Selasa, 08 Oktober 2024

MELAHAP HIDANGAN KIMCHI XAVIERA

KIMCHI CONFESSION INSIGHT 
Comparison is endless. Sekeras apapun kau berusaha, terkadang privilese yang dimiliki seseorang melebihi hasil yang kemudian kamu dapat.

Namun, kita tak pernah tahu. Perjuangan yang telah ia mulai dari kecil. Didikan orang tua yang penuh air mata. Ataupun belajar diam-diam penuh lelah kretek-kretek di punggung.

Hard learning! Work hard, pray hard, play hard. Seriuslah dalam belajar. Karena ilmu apapun yang sedang kita pelajari akan sangat membantu di masa depan. Education in the most impotance in this world. Learning is a must. Terlebih kita sebagai umat muslim.

Belajar menjadi kewajiban kita. Bahkan hal pertama yang wajib kita lakukan sebelum beribadah. 

Kita takkan tahu caranya memakai kerudung yang baik dan benar kecuali kita belajar. Kita tidak akan bisa shalat mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jika kita tidak belajar.


CERITA SEPIRING KIMCHI
Xaviera, pelajar Indonesia yang bersekolah di Korea. Perempuan dengan segudang prestasi, namun sebagai minoritas muslim seringkali menumpahkan segala resah di hati ke sepiring kimchi.

Ia bercerita bagaimana kerasnya belajar di sana. Belajar malam yang wajib dilakoni saban hingga pukul 10:00, 12:00 malam atau bahkan 02:00 dini hari. 

Saking kerasnya belajar, ada pelajar-pelajar yang diam-diam belajar di ruang kamar mandi. Dikarenakan lampu ruang lainnya otomatis mati dan wajib tidur. Namun mereka tahu, jika tidak belajar keras mereka tidak akan memiliki masa depan.

Viera menghadapi, melalui tatapan-tatapan heran orang-orang tentang hijab dan melalui shalat serta berbuka puasa sendirian. Hingga akhirnya ia jadikan topik dalam sebuah lomba speech.

MENJADI BINTANG
Menurutku buku ini masih menyimpan banyak hal yang belum diceritakan. Aku tahu Xaviera menghadapi lebih banyak tantangan, bekerja lebih keras. Kalau tidak ia tidak akan menjadi terbaik dalam banyak hal; riset di sekolah, ekskul dan nilainya yang selalu the best.


OVERALL
Aku suka cara Xaviera menuliskan autobiografinya berupa perjalanan hidup yang mudah dicerna. Bahkan anak-anak SMP bisa membacanya. Mungkin bagi yang dewasa kita akan mengulik banyak hal seperti parenting orang tua, cara Viera belajar dan juga tingkat endurance-nya seorang perempuan muslim. I think there are still many things to explore.

Bersyukur kita di era media sosial ini kita bisa menggali hal-hal tersebut di berbagai macam podcast. Terlebih setelah Xaviera menjadi naik daun lewat kompetisi Class of Champion.

COVER DAN LAYOUT
Cara penyajian buku ini juga keren. Sampul bukunya dihidangkan langsung oleh Sang Kakak. Penata letaknya, Dinda Djohani juga apik menyusun buku ini. Menaruh foto-foto dan corat-coret lucu di awal dan akhir buku membuat buku ini tidak membosankan dan dapat diselesaikan dalam sekali duduk. Auto follow akun Instagram-nya :D

______________
Judul: Kimchi Confession
Penulis: Xaviera Putri
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: Cetakan 1 2023
Jumlah Halaman: 163

Jumat, 30 November 2018

Inferno: An Escaping from Florence

Robert Langdon terbangun di Florence dalam keadaan ammesia. Tapi ia ingat siapa dirinya. Namun tentang dua hari sebelumnya, sama sekali ia lupa. Belum ingat apa yang terjadi, seseorang berpakaian hitam memaksa masuk ke dalam ruangannya dengan membombardir senjata dan mengenai salah seorang dokter. Dr. Marconi langsung wafat di tempat.

Bersama Sienna Brooks, dokter yang berasal dari Inggris ia melarikan diri.

Inferno, novel bikinan Dan Brown, seri Robert Langdon yang ketiga setelah Angels and Demons, The Davinci Code dan The Lost Symbol, tampil membawa isu overpopulasi; jumlah manusia yang kian hari meningkat dan membuat bumi sesak.

Dan inilah yang disebut krisis moral oleh Bertrand Zobrist, milyader dermawan pencinta berat Dante Alghieri. Penyair yang meramaikan novel ini dengan teka-teki puisinya.

The are places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.

24 Jam yang Seru
Apa yang terjadi dalam 24 jam? Bangun pagi lalu tidur lagi di malam hari? Tidak dengan Inferno. Dan Brown mengisahkan petualangan Robert Langdon dalam waktu singkat; sehari-semalam.

Dini hari ia terbangun di Florence untuk kemudian kabur dari kejaran WHO bersama Sienna Brooks. Ditemani halusinasi-halusinasi yang mendekam berat di kepala Langdon. Berbagai teka-teki yang harus ia pecahkan.

Travelling ala Inferno
Kalau di Indonesia kita punya Kang Abik. Novelis sangat detail betul akan setting tempat. Saat membaca novel beliau serasa kita sedang menjelajahi lokasi cerita tersebut.

Nah, Brown juga begitu. Jalan-jalannya pakai konflik lagi. Sedang meneleti di museum tiba-tiba dikejar polisi. Melewati taman yang terkenal itu lalu sampai Turki juga!

Iya, di Inferno kita akan bertemu Haghia Sophia dan destinasi wisata lainnya.

Belajar Diksi

The shadow began speaking now, its words muffled, whispering across the water withan eerily poetic rhythm.

Membaca dalam versi Inggrisnya membuat kita tahu bagaimana logat Brown sebenarnya. Rasanya beda karena kita langsung berhadapan dengan diksi yang dipilih pengarangnya. Real.

Bertemu Allah

Di Chapter 84 kita akan dibuat tertegun. Kita akan bertemu dengan kalimat yang bisa membuat kita masuk surga. Kalimat yang jika ditimbang bisa memberatkan. Penuh amal kita dengan kebaikan.

Aku jadi berpikir mungkin Brown muallaf? Hihi, kita doakan saja.

Novel-novel Brown kan biasanya mengangkat tentang banyak agama Seperti di Inforno ini kita akan ketemu orang-orang bercadar, masjid dan tentu saja orang Islam.

Jumat, 23 November 2018

Kepada Buya Hamka Mari Belajar Berani [Falsafah Hidup]

Falsafah Hidup karya Buya Hamka mengajarkan berbagai hal tentang hidup termasuk berani. Syaja'ah istilah kerennya. Ini penting sekali untuk kita maju.

Ma' lè tak tako'an..

Pertama kita harus semangat. Nyala yang berkobar haruslah ada di dalam dada. Kemauan yang dalam diri. Agar sikap berani bisa terealisasi.

Hal tersebut mempengaruhi hati dan jiwa. Jikalau kita sudah memiliki niat yang kuat maka mudah untuk melakukan.

Dengan sikap ini kita bisa memperbaiki mutu diri (Hamka, 2017: 261). Apalagi jika keberanian kita berlandaskan Al Qur'an. Pedoman dan tentu saja teladan dari Rasulullah.

Menurutmu apa yang paling membuat berani?

Ialah kebenaran yang menimbulkan kita berani (Hamka, 2017: 273).

Karena tahu Rasulullah menganjurkan. Karena paham Allah yang memerintah.

Maka seseorang itupun maju dengan sikap beraninya.

Meski begitu, sikap berani bukan ditujukan untuk ambil muka. Karena jika begitu riya namanya. Dan tidaklah masuk surga orang memiliki sombong sebagai sifatnya.

Falsafah Hidup Buya Hamka penuh dengan nasehat. Tak hanya tentang berani tetapi segala persoalan.

