list yang-akan-dibaca dalam waktu dekat. Perempuan-perempuan Pemicu Perang, judulnya.

Dan di tema keempat stok buku kosong lagi. Politik, euy. Susah nemunya. Padahal sudah begerilya ke seluruh sudut. Lemari-lemari wes dicek. Alternatif terakhir donlot ebook. Dapet yang menarik, skripsinya anak UIN. Hak Politik bagi Perempuan dalam Pemikiran Dr. Yusuf Qardhawi (2016) punya Arista Aprilia.

Tema terakhir di MR adalah buku karya pemenang nobel. I don't have  pemirsah. Ada se Haruki Murakami, tapi ternyata beliaunya nggak menang nobel. Di laptop ada sebenarnya. Banyak malah tapi nggak readingable rasanya.  Soalnya pada tebel, haha. Lagipula waktu itu nggak kepikiran buat ngubek-ngubek ebook di kompie. Jadilah donlot lagi untuk tema ini. Dapetnya Of  Mice and Men karya John Steinbeck.

Beratnya Tema
Ibarat orang sakit yang mau nggak mau harus minum obat. Nah kita para peserta kelas suka nggak suka kudu ikutan rules hari itu. Apalagi kalo sukanya baca novel, rasanya berat deh harus namatin buku nonfiksi high level gitu*nunjuk diri sendiri.


Pas baca buku Dakwah Fardhiyah, semingguan baru kelar. Rada tebel memang. Tapi miris, Inferno yang tebelnya 800-an bisa kelar dua hari nah ini kudu tujuh hari baru tamat.

Seharinya baca, pun tak bisa langsung ratusan. Bertahan di angka puluhan halaman setornya. Lagi-lagi karena bacaannya mulai berat.

Pas tema politik, nobel juga nggak sehari langsung selesai. Bertahan disetoran 30-50 halaman perharinya.
Minat bacanya kudu ditingkatin nih!


Nggak Ada Toleransi
Dulu mah di kelas pemula lewat lima menit dari jam enam masih dipersilahkan. Tapi menjadi anggota MR di FLP Reading Challenge kita diwajibkan untuk disiplin. Kalo telat semenit aje, udah kena silang tuh.


Sekalinya kena silang nggak bisa dihapus. Kalo sebelumnya masih boleh. Setelah sehari bolos terus besoknya apdet masih bisa itu tanda dimaafkan. Baru kalau tiga hari berturut-turut nggak ada kabar, alamat dah tinggal kelas. Itu, duluuu. Di kelas MR, sekali bolos ibarat nancep paku yang bekasnya tidak bisa dihilangkan. Sekali kena tanda, wes itu silang malang melintang di data bacaan kamu.


Tips Survive di Kelas
7 kali membolos tema alamat kamu nggak akan lulus jadi Middle Reader. Sehari minimal baca 15 halaman. Kalo bukunya nggak tamat, siap-siap aja deh. Kena tanda lainnya.


Haha, ini nih ngerinya di grup MR. Pas jalan seminggu, para anggota pada ngos-ngosan kayaknya. Di kelas pemula bacaannya sudah ribuan halaman, kita dapetnya masih ratusan. Iya, mereka mah bebas mau baca buku apa aja. Deuh, alibi ini mah.

Jadi apa tipsnya?

Pertama, cari buku setipis mungkin! Lagipula di peraturan nggak tertulis tentang minimalnya halaman buku. So you can do this. Kan penting tamat dulu bukunya.

Iya, terus kalo sudah tamat kamu boleh baca buku apa saja. Bebaaas. Kalo udah gitu, saatnya baca novel, haha. Lumayan kan nambah poin.

Minimal baca di kelas MR, 15 halaman. Batas akhir setoran, sebelum jam enam pagi setiap hari! Pastikan dulu kamu baca segitu terus apdet. Nggak papa, meskipun kepagian. Yang penting nggak kena tanda. Kalo katanya anak ODOJ, yang penting khalas sebelum beraktifitas.

Selain, mushaf usahakan ada buku yang belum tamat dibaca di dalam tas. Nah, ada banyak waktu luang bisa disempatkan untuk sekadar membaca buku sekian halaman. Misal nunggu dosen nggak dateng-dateng. Sambil nunggu jemputan, sambil nunggu antrean. Nah, banyak banget kan ruang kosongnya. Tinggal bagaimana kita mau mengisinya atau tidak.

