Tampilkan postingan dengan label Eliana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eliana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 November 2017

Eliana dan Kekuatan Orang Kota

Eliana dan Kekuatan Orang Kota
Petualangan si Anak Sulung
Tere Liye menghadirkan petualangan sesungguhnya dalam Eliana. Bukan fiksi fantasi semacam Geng Raib, Ali dan Seli.

Dialah Eliana sang tokoh utama. Anak sulung Mamak.

Eli, anak SD kelas lima bersama teman-temannya yang dinamai geng Empat Buntal. Empat Buntal yang beraksi dengan cerdas. Menerobos hutan, melompat di dalamnya sungai berpenghuni buaya. Anak-anak desa dari pedalaman Sumatera melawan orang kota.

Ya! Petualangan Eliana, adalah tentang keheroikan anak-anak yang ingin menjaga alam dari keserakahan orang kota.

Orang kota datang mengeruk pasir di sungai. Membuat bising desa. Membuat ikan-ikan pergi.

Komentarku
Huuu, aku berseru kegirangan. Marhotap datang! Aku tahu dia sang penyelamatnya. Mungkin kisahnya akan mirip dengan Mamak dan Bapak waktu muda. Kukira awalnya begitu.


Ssstt, dalam kisah ini diceritakan asal muasal kisah mereka. Mula saat Bapak bertemu Mamak pada sebuah kejadian di kereta. Kalau nak tahu, bacalah.

Seru dan tentu saja mengharu biru khas Tere Liye.

Aku suka penokohan Eliana. Dia berani sekali melawan orang kota. Tak peduli itu bupati, konglomerat kaya raya, maka kebenaran tetap harus ditegakkan. Dan itu cita-cita Eli. Menjadi pembela kebenaran.

Pekerjaan apakah itu? Di bab-bab terakhir Eliana menemukan keinginan masa depannya.

The Connecting Dots
Tentu saja Eliana juga dimeriahkan oleh adik-adiknya. Cerita tak hanya bekerja seorangan. Sepi dong jadinya. Pukat, Burlian dan Amelia hadir melengkapi cerita.


Ada Pak Bin, Nek Kiba dan yang lain juga lho. Karena manusia makhluk sosial ^^

Tingkah laku anak-anak Mamak tersebut mengingatkanku pada Faza, sepupuku yang umurnya sekitar 9 tahun. Berani mengendarai motor naik turun bukit berbatu. Naik-naik pohon, mobil..

Faza sangat antusias dan berbinar kesenengan melewati jembatan Suramadu untuk pertama kalinya. Sama dengan salah satu adegan, ketika teman Eli naik kereta.

Kalung istimewa Marhotap juga membuatku serasa dejavu. Dengan kalung Delisa. Adegan yang sama-sama ditampilkan di akhir cerita.

The Minus
Kekurangannya apa yaa. Aku hanya menemukan satu typo. Coba cek di halaman 372.


Lainnya, hmmm..

Karena aku sudah membaca Amelia, Burlian dan Pukat, jadi aku bisa menebak-nebak. Haru yang kurasakan tak terlalu haru seperti dalam novel Burlian. Serial anak-anak Mamak yang kubaca pertama kali.

Tapi tetep aja sih, ada adegan yang mewek.

Konflik Terselubung
Konflik di Eliana banyak. Banyak. Namanya juga novel. Kalau satu, nanti jadinya cerpen.


Kasus bando istimewa pemberian Wak Yati. Perahu otok-otok Burlian dan Pukat. Tapi detail-sangatnya ada di serial Pukat. Tinta pena Burlian yang cepat habis. Selain melawan orang kota itu sebagian konfliknya.

Konflik terselubung di sini maksudku ada karya yang mengkritisi keadaan sekitar.

Lawan dengan karya. Berhenti nyinyir dan debat di Fesbuk. Gitu kata Bang Tere pas seminar kemarin. Menghadirkan opini dalam bentuk karya sastra adalah something impressive.

Eliana, menampilkan kasus terselebung terjadi di Indonesia. Kasus nenek pencuri kayu bakar, bisnis properti yang suka mengeruk pasir di sungai, perusahaan kelapa sawit yang menebang hutan sembarangan.

Segenggam Berlian
Dari Eliana aku belajar tentang detail. Seorang bapak yang asyik membaca koran di beranda mugkin hanya selingan belaka. Tapi hobi bapak Amelia berpengaruh besar pada cita Eliana di masa depan.


Eits, ternyata aku salah menyebut nama. Maksudku Eliana, bukan Amelia. Itulah mengapa dulu tahun lalu aku salah mengambil buku. Maunya beli cerita si sulung, eh malah si bungsu.