Tentang orang meninggal. Bid'ah dan larangan upacara kematian. Tentang tetangga. Tentang cinta. Pun tentang keadilan yang mesti ditegakkan.

Membaca buku ini serasa mendengar petuah seorang Tuan Guru. Seorang kakek yang penuh hikmah.

Bahasanya memang berbeda. Aksennya melayu. Dan karena rentang zaman yang lumayan; buku ini ditulis ketika Belanda masih berkeliaran di Indonesia dan sekarang telah merdeka.

Membacanya pun tak bisa sekali lahap macam menghabiskan novel. Harus dicerna maksudnya.

Untuk memksimalkan membaca ala speep reading pun tak bisa (beda kasus kalau kalian sudah expert).

Agama adalah nasehat.

Falsafah Hidup isinya semua nasehat sayang jika melewatkan halaman per halaman. Membacanya hati terasa semakin bening. Puas sudah menghatamkannya ♡

---
Judul: Falsah Hidup.
Penulis: Buya Hamka.
Tahun Terbit: Cetakan ke VI, 2017.
Penerbit: Republika.
Halaman:  XXXIV + 428.

Minggu, 07 Oktober 2018

Surabaya BBW 2018 Looks Like

Big Bad Wolf, pameran buku impor terbesar kembali digelar di Surabaya tahun 2018 ini. Event yang aku tunggu-tunggu karena mendatangi acara BBW bisa membuatku kalap mata. Semua buku aku liatin.

Memang surga rasanya mendatangi pameran buku. Tempat berkumpulnya banyak ilmu.

How We Get There.

Berlokasi di tempat yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya; JX International Expo. Di jalan A. Yani yang bersebelahan dengan UINSA. Membuat kami tak perlu repot mencari.

Aku menuju lokasi BBW bersama dua orang teman dengan menaiki taksi online. Dari stasiun Wonokromo, hanya membayar Rp 13.000. Jika dibagi tiga orang, lumayan ~

Finally We Here!

Sampai di lokasi, bayar taksi dulu baru bisa masuk. Kasian Pak Sopir sudah mengantar tapi tidak dibayar :D

Di pintu masuk, sudah berjejer 2-3 orang sekuriti. Mereka bertugas mengecek tas, ransel dan barang bawaan pengunjung. Makanan dan minuman tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Harus diletakkan di luar ruangan.

Pastikan perut dalam keadaan kenyang dan badan sehat bugar. Ben kuat menghadapi kenyataan. Agar di dalam area BBW tidak banyak jajan. Jajan buku aja yang banyak. Dan biar kita bisa mengelilingi stan-stan impian berupa tumpukan buku berisi ilmu baru ♡

Itulah yang aku lakukan. Mendatangi stan buku satu per-satu. Sampai-sampai dua temanku lelah menunggu.

You never know how lifestyle being a bookworm :D

Iya, dua-tiga jam hunting buku nggak kerasa.

Kalau qiyamullail selama itu kuat, nggak? T.T

Qadarullah, panitia BBW menyiapkan stan makanan dan aneka window shopping untuk para pengunjung di lantai dua. Daripada menunggu diriku yang entah sampai kapan bisa ditungguin, dan buku-buku yang dijual di situ pun kebanyakan in English, they left me for a serve of food and bags.

Dua tas cantik khusus untuk travelling berhasil membius mereka berdua. Masya Allah harganya juga cantik. Beli satu dapat dua. Jadi bisa berdua. Lucky them.

Sementara aku terus menjelajahi lautan buku di antara ratusan manusia.

Our Experience

Masuk ke dalam arena pameran BBW 2018 aroma buku-buku baru langsung tercium. Binar para pemburu juga terlihat. Masya Allah atmosfer bookworm-nya membuatku semangat mengambil troli besar.

Padahal biasanya cuma ambil tempat yang berwarna merah itu. Hanya saja punggungku harus segera beristirahat dari beban ransel yang berat ~

Sambil mendorong troli, sejauh mata memandang aku hanya mendapati stan khusus anak-anak. Label CHILDREN terpampang besar dan sangat jelas.

Masak iya semuanya buku-buku anak-anak?

Kalau dari label yang terlihat di segala penjuru memang iya. Di sana CHILDREN. Di situ CHILDREN.

Stan khusus untuk fiksi, young adult hanya satu-dua. Puluhan lainnya CHILDREN.

Kalau aku boleh mepresentasikan maka; menurutku kategori macam arsitek, sejarah itu hanya 1-10%. Tapi buku-buku anak bisa sampai 80-90%!

Dari mulai pengenalan huruf dan angka hingga buku pop-up serta kreatifitas anak-anak. Ujung ke ujung.

Namun aku ter-bahagia-kan oleh stan khusus art & design. Nemu buku yang rasanya aku banget. Berisi tentang all about design. Dari mulai pembahasan poster, iklan, logo hingga desainer ternama.

Pegang buku ini berasa mahasiswa DKV

Buku tersebut tebalnya diibaratkan dua buku Dan Brown ditumpuk jadi dua. Dan sepertinya lebih tebal lagi. Terbitan terbaru; 2018 membuat harga buky WOW. Sekitar Rp 450-an ribu. Jika saja diskon membuat nilainya miring hingga kurang dari 100 ribu sudah kubeli dia.

Tapi mengingat ongkos pulang; naksi online lagi, naik kapal dll aku urung beli. Tak cukup, pemirsah.

Aku hanya puas membaca di tempat dan tentu saja dengan teknik membaca cepat.

Badha ollena noro' Reading Challenge sampe ka ghan kelas Super Reader.

Stan art & design ini cukup sepi. Tak banyak orang mendatangi. Lucky me. Aku bisa membacanya dengan puas.

After a lot of description about logo, packaging etc, at the end of this book shows the people behind the design. Para desainer ternama dan studio keren dunia tersajikan di akhir bab.

Quotes yang paling aku ingat adalah, katanya, desain yang paling bagus adalah yang simple. Then they said, design is a clear visual passage.

Aku lupa siapa yang bilangnya -.-
Saking cepatnya baca :D

Let's Go Home!

Lega rasanya setelah tamat baca buku tersebut. Jujur, aku nggak tega menaruhnya kembali ke tempat semula.

Atuhlah itu bukunya cuma ada satu pula ~
Aku pun tak bisa memotretnya. Baterai sekarat dan dua orang temanku tak tahu sudah ke mana ~
But we shoul be apart :D

Troli kembali kudorong sambil memindai keberadaan teman-teman kesayangan. Tak menemukan lokasi mereka aku melipir sebetar ke stan Mizan.

Di dekat pintu masuk sebelah kanan barulah ada dari penerbit Mizan untuk versi Bahasa Indonesianya. Stan ini hanya 20% isi pameran yang bukunya in international language.

Di situlah dua orang temanku kembali.

It is time. Alarm to get ready to go home ~

Mereka membantuku merapikan buku-buku. Kami memilah mana buku yang jadi kubeli.

Bunch of love and thanks. Buat dua akhwatii fillah. Sudah mau ikut aku ke BBW 2018. Meskipun tak satu pun buku yang menarik hati mereka.

Hal yang paling berkesan dari BBW tahun ini adalah ukhuwah yang terdiri dari persaudaraan, kekompakan dan rencana perjalanan yang panjang.

Karena dari Jombang dan Surabaya kami akan melanjutkan petualangan ke Bangkalan dan Kota Gerbang Salam ♡

Anyway, aku akan tetap datang ke acara pameran selanjutnya. Berburu buku bagus yang mencerahkan pikiran. Sama siapa? Kita tunggu kejutan dari Allah nanti.

Surabaya BBW 2018 Looks Like

Big Bad Wolf, pameran buku impor terbesar kembali digelar di Surabaya tahun 2018 ini. Event yang aku tunggu-tunggu karena mendatangi acara BBW bisa membuatku kalap mata. Semua buku aku liatin.