Last Minutes before MR Clossed
Empat menit sebelum jam enam baru tersadarlah diri belum apdet. Buru-buru ambil hape sambil deg-degan. Lupa kena tanda berapa. Kalo telat bisa-bisa nggak naik kelas. Kuota hanya bersisa paket malam, lagi. Artinya setelah jam enam bakal nggak bisa apdet karena data otomatis tak bisa dipakai.


Perhitunganku yang lemot membuat menit-menit sebelum penutupan jadi tambah menegangkan. Bolak-balik liat jumlah halaman buku dan hape untuk nambah pages. Whoaa piye ki kemaren juga belum apdet sama sekali. Deuh, padahal kalau kemarennya apdet 15 halaman aja, sudah aman tuh. Tapi yaa itu, kuota tinggal yang paket malam.

Jam menunjukkan pukul 05:59 ketika data bacaan berhasil diapdet. Sujud syukur deh. Alhamdulillah.


Tidak seperti kelas pemula yang membuat 33 orang gugur, kelas MR kali ini ada lima orang yang harus tinggal kelas dan seorang lagi keluar. It means turun kelas. Dia kudu ngulang dari challenge dari awal lagi. Horor kan?

Dengan suka duka yang sudah tertulis di atas, sudah lulus ya alhamdulillah, hoho. Terharu bisa jadi bagian dari 11 orang yang lulus.

In this occasion I read 5044 pages of 18 books. Lumayan, ada peningkatan. Are you ready for the next challenge? Harus!
Nggak tahu nih kita bakal dapat kejutan apa nanti. Gosipnya bakal wew gitu. Whoaaa, semoga nggak serem-serem amat. And the most important thing, semoga semangat terus bacanya. Hoping that we survived and passed this HR class for 50 days later. Fighting!


☆☆☆☆☆
Update 10/12/17
FLP Reading Challenge sekarang sudah sampai kelas SR (Super Reader) dan sedang berjalan angkatan kedua.

Sabtu, 05 November 2016

Cowok Caper Cewek Baper di PERNIK 2016

Dimulai ketika aku sampai di GSC saat mentari mulai meninggi. Posisi, sang pemateri belum tiba di atas kursi yang sudah disediakan panitia di atas podium tinggi. A place higher than us. Begitulah kemudian bagaimana cerita ini bermula. Berkisah padamu tentang suatu masa.

Sebuah acara bertajuk Cowok Caper Cewek Baper, judul yang sama dengan buku yang beliau tulis; Burhan Shadiq. Penulis asli Solo yang mengikhlaskan diri berbagi ilmunya di Madura, tepatnya dalam rangka memeriahkan acara PERNIK 2016 yang digawangi KAMUS FT sebagai penyedia acara bedah buku.

Buku Cowok Caper Cewek Baper memang buku terbaru beliau. Pertama terbitnya September 2016. Sekitar dua bulan yang lalu. Masih fresh from the oven lha. Bikin banyak peserta yang tertarik. Judulnya provokator banget; a statement.

Menurut beliau buku ini lahir atas inspirasi yang Burhan Shadiq dapatkan saat menjadi pemateri dalam sebuah seminar. Memang ya, ide itu bisa datang dari mananya. A place you never imagine before.

Acara bedah buku ini sendiri terselenggara tadi pagi (05/11). Seperti yang sudah tak sebut sebelumnya, bedah buku Cowok Caper Cewek Baper adalah satu rangkaian dari Dies Natalies FT. Di KAMUS FT (Keluarga Muslim Fakultas Teknik) nama acaranya PERNIK (Pekan Raya Fakultas Teknik).

Memasuki jam 08:00 pembawa acara mulai membuka materi pagi itu dengan sedikit games. Eh, lumayan lho bagi yang beruntung tadi dapet qur’an yang menurut pihak sponsor adalah paling worth it.

Sekarang balik lagi about me how attenting the event. Setelah sampai di dalam aku langsung WA Mbak Wind. Mencari keberadaannya. Karena sudah janjian sebelumnya. Indeed, she said that she wears the same color on our cloth. Celingukan deh aku mencari sosok berkerudung coklat.

Sempat kebingungan juga yang mana yang bener. In case I’m not wearing my glasses dan pakai kerudung coklat nggak satu. Cuma curiga aja sama yang duduk paling depan. Bersanding dengan kudung warnah merah muda imut-imut. Then she is!

Si kudung pink-nya itu Dek Ani. Warnanya cantik, Dek An. That’s makes you more beautiful ^^

Therefore, kurangkumkan materi yang beliau sampaikan. Lumayan di buku catatanku ada empat halaman. Here we go!