Hikmah lainnya kutulis di quotes ^^

Kamis, 26 Oktober 2017

Kebun Kekata dari Eliana [Quote]



Kutulis kekata berharga, quote istimewa yang kudapat dari novel Eliana. Si sulung dari tiga anak lainnya dalam Pukat, Burlian dan Amelia. Tokoh rekaan dalam Serial Anak-anak Mamak karangan Tere Liye.

Karena sayang rasanya jika hikmah yang bak mutiara itu, kunikmati sendiri. Jadi menuliskannya di sini, adalah caraku berbagi; kebun kekata yang berisi cantiknya diksi, kejadian menarik atau petikan pelajaran yang dapat kita ambilrenungi.

Dari Eliana, Nek Kiba, Marhotap dan tokoh-tokoh lainnya dikisahkan untuk melengkapi cerita.

Karena mutiara hikmah adalah bebungaan dalam kebun kekataku.

***

Aku tertawa melihat Burlian dan Pukat terbirit-birit ke dapur. Membuat berguguran rasa sebalku gara-gara kejadian di kota tadi.

Selebaran tidak membuatnya celaka. Ketakutanlah yang membuatnya terjatuh.

Nah, Burlian, Pukat, Amel bukankah Bapak pernah berkali-kali bilang, jangan pernah takut pada sesuatu yang tidak sejati. Kalian keliru jika takut pada hal-hal remeh seperti itu. Melainkan takutlah berbuat jahat, mengambil hak orang lain. Takutlah menganiaya, berbohong, mencuri dan merendahkan harga diri. Takutlah atas hal-hal yang seperti itu, sesuatu yang lebih sejati. Maka kalian tidak akan pernah takut dengan apapun lagi.

Nasib buruk, nasib baik, mati, kecelakaan, hadiah, rezeki, hanya Allah yang mengatur. Tidak ada satupun makhluk yang berhak ikut campur. Buka presiden, bukan orang tua, bukan atasan, bukan tetangga, bukan teman, dan jelas bukan karena selembar kertas.

Dalam kehidulan kita selalu ada momen, kejadian, atau peristiwa hebat yang bisa menjadikan dua orang musuh menjadi sahabat baik.

Kalau begitu, bantuan dari luar tidak bisa diharapkan lagi. Ini masalah kita, maka kitalah yang akan menolongnya sendiri.

Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik.

Barang hilang, sungguh aneh perilakunya. Semakin dicari semakin tidak ketemu. Saat dilupakan, diikhlaskan, malah muncul sendiri di depan mata.

Tim murid laki-laki memang lebih bertenaga, lebih cepat dan lebih kuat. Kami memang kalah cepat, kalah kuat. Tapi kami lebih gesit, lebih lincah, berusaha melewati garis pertahanan mereka saat penjaganya lengah atau terprovokasi seru-seruan.

Oi, itulah hakikat sejatinya adzan, membuat terhenti seluruh kegiatan. Yang sedang masak, berhenti menggoreng. Yang sedang bekerja membangun rumah, berhenti memasang batu bata. Yang sedang mencangkul kopi, berhenti mencangkul.

Bahkan adzan ini memancing kita semua datang ke masjid kampung. Ada yang memang hendak sholat maghrib. Ada yang ingin tahu. Ada yang sekadar menonton. Terserah apa niatannya, tapi adzan ini lebih kencang dari siapapum selama puluhan tahun aku tinggal di kampung.

Orang kota bilang hanya mengambil hutan yang terlantar, padang rumput gersang, lahan-lahan kritis. Itu dusta, alat-alat berat justru dikirimkan ke hutan-hutan terbaik. Penduduk mati-matian menolak. Percuma, kekuatan orang kota jauh lebih besar dibanding yang mereka bisa bayangkan.

Herbarium adalah bagian tanaman yang diawetkan. Seperti daun yang dikeringkan, menyisakan kelopak, benang sari dan mahkota kering. Atau batang, buah, akar, apa saja dari bagian tanaman yang bisa diawetkan.

Aku tidak tahu di mana Marhotap sekarang. Tetapi setidaknya aku tahu, kita pernah bersama-sama dalam satu pemahaman. Sama-sama membenci tambang pasir itu.

Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada suatu musim di antara musim-musim. Saat ketika alam memberikan perlawanannya sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, membalas sendiri para perusaknya.

Kami tidak banyak bicara melintasi jalan setapak padang rumput. Deru napas kami yang bicara.

Bumi kita hanya satu. Milik kita bersama, yang kita pinjam dari anak-cucu kita.

Urusan ini bukan sekadar bilang 'tidak', Eli. Kita harus pintar, tahan banting dan punya daya tahan menghadapi mereka. Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan kebijakan leluhur kampung bertahan ratusan tahun.

***

That's all the quotes from Eliana I can give to you. Hopefully it inspires you in all of things. Review bukunya, Insya Allah besok. See ya!