Memang surga rasanya mendatangi pameran buku. Tempat berkumpulnya banyak ilmu.

How We Get There.

Berlokasi di tempat yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya; JX International Expo. Di jalan A. Yani yang bersebelahan dengan UINSA. Membuat kami tak perlu repot mencari.

Aku menuju lokasi BBW bersama dua orang teman dengan menaiki taksi online. Dari stasiun Wonokromo, hanya membayar Rp 13.000. Jika dibagi tiga orang, lumayan ~

Finally We Here!

Sampai di lokasi, bayar taksi dulu baru bisa masuk. Kasian Pak Sopir sudah mengantar tapi tidak dibayar :D

Di pintu masuk, sudah berjejer 2-3 orang sekuriti. Mereka bertugas mengecek tas, ransel dan barang bawaan pengunjung. Makanan dan minuman tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Harus diletakkan di luar ruangan.

Pastikan perut dalam keadaan kenyang dan badan sehat bugar. Ben kuat menghadapi kenyataan. Agar di dalam area BBW tidak banyak jajan. Jajan buku aja yang banyak. Dan biar kita bisa mengelilingi stan-stan impian berupa tumpukan buku berisi ilmu baru ♡

Itulah yang aku lakukan. Mendatangi stan buku satu per-satu. Sampai-sampai dua temanku lelah menunggu.

You never know how lifestyle being a bookworm :D

Iya, dua-tiga jam hunting buku nggak kerasa.

Kalau qiyamullail selama itu kuat, nggak? T.T

Qadarullah, panitia BBW menyiapkan stan makanan dan aneka window shopping untuk para pengunjung di lantai dua. Daripada menunggu diriku yang entah sampai kapan bisa ditungguin, dan buku-buku yang dijual di situ pun kebanyakan in English, they left me for a serve of food and bags.

Dua tas cantik khusus untuk travelling berhasil membius mereka berdua. Masya Allah harganya juga cantik. Beli satu dapat dua. Jadi bisa berdua. Lucky them.

Sementara aku terus menjelajahi lautan buku di antara ratusan manusia.

Our Experience

Masuk ke dalam arena pameran BBW 2018 aroma buku-buku baru langsung tercium. Binar para pemburu juga terlihat. Masya Allah atmosfer bookworm-nya membuatku semangat mengambil troli besar.

Padahal biasanya cuma ambil tempat yang berwarna merah itu. Hanya saja punggungku harus segera beristirahat dari beban ransel yang berat ~

Sambil mendorong troli, sejauh mata memandang aku hanya mendapati stan khusus anak-anak. Label CHILDREN terpampang besar dan sangat jelas.

Masak iya semuanya buku-buku anak-anak?

Kalau dari label yang terlihat di segala penjuru memang iya. Di sana CHILDREN. Di situ CHILDREN.

Stan khusus untuk fiksi, young adult hanya satu-dua. Puluhan lainnya CHILDREN.

Kalau aku boleh mepresentasikan maka; menurutku kategori macam arsitek, sejarah itu hanya 1-10%. Tapi buku-buku anak bisa sampai 80-90%!

Dari mulai pengenalan huruf dan angka hingga buku pop-up serta kreatifitas anak-anak. Ujung ke ujung.

Namun aku ter-bahagia-kan oleh stan khusus art & design. Nemu buku yang rasanya aku banget. Berisi tentang all about design. Dari mulai pembahasan poster, iklan, logo hingga desainer ternama.

Pegang buku ini berasa mahasiswa DKV

Buku tersebut tebalnya diibaratkan dua buku Dan Brown ditumpuk jadi dua. Dan sepertinya lebih tebal lagi. Terbitan terbaru; 2018 membuat harga buky WOW. Sekitar Rp 450-an ribu. Jika saja diskon membuat nilainya miring hingga kurang dari 100 ribu sudah kubeli dia.

Tapi mengingat ongkos pulang; naksi online lagi, naik kapal dll aku urung beli. Tak cukup, pemirsah.

Aku hanya puas membaca di tempat dan tentu saja dengan teknik membaca cepat.

Badha ollena noro' Reading Challenge sampe ka ghan kelas Super Reader.

Stan art & design ini cukup sepi. Tak banyak orang mendatangi. Lucky me. Aku bisa membacanya dengan puas.

After a lot of description about logo, packaging etc, at the end of this book shows the people behind the design. Para desainer ternama dan studio keren dunia tersajikan di akhir bab.

Quotes yang paling aku ingat adalah, katanya, desain yang paling bagus adalah yang simple. Then they said, design is a clear visual passage.

Aku lupa siapa yang bilangnya -.-
Saking cepatnya baca :D

Let's Go Home!

Lega rasanya setelah tamat baca buku tersebut. Jujur, aku nggak tega menaruhnya kembali ke tempat semula.

Atuhlah itu bukunya cuma ada satu pula ~
Aku pun tak bisa memotretnya. Baterai sekarat dan dua orang temanku tak tahu sudah ke mana ~
But we shoul be apart :D

Troli kembali kudorong sambil memindai keberadaan teman-teman kesayangan. Tak menemukan lokasi mereka aku melipir sebetar ke stan Mizan.

Di dekat pintu masuk sebelah kanan barulah ada dari penerbit Mizan untuk versi Bahasa Indonesianya. Stan ini hanya 20% isi pameran yang bukunya in international language.

Di situlah dua orang temanku kembali.

It is time. Alarm to get ready to go home ~

Mereka membantuku merapikan buku-buku. Kami memilah mana buku yang jadi kubeli.

Bunch of love and thanks. Buat dua akhwatii fillah. Sudah mau ikut aku ke BBW 2018. Meskipun tak satu pun buku yang menarik hati mereka.

Hal yang paling berkesan dari BBW tahun ini adalah ukhuwah yang terdiri dari persaudaraan, kekompakan dan rencana perjalanan yang panjang.

Karena dari Jombang dan Surabaya kami akan melanjutkan petualangan ke Bangkalan dan Kota Gerbang Salam ♡

Anyway, aku akan tetap datang ke acara pameran selanjutnya. Berburu buku bagus yang mencerahkan pikiran. Sama siapa? Kita tunggu kejutan dari Allah nanti.

Selasa, 19 Desember 2017

Romansa dan Budaya dalam Jane Austen's Sense and Sensibility

Romansa dan Budaya dalam Jane Austen's Sense and Sensibility

Cerita Sense and Sensibility terkesan lambat awalnya. Tokoh rekaan Jane Austen dikenalkan satu persatu dengan deskripstif di volume pertama. Sabar, itu pesan Mbak Ila ketika merekomendasikan sastra klasik ini. Alon-alon asal kelakon..

Terjemahannya enak. Ditambah setelah kuketahui salah satu translatornya adalah Prisca Primasari, one of my favourite author! Makin semangat deh bacanya. Novel-novel rekaan beliau yang ingin kukoleksi semuanya. Pertama berjumpa dengan beliau pada Will and Juliette (Lingkar Pena Publishing) dil tahun 2008. Vokalis rock and roll dan wanita Muslim, penderita rabun senja.

Karena nggak mungkin novel ini sangat begitu mengesankan hingga tak lekang oleh waktu meski ratusan tahun berlalu, jika ceritanya biasa-biasa saja. Maka dengan sabar aku menelusurinya bab demi bab.

Di volume dua, aku mulai nyaman mengikuti ritme --apalagi di volume tiga, saat alurnya semakin seru. Cara bacaku bisa memakai speed reading style. Tak lagi pelan. Aku mulai akrab dengan Marienne dan Elianor. Dua kakak beradik yang perlahan beranjak dewasa; perempuan yang mencoba mencari kisah sejati.

Muncullah Willoughby, Kolonel Brandon, dan Edward Ferras dalam kehidupan keduanya.