Pematerinya alumni Sastra Inggris UNS*toss yang sama-sama Sasing. Oia, padahal kudunya try to ask and talking in English ya tadi  memulai dengan Ali Imran 32. A sentence that says, wa laisad dzakaru kal untsa. Beda cowok, beda cewe.

Dari sononya sudah nggak sama. Misal kalo cowok itu suka caper. Kayak ayam jantan kalo ketemu sama betina jalannya suka miring. Sayapnya dikepakkan mencari perhatian.

Sebaliknya cewek, sukanya baper. ditanyain sudah Tahajjud atau belum malah melted. Ini nih lagi, cowok-cowok sukanya modus. Hadeuh.. kalo suka mah halalin aja ga pake lama-lama*haha, kode keras yak? :D

Beda cowok, beda cewe. Kalo cowo sukanya ngegas, cewe sukanya ngerem. Tapi gas sama rem, nggak akan sebanding. Kebanyakan remnya kalah. Tadi pematerinya pinter banget deh bikin onomatopoeia. Suara deruman mobil, barang jatoh, pintu dibuka dll. Pikiranku pun mulai berimajinasi, keren kali ya jadi pemateri kelas dongeng?


Jodoh itu di tangan Allah, tapi selanjutnya terserah kita mau jemputnya gimana. Mau menjemput dengan ketaatan atau kemaksiatan? Akhwat kece pastinya mau yang taat-taat dong. Yang tipe-tipe ngikutin apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Quran dan apa yang Rasul Muhammad ajarkan.

Jomblo itu, ibarat puasa. Jadi ada waktunya nanti kita berbuka. Nah, kalo sudah deket-deket maghrib baru deh mulai nyiapin menunya. Mau es cendol atau kelapa muda yang seger. Tapi dua-duanya nyatanya nyegerin, haha.

Jomblo itu rentan dengan jebakan iblis. Makanya kudu hati-hati. Kudunya mah fullfill our life with the good things. Bukan malah dekat-dekat sama hal-hal yang Allah larang. Zina misalnya.

Di Alqur’an memang tak ada tentang larangan pacaran, tapi kalau naskah untuk tidak mendekatinya, ada! Tak ada zina yang mendadak. Salah satu pencetusnya adalah pacaran.

Ah, pokonya mah jangan deket-deket. Jangan sampai kena hati, gitu kata beliau. Berabe nanti jadinya. Tuuh..

Gimana biar terhindar? Buatlah ibadah kita senikmat mungkin. Shalat rasanya nikmat sambil ngebayangin Allah lagi merhatikan. Ngaji rasanya nikmat sambil berimajinasi indahnya surga dan geramnya neraka. Agar serasa Allah talks to us directly. Infaq biar rasanya nikmat. Ngeluarin duit bergambar Soekarno-Hatta tak berat. Cek bagaimana redaksi ayat dalam Al Mu’minun bermula.

Biar nikmat ya mulai step-to-step menjalankan ibadah sesuai dengan syariat. Mematuhi segala perintah dan tak dekat-dekat dengan larangan. Yang cewek, belajar berhijab, menutup aurat. Cause it’s our protection.

Tentang pacaran, umm, nggak usah dekat-dekat deh. Bicara tentang cinta topiknya tak hanya lawan jenis saja lho. Ada cinta sejati, cinta abadi. Yang akan kekal hingga kita mati nanti.

Apa itu? Cinta kepada Allah tentu saja. Pencipta kita, yang memberi nafas dan kehidupan hingga saat ini. Yuk ah, cintai Allah dengan sebenar-benar cinta. Mengabdikan diri kepadaNya. Dengan ilmu yang selalu dan terus kita cari. Karena dengan ilmu derajat kita sebagai manusia akan ditinggikan dibanding makhluk lainnya di sisi Allah.

Terkait ada cowok yang suka. Ada cowok yang tebar pesona alias caper nggak jelas. Tiba-tiba berani datang menyatakan, pilihannya ada dua menurut beliau; halalakan atau lepaskan. Keputusan di tanganmu. You should take one which is the best.

Kalo cuma ngomong doang mah nggak usah dimasukin hati. Apalagi nggak ada aksi. Jangan biarkan jiwamu berkelana menghabiskan masa. Katanya pemateri, if you love me you should marry me.

Jadi putuskan saja; lepaskan atau jadi halal! Nggak usah berharap pada lelaki yang tak jantan. Tak berani datangi orangtuamu meminang masa depan. Dah, lepaskan! Daripada nanti di-PHP-in, hayoo.