Kisah yang rumit karena ini terjadi di tahun 1811 (setidaknya ini tahun pertama kali Sense and Sensibility terbit). Waktu yang menunjukkan ketiadaan telepon genggam dan pesan hanya sampai melalui seorang pelayan. Sehingga kesalahpahaman dan prasangka biasa muncul dalam kelindan cerita mereka.

Undangan, pesta, dan gunjingan menjadi lifestyle yang biasa pada zaman itu.

"Aku ingin sekali mengundangmu dan adikmu. Maukah kalian datang dan menghabiskan waktu di Cleveland Natal ini? Katakan ya; dan datanglah selagi keluarga Wetson berkunjung ke tempat kami. Aku akan sangat gembira! Akan sangat menyenangkan!.." (Austen, 2016: 141).

Itu juga termasuk prestige dan cara membanggakan diri jika berhasil mengundang mereka serta menunjukkan kemewahan rumah pemiliknya. Hal itulah yang terpikir pertama kali oleh Mrs.Dashwood, ibunda Elianor ketika akan pindah rumah.

"Tapi aku berharap bisa menjamu banyak teman di sana. Kami bisa menyediakan  satu atau dua kamar; dan kalau teman-temanku tidak merasa repot bepergian sejauh itu untuk bertemu  untuk bertemu denganku, aku merasa sangat senang menyediakan tempat menginap." (Austen, 2016: 35).

Ramah-tamah dan basa-basi masih terlihat jelas dalam Sense and Sensibility rekaan Jane Aunsten ini. Novel yang telah beberapa kali diapdatasi ke film layar lebar.

Kasta dan takhta adalah hal yang sangat diperhatikan dalam pemilihan jodoh. Hal ini diterangkan Mrs. Ferras ketika Edward mengutarakan hubungannya dengan wanita.

"..Miss Morton putri seorang bangsawan dengan nilai tiga puluh ribu pound, sedangkan Miss Dashwood hanyalah seorang putri pria terhormat dengan kekayaan tak lebih dari tiga ribu pound..." (Austen, 2016: 452-453).

Memang sedari awal Fanny tak setuju hubungan anaknya dengan Elianor. Makin rumitlah jalan cerita ketika juga ada Lucy dalam kehidupan Edward. Ending-nya susah ditebak deh.

Tak hanya romansa, kulihat budaya yang masih melekat di zaman itu. Topi, seperti yang dibicarakan beruang dari pedalaman Peru dalam film Paddington, katanya dulu topi amat lekat dalam budaya Inggris. Namun sekarang sudah tergerus zaman. Dalam Sense and Sensibility ini topi muncul di halaman 429.

"Saya mengangkat topi, dan dia mengenal dan menyapa saya, lalu dia bertanya tentang Anda, Ma'am.."

Mengangkat topi adalah suatu cara untuk menyapa seseorang dengan penuh penghormatan. Seperti membungkuknya orang Jepang.

Juga kereta kuda sebagai alat transportasi mereka. Belum ada mobil ataupun pesawat. Jika tak ada kereta mereka akan bepergian dengan kuda atau berjalan kaki.

Nah latar Sense and Sensibilty-nya Jane Aunsten sangat aku sukai. Apalagi ketika berbicara tentang pedesaan. Aku membayangkannya seperti bukit-bukit di Skotlandia dan budaya yang mengelilingin. Tapi dalam cerita disebutkan bukit Allenham, tempat pertama kali bertemunya Marienne dan Willoughby.

***

Judul: Sense and Sensibility
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Prisca Primasari dan Linda Boentaram
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Enfira
Desain Sampul: AM Wantoro
Penerbit Qanita [Mizan]
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Halaman: 460

Sabtu, 16 Desember 2017

Pernyataan Sikap Anak-anak Palestina

Pernyataan Sikap Anak-anak Palestina
Zionis Yahudi telah menduduki Palestina sejak tahun 1948. Mereka datang menjajah dan memborbardir tanah air penduduk Palestina. Menghancurkan bangunan, dan membunuh kejam penduduknya.

"Aku juga gelisah dan takut karena pesawat-pesawat F-16, pesawat pengintai, dan pesawat Apache selalu menginspeksi kami, menghujani kami dengan bom fosfor yang mematikan, melempari kami dengan rudal dan mortir. Aku benci Zionis."
Yusuf, 11 tahun.

Palestina yang utuh telah terbagi menjadi dua. Kini ada negara Israel yang menduduki kota suci kita. Hanya sepetak kecil yang tersisa.

Palestina Kini.
90 anak-anak Palestina menyatakan sikapnya. Mereka menceritakan kondisi Palestina dalam buku ini: Surat Sahabat dari Palestina, Masih Adakah Harapan buat Kami? Anak-anak Palestina ini juga menuliskan perasaan, harapan mereka. Terlebih pada dunia internasional.

"Kepada masyarakat dunia aku meminta do'a dan dukungan. Doakan aku dan rakyat Palestina agar Allah meneguhkan kaki-kaki kami melawan musuh."
Alyan, 12 tahun.

Palestine will be free.

Anak-anak Palestina dengan rentang umur 7-18 tahun ini juga membisiki kita tentang cita-citanya. Mereka ingin membebaskan Palestina dari jajahan Israel dan menghafal Al-Quran. Tentu saja itu cita mereka yang paling utama.

Setiap anak menyebutkan mimpi-mimpi mereka. Majdi (8 th) ingin menjadi tentara pembela negara. Sama seperti Ahmad (9th) yang ingin menjadi mujahid Palestina. Dan kelak ketika besar, Umar (7th) ingin menjadi dokter agar dapat membantu saudara-saudaranya yang sakit dan cedera.

Tak hanya warga Palestina yang berduka cita, namun seluruh muslim dunia. Al Quds, Kiblat pertama muslim. Tempat Nabi Muhammad mengimami ratusan Nabi. Tempat Rasulullah berhenti sebelum pergi ke sidratul Muntaha bertemu Allah 'azza wa jalla.

Dan Al-Quds adalah milik kami dan bukan untuk dijadikan ibu kota Israel!

Dome of the Rock (kubah emas) dan Masjid Al-Aqsha (kubah hijau keabuan) di Yerussalem timur.

"Kalau aku sudah besar, aku bercita-cita untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha dan shalat di dalamnya. Aku juga bercita-cita menghancurkan  kekuatan Israel dan melenyapkan pendudukan Israel atas tanah tumpah darah kami di berbagai penjuru negeri Palestina. Semua itu kulakukan karena itulah hak kami. Kami hanya ingin mengambil hak kami, lain tidak..."
Sha'ib, 15 tahun.


***

Judul: Surat Sahabat dari Palestina, Masih Adakah Harapan buat Kami?
Penyusun: Komite Nasional untuk Rakyat Palestina
Penerjemah: Ali Ghufron dan Darsim Ermaya I.F.
Penerbit: PT Era Adicitra Intermedia
Cetakan: Kedua, Jumadat Tsani 1436
Halaman: 225 halaman

Selasa, 05 Desember 2017

Burlian si Anak Spesial

Burlian si Anak Spesial
Burlian si anak spesial, begitu Mamak, Bapak, Wak Yati, Bakwo Dar dan lingkungan memanggilnya. Bukan dengan sebutan ia si anak nakal atau pembangkang.

Anak-anak Mamak tumbuh dengan lingkungan positif. Julukan positif meskipun kadang harus diteriaki beberapa kali oleh Mamak baru mau menurut.

Amelia, si bungsu, si kuat. Burlian si anak spesial yang suka berpetualang. Pukat si anak pintar, pandai dan selalu bisa menjawab segala pertanyaan. Eliana si sulung yang pemberani, melindungi harta berharga kampung dari jarahan orang kota.

Setiap anak memiliki karakternya sendiri. Dalam Burlian, Tere Liye menegaskan bahwa ia adalah anak Mamak yang spesial. Walaupun 'bandel'nya luar biasa juga.

***

Mainan ala Anak-anak
Tak ada gawai, tentu saja. Mainan Burlian adalah otok-otok yang dibuat Pukat. Bisa saja mereka membelinya di pasar kecamatan, tapi apalah daya dompet yang tak beruang. Lagipula Pukat si pintar bisa membuatkannya dengan otak cemerlang.


Jika dalam Eliana, partner-nya melawan orang kota adalah Marhotap, Burlian memiliki karib yang bernama Ahmad. Teman yang sangat mahir bermain bola. Di lapangan bekas pabrik karet mereka bertanding di sana. Sangat seru. Orang sekampung menonton dan mengelu-elukan keduanya hingga peristiwa naas itu terjadi.

SDSB! Mainan yang dicoba Burlian ini membuat Mamak geram. Bahkan Nek Kiba di surau juga ikut turun tangan. Soalnya pemuda-pemuda kampung juga main. Burlian dibilangin juga nggak boleh tapi tetep aja cobacoba.

Main ala Burlian berarti mendekati yang terlarang. Ada untungnya juga, dia bisa bertemu dengan orang Jepang, meneropong bintang dan makan ayam hutan.

Nakamura-san yang membongkar bahwa makan di kasur itu tak apa asal dia tidak meninggalkan remah-remah. Membereskannya kembali sebelum Mamak mara-marah.

Berpetualang bersama Mang Unus
Serial anak Mamak lainnya pun melakukan hal serupa. Mang Unus adik kandung Mamak. Dengan motor trail, dibawanya secara bergantian anak Mamak ke tempat-tempat spesial di seluruh penjuru kampung.


Bersama Burlian, anak ketiga Mamak, mereka melewati hutan dan memasuki gubuk larangan. Ada 'putri mandi', 'harta berharga kampung' yang harus dilindungi dengan cerita seram dan bumbubumbunya.

Tapi Mang Unus membongkarnya rahasia tersebut. 'Putri mandi' yang langka, di tempat seram; gubuk larangan.

Memperjuangkan Pak Bin
Pak Bin, guru satu-satunya di sekolah. Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia diajari oleh guru yang sama, Pak Bin. Bertahun mengabdi pada bangsa, mengajar anak-anak di pedalaman Sumatera belum pernah sekalipun ia diangkat menjadi PNS.


Sekolah roboh dan menjadi anak spesial yang masuk televisi dijadikan kesempatan oleh Burlian untuk memperjuangkan Pak Bin. Di hadapan wartawan ia ungkapkan semua keinginannya.

***

Kutaksir setting cerita karangan Tere Liye ini tahun 1980an. Televisi masih hitam putih dan hanya TVRI. Listrik belum sempurna masuk desa. Malam mereka cahayakan dengan canting-canting di rumah atau obor ketika akan pergi keluar. Seperti pulang-pergi mengaji di rumah panggung Nek Kiba.

***

Senin, 04 Desember 2017

My Hijab My Hijrah: Langkah Istiqamah Akhwat UTM

My Hijab My Hijrah: Langkah Istiqamah Akhwat UTM
Membaca My Hijab My Hijrah karangan akhwat UTM (Universitas Trunojoyo Madura) bagiku seperti kegiatan menambal lubang-lubang iman yang terkikis syubhat tak tentu arah. Charge yang selalu berfungsi meski telah membacanya berkali-kali. 

Memberikan pemahaman baru. Serta semangat untuk tetap istiqamah mempertahankan idealisme yang amat prinsipil. Jilbab yang sesuai syariat; menutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan kaki, tebal tidak menerawang, tak serupa lelaki dan kerudung minimal menutup dada.

Mereka perempuan-perempuan hebat yang tetap tegar meski lingkungan atau bahkan keluarga menolak perubahan dengan sangat jelas. Bahlan ada akhwat yang rela dipukuli keluarganya demi mempertahankan jilbab.

Fenomena ini membuatku tersadar kita belum merdeka. Setidaknya dari sekitar. Kita tahu setiap orang memiliki haknya masing-masing, tapi masih saja ada yang tidak terima. Berjilbab memang diperbolehkan tapi ada sekolah yang melarang.

Buku-buku atau kisah semacam ini adalah penguat bagi kita; perempuan akhir zaman yang mengalami banyak fitnah dunia. Baju seksi yang menggoda iman para lelaki terlihat berseliweran di sana-sini.

Ketika kita memutuskan hijrah, terkadang semuanya berjalan tak sesuai dengan semestinya. Ada batu-batu kerikil yang menghalangi. Cerita ini adalah langkah wa tawashau bil haqqi wa tawashau bis shabri.

Saling mengingatkan bahwa mereka pun mengalaminya. Perjalanan mereka pun tak mudah. Tapi mereka percaya ada Allah Sang Penolong, tempat mengadu yang selalu ada saban waktu. Pada janji-Nya mereka percaya. Surga yang menawan jiwa serta perjumpaan nan angung dengan Sang Maha.

Dan Allah akan menjadikan segalanya indah.

21 perempuan mengisahkan kisah hijrahnya di sini; My Hijrah My Hijrah. Dibawakan dengan mengharu-biru, menggelikan yang membuat sejenak kita tertawa dan senyum-senyum sendiri.

Baca dan temukan getar imanmu di sana!

***

Judul: My Hijab My Hijrah
Penulis: Ani Marlia, dkk
Halaman: 198 + XVIII
Penerbit: Minhaj Press
Editor: Tim Press 'n IT
Desainer Sampul: Insan Muplihah
Layouter: Shofia Asri


***

Buku dapat dibeli seharga Rp 42.000 dan dapatkan diskon sebanyak 20% dengan mencantumkan kode 'ISTQAMAH BERHIJRAH' pada pemesanan. Bisa diorder melalui nomor telepon genggam berikut ini: +62 857-3032-9959.

Jangan lupa sertakan kode uniknya agar kamu bisa menghemat pengeluaran berbelanja. Sisanya bisa ditabung untuk masa depan atau bersedekah untuk orang di sekitar.

Selasa, 14 November 2017

My Finding in Dan Brown's Inferno [Quotes]

Dan Brown's Inferno [The Quotes]

The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.

Seek and ye shall find.

The decisions of our past are the architects of our present.

One great work of art inspired by another.

This changes everything.

Know only your mission. Share nothing.
Sweetheart, never forget you're a miracle.

There is seacond option, now. Complete your mission!

This is the future I would be giving my child?

The truth can glimpsed only through the eyes of death.

My career is all I have!

Compassion is a universal languange.

Provide the service. Trust the client. Ask no question.

Free divers swimming deep into a tunnel, far past thr point of no return, and then colliding with a stony dead end.

I'm a fan of the truth even if it's painfully hard to accept.

If you know where to look, Florence is heaven.

Avarice wan an international sin.

I'm not following.

The Lord works in mysterious ways.

"Robert, I thought you were a studenf of world history."

"Yes, but the world is large and history is long.."


It is physically imposibble for the human mind to think of nothing.

You CAN save the world. If not you, then who? If not now, then when?

While Christian tradition favored literal images of its god and saint, Islam focused on calligraphy and geometric patterns to represent the beauty of God's universe. Islamic tradition held that only God could create the life, and therefore man has no place creating images of life; not gods, not people, not even animals.

Depicting God's face would be considered blasphemy.

Safrice the few to save the many.

He was a scientist, a results-oriented person.

If everything you're saying is true, then you have my word.

***

Those are the quotes I could share with you. Honestly I took many quotes but they acted as research quotation through the conflict. Then, if I writes all here, I will be a spoiler of the story. So it will be nice if you read the novel by yourself. Happy reading!


Senin, 13 November 2017

Materi Tere Liye di Al-Amien Prenduan

"Aku Mengenal Tuhan karena Menulis," tema seminar Inspiratif Tere Liye tertanggal 6 November 2017 di Al-Amien Prenduan Sumenep Madura.

Iyaa ini telat nulisnya. Dejavu dan dapet hidayah karena nemu selembar kertasnya di dalam ransel berisi catatan materinya.