Udah.

Dan nggak usah dipikirin lagi.

Dan usah dibikin baper.

Let me tell you. Akhwat kece itu kudu kuat. Kudu tegas ambil keputusan. Jangan mau digantung nggak jelas begitu. Jadi inget katanya Mbak Aya pas di KSEIN FKI Al Azzam deh.

Nah, balik lagi seperti yang pemateri katakan tadi, filling your waiting moment with good things.

Memantaskan diri.

Memantaskan diri bukan biar kamu setara sama dia yang katanya shalih.

Big NO!

Memantaskan diri untuk Allah, that’s good! Jadi nanti biar Allah yang mutusin. Terserah Allah mau menjodohkan kita dengan siapa. Dan yakinlah pilihanNya pastilah yang terbaik. Do’a aja terus, rabbana hablana min azwaajina wa dzurriyaatina qurrata a’yun..

Adeumm, deh dengerin materi dari beliau. Ber jam-jam jadi nggak kerasa. Seru dan gokil nyampein materinya. Kalau menilik dari buku-bukunya yang sudah puluhan itu memang spesialisnya di remaja. Ngobatin luka hati muda-mudi yang sedang merana. Asyik deh materinya.

Dari awal sudah sangat setuju kalau beliau pematerinya. Apalagi tahun 2013 lalu sempat mau diundang tapi batal gegara beliaunya ada acara. Then this time they try their best to contact him again. Lucky us! di hari yang sudah disepakati bersama, beliaunya kosong. Akupun bersorak hore dan cuzz daftar.

Kenal beliau sejak tinggal di Solo. Waktu beli buku beliau yang berjudul Engkau Memang Cantik. Bukunya keren. Berlanjut di udara karena beliau sering mengisi di radio macam Roja’ ala Solo. Aku lupa apa nama tepatnya. Pernah ngisi di MH juga. Jadi semakin suka sama gaya-gaya dakwah beliau.

Thence, lucky me! Di akhir acara dapet doorprize buku. A book tells about Palestine. It’s my first through that I had about the theme; Palestine. Memang rejeki nggak akan ke mana yaa. Selanjutnya lembaga dakwah mana nih yang mau ngundang penulis kece ini?


Serunya BBW 2016 dan Agenda Tak Terencana

The Big Bad Wolf Book Event akhirnya terselenggara di Surabaya. Pameran buku internasional yang lokasinya tinggal loncat pulau. Ya, tak sampai sejam-lah kalo dari Bangkalan sini. Mendengar bahwa kebanyakan buku-buku yang dijual di sana adalah almost in English mekarlah itu telinga. Gue kudu dateng nih.

Sebagai anak Sastra Inggris, ini event paling keren. Iya dong. Biasanya temen-temen itu kalo cari buku berbahasa Inggris suka susah. Di  Gramedia pun hampir dipastikan tak ada. Sejauh ini kalau ke toko buku kalau ditanyain English version mesti stoknya kosong. Jadi ini momen langka yang tak boleh terlewatkan. Meski reportasenya terlambat yaa, huhu.

Makanya pas tau info ini alu langsung koar-koar ke temen-temen dan adik kelas di jurusan. Siapa tahu lagi butuh buat bahan skripsi. That’s the important thing.

 Acara The Big Bad Wolf Book Event sendiri hanya terlenggara sekitar 11 hari; 20-31 Oktober 2016.  Nggak lama. Jadi kudu curi-curi agenda di sela-sela kuliah. Di UTM tanggal segitu pas banget sama UTS kampus. Nah, temen yang biasanya diajak halan-halan juga lagi sibuk PPL. Huhu, nasib bakal not attenting that event.

Nyari agendanya nggak pernah pas. Senin-Jum’at dianya sibuk PPL. Tanggal 27-nya, Jum’at ada acara FLP. Ahh, jadi kapan dong? Maunya sih Rabunya. Sudah diniatin jauh-jauh sebelumnya tapi Dek Aninya belum kelar ujian PPL. Tuh jadi nyebut merk deh, haha.

Cuma tinggal empat hari; 28-31. Entahlah, bisa pergi atau tidak. Sedang tanggal 28-30 ada acara Al-Azzam. Huhu, hanya bisa berdo’a.