Ditulis ulang di blog ini dengan bahasaku dan beberapa celotehan. Sila ambil yang baik-baik ^^


BEING AN AUTHOR

"Penulis itu dikenal tulisannya bukan orangnya," jelas Bang Tere di permulaan acara. Logat beliau membuatku menebak-nebak. Tere Liye asalnya dari mana ya? Menilik dari karya-karyanya, kurasa dari Sumatera.

Mungkin saja, soalnya Bang Tere tak pernah menuliskan biodatanya di halaman terakhir karyanya. Karena katanya,

"Yang penting mengenal tulisannya tidak perlu mengenal penulisnya."
Seperti pepatah bahasa Arab yaa.

"Undzur maa qaala wa laa tandzur man qaala."

Perhatikan isi pembicaraannya. Bukan siapa yang berbicara. Tak peduli dia orang dari mana, asal materinya bagus, kita ambil saja. Tak peduli lebih muda dan berbeda suku bangsa misalnya.

Tere Leye di Al-Amien Prenduan

AUTHOR'S JOB

Menurut Bang Tere Liye, ada tiga hal yang harus dilakukan seorang penulis.

Satu. Harus terus berlatih.

Iyaa, jangan ngaku penulis kalau kamu menulisnya cuma sekali dan tidak pernah latihan. Kata Bunda Helvy, produser Duka Sedalam Cinta, menulis itu ibarat kungfu.

Kayak keren gitu lihat Jackie Chan main kungfu. Terus kepengen mahir kungfu juga. Nah, takkan engkau pandai berbela diri macam dia kecuali kamu latihan. Latihan dengan gigih dan keras. Sama seperti Om Jackie.

Kedua. Watch out how the other writes.

Lihat bagaimana orang lain menulis. Seperti Buya Hamka contohnya. Perhatikan style-nya. Bagaimana beliau memainkan diksi. Kalimatnya yang bak embun pagi di tangkai melati. Wangi, segar nan menyejukkan hati.
*Buka jendela lebar-lebar.

Dan Brown. Pelajari karangan-karangannya. Dari Angels and Demons sampai Origin. Pelajari bagaimana Paman Brown menguraikan detail bermain konflik dalam simbol-simbol.

Ketiga. Meet the author.

Mau jadi penulis harus ketemu penulis. Biar kita ketularan ilmunya. Belajar langsung dari sang mastah.

Ikutan seminar-seminar atau komunitas-komunitas literasi.

"Penyuka sandal jepit saja ada komunitasnya masakan menulis yang notabene memiliki kegiatan positif nggak ada." Itu yang dikatakan seorang pemateri di acara LPM Saint UTM setahun lalu.

Berkumpul dengan atmosfer alias lingkungan yang mendukung. Gabung di pecinta sastra macam Forum Lingkar Pena (FLP), atau di komunitas serupa.

FYI, FLP sudah tersebar di 34 wilayah Indonesia dan 4 cabang di luar negeri. Coba cek FLP Cabang di daerah terdekatmu. Yuk!

Karena berteman dengan penjual minyak wangi kita akan ketularangan wangi. Begitupula temenan sama penulis, biar kita ikutan pinter nulis.


THOUSAND WORDS

"Orang modern menulis seribu kata perhari," pesan Bang Tere di hadapan para santriwati yang memenuli Gedung Serba Guna TMaI.


Konsisten setiap hari.


Biar kelihatan kita ada usaha buat jadi penulis. Rajin latihan. Menurut para pakar setidaknya kita menghabiskan dua jam perhari agar mahir.

Aku biasanya set alarm. Nulis bentar deh satu jam saja. Tapi biasanya suka kebablasan. Saking keasyikan nulis. Itu trik sebenarnya kalau lagi males :D

Soalnya teko sudah penuh. Ide-ide di kepala berdesakan. Caper. Minta perhatian agar direalisasikan.

Cuma kadang yang susah mulainya ><


Action!
Start now!


Percaya deh kalau sudah dimulai jadinya rasanya gampaaaang banget. Nanti kelar satu tulisan akan mengharu biru, "Alhamdulillah nggak terasa sudah duaribu kata." Aku pernah. Haru sekali T.T


Infiruu khifaafaaw wa tsiqaalan..


Segeralah berangkat dalam keadaan ringan maupun berat hati. Dibisikin sama Allah dala surat cinta-Nya. Tertanda di At Taubah ayat 41.

Asababun Nuzulnya menerangkan untuk berangkat ke medan perang. Perang Tabuk tepatnya. Baik dalam kuat maupun lemah. Kaya atau miskin. Muda ataupun tua.

Menulis juga berperang lho. Berperang melawan pemikiran dan idealisme yang mencurigakan sekali.

"Kalimat pertama adalah yang paling mudah," terus kata Bang Tere berhentilah bertanya saya harus menulis apa. Menulislah apa yang merisaukanmu. Tulislah biar dunia tahu apa yang kamu pikirkan.

Segeralah mulai. Mau lagi rajin atau sedang malas. Mulailah menulis. Perbanyak latihan.

"Kebiasaan menyelesaikan akan membuat menulis lebih gampang lagi."


AUTHOR'S STICKY NOTES

Pertama. Perbanyak motivasi
Penting dicatat nih pesan Bang Tere.Bunda Asma Nadia bilangnya, "Find the reason why!"

Temukan alasan menulis. Mengapa kita harus menulis?

Sama halnya juga ketika kita malas bangun sholat Shubuh atau Tahajjud. Kenapa harus Qiyamul Lail? Kenapa kudu bangun malam-malam? Kan dingin..

Find the reason!

Mengapa menulis?

Karena inilah cara menebar kebaikan. Dakwah tak hanya ceramah. Bisa juga lewat tulisan. Kita menyebutnya dakwah bil qalam.

Because writing is healing. Menulis adalah salah satu terapi bagi jiwa. Tanya deh Bunda Sinta Yudisia, seorang psikolog yang juga ketua FLP periode kemarin.

Kedua. Topik bisa apa aja.

Bingung mau nulis apa? Tulis saja apa yang berkelindan di kepalamu. Listrik naik. Cabe mahal. Rupiah nggak stabil.

Mengkritik pemerintah juga bisa. Seperti yang Tere Liye katakan di sini.

Apa saja hatta, daun yang gugur ditiup sepoinya angin. Jadilah ia Daun yang Gugur Tak Pernah Membenci Angin.

Ketiga. Sertakan niat yang ikhlas.

Ini asal muasalnya. Remember why you start. Apa motivasimu saat menulis. Apapun itu usahakan niat yang ikhlas turut disertakan. Agar Allah beri pahala yang berlipat.

Tapi bukan semata-mata untuk kaya.

"Kalau hanya ingin kaya tidak akan ke mana-mana." Masih dengan logat uniknya Tere Liye melontarkan kalimatnya di hadapan peserta.

Kalau memang akhirnya iya. Semoga itu bonus dari Allah untuk kita.

Tere Liye Menulis.

RESEARCH

Sst, Tere Liye membocorkan rahasinya, "Riset itu mencari sebanyak-banyaknya inspirasi."

Bisa didapatkan dengan:


Banyak baca buku.

Di situlah ilmu bisa kita dapatkan. Tanpa perlu berlelah-lelah. Mudah. Lagipula baca buku itu keren. Antimainstream.

Against orang-orang bilang 'semuanya bisa digugling.' -.- Ah nggak juga. Ada hal-hal keren yang nggak kamu temukan di internet. Banyak.

Baca buku itu menyejukkan pandangan. Terbebas dari sinar ultra yang kita dapat dari screen hape atau komputer.

Baca buku sambil minum teh melati. Slurp.


Yes, tea time!


Biar makin konsisten boleh tuh ikutan Reading Challenge-nya FLP JATIM. Biar bacanya makin semangat. Kelasnha ada empat stages. Kelas R minimal baca 5 halaman perhari. Kelas MR, HR hingga SR yang wajib baca 55 halaman dalam sehari.