Saking pengennya sampai kebawa mimpi. Malam Jum’atnya, aku mimpi pergi ke sana bareng temen SMA. Girang banget pas nyampe di sana. Aku kelilingi semua tuh lantai 1 JX hall. Tapi yang ada Bahasa Indonesia semua bukunya. Tak pantang mundur, aku naik lagi ke level berikutnya. Di lantai dua apa yang aku harapkan juga begitu. Dengan ekslataor yang modelnya mirip di film Harry Potter aku pun naik ke lantai tiga.

Buku-buku yang dijual di lantai tiga dan empat pun sama; edisi Bahasa Indonesia. Tak patah semangat aku pun menaiki tangga terakhir.  Ya, dalam mimpi tiba-tiba eskalatornya menghilang. Belum masuk ke dalam, aku dicegah para petugas. Katanya BBW sudah berakhir, karena waktu menunjukkan jam 23:00. Disuruhnya kembali besok pagi. Aku hanya bisa melangkah gontai, naik ke rooftop menikmati malam hingga sunrise.

"Kamu Shof, ada-ada aja. Sampe terbawa mimpi gitu,” komentar seorang teman kos kala sarapan pagi esok. Mimpi yang aneh sepertinya, but in fact aku memang pengen banget ke sana. Secara bagi book addict, acara book fair adalah angin segar sepoi-sepoi yang bisa membuat hati berbunga-bunga. Apa sih, haha.

Sabtu pagi, saat aku sedang berada di acara diklat FKI Al-Azzam. Dek Ani tiba-tiba datang pagi-pagi sekali. Jam belum menunjukkan waktu pukul enam. Ia datang mengantar Mbak Yuli. “Ayo, Mbak sellak siang nanti.”

Yippie, akhirnya kita jadi pergi. Walaupun hanya berdua dengan Dek Ani. Maunya sih Mbak Yul sama Mbak Dhil juga ikutan, tapi ternyata ada halangan. Aral dan duri yang melintang di jalan kehidupan. Uhuk!

Berangkatnya agak horor. Kita melaju melewati jalur timur kampus UTM. Jalan pintas menuju jembatan Suramadu. Soalnya sepi banget. Setiap terdengar bunyi motor mataku kemudian awas. Takutnya ada begal. Brum, brum..

Hati tak henti berkomat-kamit. Ya Allah, lindungi. Lindungi..

Alhamdulillah nothing happen.

“Mbak aku rodo’ lupa jalannya,” begitu kira-kira Suara Dek Ani sesampai kita di Kota Pahlawan.

Yo wes, Dek bismillah ae,” itu jawabanku yang diamini Dek Ani dengan motor yang terus melaju. Dan akhirnya ikhtiar dengan gugel mepan. Belok kanan, belok kiri terus kelewat jalur. Sambil sesekali berhenti bertanya  dengan orang-orang di jalan. Mulai dari pedangang asongan, satpam sebuah kampus ternama, sampai Bapak yang melamun di atas trotoar.

Ternyata Bapaknya pinter Bahasa Madura lho. Itu terakhir kesasar, lepas itu sampailah kita ke tempat tujuan.

Whoa, atmosfernya langsung terasa. Aroma-aroma langsung terekam dalam indera penciumku. Bergegas kuambil troli dan bergerak ke sana ke mari. Siap berkeliling menemukan harta karun berupa buku-buku keren.

Stan yang pertama aku kunjungi, genre literature  tentunya. Tapi sayangnya nggak ada yang minat. Soalnya ada banyak bahan pinjeman dari source skripsi temen-temen.


“Mbak, taro aja semua buku yang Mbak suka. Katanya Mbak Zie pilih-pilihnya nanti,” dikasi nasehat seperti itu akunya manut. Nemu buku kece dikit, masuklah ia ke dalam troli.


Sampe-sampe waktu melenggang di tumpukan arsitektur dan desain orang-orang pada ngeliatin. Gila! Meskipun akhwat, tapi interested in art. Keren banget*lupakan hanya imajinasi yang bernarasi, lol. Ada juga yang abis ngeliatin aku naro buku arsitek kece dia ambil juga. Padahal nggak seratus persen jadi kubeli.

Sebelumnya ketemu sama buku masak yang bikin ngiler karena gambar-gabarnya yang emejing. Tapi ngalor-ngidul sama arsitek bikin gue tambah melted.

Paling lama ngadem memang di situ. Di sekitaran arsitek, fotografi dan desain. Soalnya harganya mehong-mehong. Sayang kalau lewatkan. Jadi hanya bisa kunikmati di sana. Paling mahal ada harga setengah juta. Bukunya juga keren sih. Lebih tebal dari bantal. Gede dan full-color.