Ikutan ODOJ juga mantaapp, galz.


Karena buku adalah sumber ilmu.


Banyak baca, banyak tahu.
Banyak baca, banyak ilmu.

Halan-halan.

Inspirasi bisa didapatkan dari mana saja asal kita semangat nyarinya. Salah satunya dengan halan-halan.

Melakukan perjalananan. Melepas penat. Mencari ide baru. Biar fresh.

The above statements clarified that nggak ada tuh nggak mood karena kehilangan inspirasi. Lha inspirasi saja belum dicari kok dibilang hilang -.-

"Buku yang baik akan menerangi separuh dunia." Gitu aja dulu. Latihan-latihan! That's the fundamental.

***

Sebuah perumpaan dikisahkan Tere Liye dalam pemaparannya. Tentang Burung, Kura-kura dan Kelapa.

Setahun berlalu. Mereka berpisah.

Burung terbang tinggi mengelilingi dunia. Bertemu sebangsa unggas lainnya dan menjejaki tempat-tempat istemewa.

Kura-kura menyelami lautan. Berjumpa banyak ikan-ikan. Mengetahui berbagai daratan indah dan menyejukkan pandangan.

Sedangkan Kelapa, apa yang dilakukannya di atas pohon sana?

"Menulis itu ibarat menjatuhkan pohon kelapa dan direngkuh ombak."

Dengan itu ia bisa ke mana saja. Melanglang buana. Menjemput hikmah di setiap tempatnya.

Minggu, 12 November 2017

Tere Liye Hadirkan Jokowi dan Sri Mulyani di Al Amien Prenduan

Tidak perlu mendatangi istana negara atau gedung keuangan negara untuk bertemu Pak Jokowi dan Ibu Sri Mulyani. Dua orang nomor satu di Indonesia tersebut malah dapat dengan mudah datang ke rumah-rumah penduduk. Di Al-Amien Prenduan, Sumenep Madura novelis kondang, Tere Liye memberi triknya.

"Jika kalian jeli, Pak Jokowi dan Ibu Sri Mudah dapat kalian temukan di dalam novelku." Di gedung serba guna TMaI (Tarbiyatul Mu'allimien al Islamiyah) putri Tere Liye santai membocorkan rahasianya.

Tere Liye
Seperti pajak penulis yang masih hangat menjadi perbincangan di kalangan kuli tinta. Tere Liye mengaku malas berdebat dengan mereka. Apalagi menghadapi komentar tak berdasar bin nyinyir di dunia maya. Penulis best seller ini lebih memilih melawan mereka dengan karya.

Dalam Eliana misalnya. Salah satu novel serial anak-anak Mamak ini memperlihatkan sebuah fakta. Kenyataan yang difiksikan tentunya, tentang orang-orang kota yang datang melibas hutan dan mengeruk habis pasir sungai. Ia mengkritik asap Sumatera dan menghadapi orang-orang kota yang memasuki desa dengan paparan kritisnya dalam novel.

"Bacalah novel Negeri Para Bedebah, kalian akan menemukan Pak Presiden dan menteri keuangan," katanya menjawab sebuah pertanyaan peserta.

GESERNA yang dipenuhi ratusan peserta seminar inspiratif pun mengangguk-angguk.  Para peserta  duduk di barisan berdasarkan asalnya. Dari berbagai lembaga dalam naungan Al-Amien; MTA, TMaI, IDIA misalnya atau dari luar pondok. Terlihat wajah-wajah mereka sedang mencoba untuk memahami dan sibuk berkutat menulis catatan. Terlebih, bagi seluruh santri Al-Amien membawa buku ke mana-mana adalah kewajiban. Sanksi siap menanti jika berani melanggar. Maka tangan-tangan terampil menulis ilmu baru yang ditemui mereka di sana.

Kebanyakan diskusi di dalam gedung terlontar seputar kepenulisan. Meski begitu pertanyaan mereka tetap beragam.

Siapa penulis favorit Bang Tere? "Dee Lestari, Asma Nadia, J.K Rowling dan masih banyak lagi. Apa tips menulis yang baik? Tidak ada. Tulis saja." Ringkas dan sederhana jawaban Tere Liye.

Tidak ada. Begitu juga jawaban mamak Tere Liye saat ditanya bagaimana cara memasak selezat beliau. Karena novelis tersebut tak menemukan yang serupa di kota-kota manapun. Padahal enaknya minta ampun.

Peserta yang ingin bertanya dipersilahkan berbaris mengantre di depan mikrofon yang telah disediakan panitia. Antrian juga tertib karena panitia membagi tempat duduk berdasarkan nomor daftar dan darimana mereka berasal. Pemberian doorprize dilakukan panitia dengan adil.

Tidak hanya santri PP. Al-Amien Prenduan yang datang menghadiri seminar bertajuk "Aku Mengenal Tuhan karena Menulis," mahasiswa dan peserta dari luar pondok pun dibolehkan ikut serta. Namun terbatas kuota dan hanya untuk kaum wanita. Bahkan beberapa santri putri sempat kecewa karena tidak bisa mengikuti acara karena kehabisan kuota. Terlebih acara seminar bertepatan dengan hari Jumat (6/10). Hari libur pondok.

"Iya, Mbak. Kuota untuk Tahfidz hanya 100 orang," ucap santriwati MTA (Ma'had Tahfidz Al-Quran) kelas VII SMP.
Antrean yang mengular
Ada kejadian unik saat acara berlangsung. Tere Liye ikut mengacung ketika panitia menanyakan nama asli sang novelis dan arti dari nama penanya. Namun tetap saja panitia memilih seorang peserta yang siap membocorkan dua rahasia tersebut.

"Nama asli Bang Tere Liye, Darwis dan Tere Liye artinya 'untukmu," jawab seorang peserta mantap.

Untuk-Mu. Menulis untuk Tuhan. Untuk memperlihatkan kepedulian. Begitu kira-kira menurut Tere Liye hakikatnya menulis. Bahkan Tere Liye berharap dari pondok pesantren Al-Amien lahir penulis cerdas nan kritis.

Di akhir acara peserta dipersilahkan berbaris rapi dan maju satu-persatu ke panggung. Untuk mendapatkan tandatangan spesial sang penulis.

"Bersabarlah menghadapi Burlian dan jadilah berani seperti Eliana," pesannya sebelum membubuhi tanda tangan di novelku.

Eliana dan Kekuatan Orang Kota

Eliana dan Kekuatan Orang Kota
Petualangan si Anak Sulung
Tere Liye menghadirkan petualangan sesungguhnya dalam Eliana. Bukan fiksi fantasi semacam Geng Raib, Ali dan Seli.

Dialah Eliana sang tokoh utama. Anak sulung Mamak.

Eli, anak SD kelas lima bersama teman-temannya yang dinamai geng Empat Buntal. Empat Buntal yang beraksi dengan cerdas. Menerobos hutan, melompat di dalamnya sungai berpenghuni buaya. Anak-anak desa dari pedalaman Sumatera melawan orang kota.

Ya! Petualangan Eliana, adalah tentang keheroikan anak-anak yang ingin menjaga alam dari keserakahan orang kota.

Orang kota datang mengeruk pasir di sungai. Membuat bising desa. Membuat ikan-ikan pergi.

Komentarku
Huuu, aku berseru kegirangan. Marhotap datang! Aku tahu dia sang penyelamatnya. Mungkin kisahnya akan mirip dengan Mamak dan Bapak waktu muda. Kukira awalnya begitu.


Ssstt, dalam kisah ini diceritakan asal muasal kisah mereka. Mula saat Bapak bertemu Mamak pada sebuah kejadian di kereta. Kalau nak tahu, bacalah.

Seru dan tentu saja mengharu biru khas Tere Liye.