Ada yang murah. Full-color juga. Isinya kece badai, tapi pas aku mencoba baca teksnya, ternyata bahasa German. Oh, My! Berkali-kali ketemu yang begituan, bikin hati meringis.

Puas deh rasanya berkeliling. Kebanyakan English fiction di sana. Mau novelnya Stephen Hawking, ada! Kepengen Robert Gailbraith juga ada! Malah ya, ada genre novelnya dewe-dewe. romance, adventure dll. Mau cari buku teori susah, kebanyakan fiksi.


Ya sudahlah meski tak menemukan buku-buku non-fiksi incaran aku bersyukur bisa mengelilingi seantero tumpukan buku.

Sambil mendorong troli aku terus menaruh buku-buku kece di sana. Ransel yang awalnya kugendong juga ikutan istirahat bersama buku-buku. Untung bebukuannya ramah-ramah. Nggak rasis. Meskipun beda jenis barang masih diizinkan berada di dalam troli nggak ditendang ke luar, haha.

Selepas mondar-mandir di seluruh genre akhirnya aku dapet buku fotografi murah. Cuma 70.000 dan itu full color, dan buku idaman bangetlah. Lengkap tentang berbagai jenis teknik fotografi. Nggak nyesel deh beli itu.

Buku impor begitu aslinya nggak dapet segitu. Beli Buku Cinder aslinya 150.000, di sana bisa 40 ribuan. Apa tak makin semangat aku pergi*say it in Madurese dailect :p

Di The Big Bad Wolf Book Event ini diskonnya memang gila-gilaan; 60-80%! Makanya jangan heran kalau yang dateng bejibun. Dek Nufus aja sampe berkali-kali datengnya. Ya kan, Dek?*kedip-kedip :D

Tak dapat buku arsitek in English version karena harganya masya Allah, alhamdulillah di stan Mizan ada. Nah, stan Mizan satu-satunya buku yang cetak in Bahasa. Nggak kaget kalau stannya paling ramai. Tentang desain taman isinya. Pas banget lagi pengen bikin di selatannya rumah.

Selain kedua buku jagoan tadi beli juga buku misteri, buku anak buat dedek-dedek dan travelling. Pastinya banyak buku yang mau dibeli *honestly* tapi mengingat kantong mahasiswa yang tak selalu mujur. Jadilah total harga buku  yang kubeli, 175.000. Pas dengan budget yang kutargetkan. Alhamdulillah, yaa.

Dengan uang segitu, bisa dapet diskon setengah harga, tapi kudu beli tengah malem. Aku mah apa, siapa yang bisa nganterin jam segitu. Si were wolf sudah tak tayang di tipi lagi. Eh bukan si Mumun? :D

Banyak potongan harga deh. Kemaren aja pas detik-detik terakhir bisa dapet tambahan lima buku kalau beli 20 buku. Kalo perginya rame-rame bisa tuh digabungin, haha. Gila-gilaan pokoknya.

Kelar bayar di kasir kita masuk lagi main pota-poti di photo booth. Buku-bukunya dititipin. Ada tempat penyimpanan di depan, dekat pintu keluar. Konsep photo booth-nya unik. Kita bisa jungkir balik gitu. Haha. Sayang kalau dilewatin. Apalagi baterai kamera hape masih memadai untuk fota-foti. Cuzz.

Nggak lama, abis dari The Big Bad Wolf Book Event di JX International Surabaya kita mampir sholat di Masjid UINSA karena memang deket banget. Mengisi perut dengan pentol kotak lalu dengan gugel mep kita kembali pulang dan sedikit nyasar. Lagi! Untung si mep sudah apdet jadi kalo nyasar sedikit langsung otomatis dikembalikan ke jalan ihtidas shiraathal mustaqim.


Hmm, capek sih iya. Tapi sensasinya itu lho yang bikin beda. Dari mulai hunting; dari ujung-ke ujung. Dorong troli penuh buku. Berjubel di antara lautan manusia. Soalnya berangkatnya memang pas wiken. pas bukunya berhasil dibeli. Pas ngerobek plastiknya dan aroma buku barunya.

Yah, ada sensasi lain deh pokonya. semoga bisa berkunjung di the next BWW. Tentunya dengan persiapan yang lebiih matang. Kudu gugling buku keren sebelumnya. Eh, sebelumnya lagi nungguin juga nih kapan Islamic Book fair di Surabaya. Boleh tanya sama rumput yang bergoyang nggak? Haha.