Aku suka penokohan Eliana. Dia berani sekali melawan orang kota. Tak peduli itu bupati, konglomerat kaya raya, maka kebenaran tetap harus ditegakkan. Dan itu cita-cita Eli. Menjadi pembela kebenaran.

Pekerjaan apakah itu? Di bab-bab terakhir Eliana menemukan keinginan masa depannya.

The Connecting Dots
Tentu saja Eliana juga dimeriahkan oleh adik-adiknya. Cerita tak hanya bekerja seorangan. Sepi dong jadinya. Pukat, Burlian dan Amelia hadir melengkapi cerita.


Ada Pak Bin, Nek Kiba dan yang lain juga lho. Karena manusia makhluk sosial ^^

Tingkah laku anak-anak Mamak tersebut mengingatkanku pada Faza, sepupuku yang umurnya sekitar 9 tahun. Berani mengendarai motor naik turun bukit berbatu. Naik-naik pohon, mobil..

Faza sangat antusias dan berbinar kesenengan melewati jembatan Suramadu untuk pertama kalinya. Sama dengan salah satu adegan, ketika teman Eli naik kereta.

Kalung istimewa Marhotap juga membuatku serasa dejavu. Dengan kalung Delisa. Adegan yang sama-sama ditampilkan di akhir cerita.

The Minus
Kekurangannya apa yaa. Aku hanya menemukan satu typo. Coba cek di halaman 372.


Lainnya, hmmm..

Karena aku sudah membaca Amelia, Burlian dan Pukat, jadi aku bisa menebak-nebak. Haru yang kurasakan tak terlalu haru seperti dalam novel Burlian. Serial anak-anak Mamak yang kubaca pertama kali.

Tapi tetep aja sih, ada adegan yang mewek.

Konflik Terselubung
Konflik di Eliana banyak. Banyak. Namanya juga novel. Kalau satu, nanti jadinya cerpen.


Kasus bando istimewa pemberian Wak Yati. Perahu otok-otok Burlian dan Pukat. Tapi detail-sangatnya ada di serial Pukat. Tinta pena Burlian yang cepat habis. Selain melawan orang kota itu sebagian konfliknya.

Konflik terselubung di sini maksudku ada karya yang mengkritisi keadaan sekitar.

Lawan dengan karya. Berhenti nyinyir dan debat di Fesbuk. Gitu kata Bang Tere pas seminar kemarin. Menghadirkan opini dalam bentuk karya sastra adalah something impressive.

Eliana, menampilkan kasus terselebung terjadi di Indonesia. Kasus nenek pencuri kayu bakar, bisnis properti yang suka mengeruk pasir di sungai, perusahaan kelapa sawit yang menebang hutan sembarangan.

Segenggam Berlian
Dari Eliana aku belajar tentang detail. Seorang bapak yang asyik membaca koran di beranda mugkin hanya selingan belaka. Tapi hobi bapak Amelia berpengaruh besar pada cita Eliana di masa depan.


Eits, ternyata aku salah menyebut nama. Maksudku Eliana, bukan Amelia. Itulah mengapa dulu tahun lalu aku salah mengambil buku. Maunya beli cerita si sulung, eh malah si bungsu.

Hikmah lainnya kutulis di quotes ^^

Kamis, 26 Oktober 2017

Kebun Kekata dari Eliana [Quote]



Kutulis kekata berharga, quote istimewa yang kudapat dari novel Eliana. Si sulung dari tiga anak lainnya dalam Pukat, Burlian dan Amelia. Tokoh rekaan dalam Serial Anak-anak Mamak karangan Tere Liye.

Karena sayang rasanya jika hikmah yang bak mutiara itu, kunikmati sendiri. Jadi menuliskannya di sini, adalah caraku berbagi; kebun kekata yang berisi cantiknya diksi, kejadian menarik atau petikan pelajaran yang dapat kita ambilrenungi.

Dari Eliana, Nek Kiba, Marhotap dan tokoh-tokoh lainnya dikisahkan untuk melengkapi cerita.

Karena mutiara hikmah adalah bebungaan dalam kebun kekataku.

***

Aku tertawa melihat Burlian dan Pukat terbirit-birit ke dapur. Membuat berguguran rasa sebalku gara-gara kejadian di kota tadi.

Selebaran tidak membuatnya celaka. Ketakutanlah yang membuatnya terjatuh.

Nah, Burlian, Pukat, Amel bukankah Bapak pernah berkali-kali bilang, jangan pernah takut pada sesuatu yang tidak sejati. Kalian keliru jika takut pada hal-hal remeh seperti itu. Melainkan takutlah berbuat jahat, mengambil hak orang lain. Takutlah menganiaya, berbohong, mencuri dan merendahkan harga diri. Takutlah atas hal-hal yang seperti itu, sesuatu yang lebih sejati. Maka kalian tidak akan pernah takut dengan apapun lagi.

Nasib buruk, nasib baik, mati, kecelakaan, hadiah, rezeki, hanya Allah yang mengatur. Tidak ada satupun makhluk yang berhak ikut campur. Buka presiden, bukan orang tua, bukan atasan, bukan tetangga, bukan teman, dan jelas bukan karena selembar kertas.

Dalam kehidulan kita selalu ada momen, kejadian, atau peristiwa hebat yang bisa menjadikan dua orang musuh menjadi sahabat baik.

Kalau begitu, bantuan dari luar tidak bisa diharapkan lagi. Ini masalah kita, maka kitalah yang akan menolongnya sendiri.

Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik.

Barang hilang, sungguh aneh perilakunya. Semakin dicari semakin tidak ketemu. Saat dilupakan, diikhlaskan, malah muncul sendiri di depan mata.

Tim murid laki-laki memang lebih bertenaga, lebih cepat dan lebih kuat. Kami memang kalah cepat, kalah kuat. Tapi kami lebih gesit, lebih lincah, berusaha melewati garis pertahanan mereka saat penjaganya lengah atau terprovokasi seru-seruan.

Oi, itulah hakikat sejatinya adzan, membuat terhenti seluruh kegiatan. Yang sedang masak, berhenti menggoreng. Yang sedang bekerja membangun rumah, berhenti memasang batu bata. Yang sedang mencangkul kopi, berhenti mencangkul.

Bahkan adzan ini memancing kita semua datang ke masjid kampung. Ada yang memang hendak sholat maghrib. Ada yang ingin tahu. Ada yang sekadar menonton. Terserah apa niatannya, tapi adzan ini lebih kencang dari siapapum selama puluhan tahun aku tinggal di kampung.

Orang kota bilang hanya mengambil hutan yang terlantar, padang rumput gersang, lahan-lahan kritis. Itu dusta, alat-alat berat justru dikirimkan ke hutan-hutan terbaik. Penduduk mati-matian menolak. Percuma, kekuatan orang kota jauh lebih besar dibanding yang mereka bisa bayangkan.

Herbarium adalah bagian tanaman yang diawetkan. Seperti daun yang dikeringkan, menyisakan kelopak, benang sari dan mahkota kering. Atau batang, buah, akar, apa saja dari bagian tanaman yang bisa diawetkan.

Aku tidak tahu di mana Marhotap sekarang. Tetapi setidaknya aku tahu, kita pernah bersama-sama dalam satu pemahaman. Sama-sama membenci tambang pasir itu.

Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada suatu musim di antara musim-musim. Saat ketika alam memberikan perlawanannya sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, membalas sendiri para perusaknya.

Kami tidak banyak bicara melintasi jalan setapak padang rumput. Deru napas kami yang bicara.

Bumi kita hanya satu. Milik kita bersama, yang kita pinjam dari anak-cucu kita.

Urusan ini bukan sekadar bilang 'tidak', Eli. Kita harus pintar, tahan banting dan punya daya tahan menghadapi mereka. Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan kebijakan leluhur kampung bertahan ratusan tahun.

***

That's all the quotes from Eliana I can give to you. Hopefully it inspires you in all of things. Review bukunya, Insya Allah besok. See ya!