Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2018

Inferno: An Escaping from Florence

Robert Langdon terbangun di Florence dalam keadaan ammesia. Tapi ia ingat siapa dirinya. Namun tentang dua hari sebelumnya, sama sekali ia lupa. Belum ingat apa yang terjadi, seseorang berpakaian hitam memaksa masuk ke dalam ruangannya dengan membombardir senjata dan mengenai salah seorang dokter. Dr. Marconi langsung wafat di tempat.

Bersama Sienna Brooks, dokter yang berasal dari Inggris ia melarikan diri.

Inferno, novel bikinan Dan Brown, seri Robert Langdon yang ketiga setelah Angels and Demons, The Davinci Code dan The Lost Symbol, tampil membawa isu overpopulasi; jumlah manusia yang kian hari meningkat dan membuat bumi sesak.

Dan inilah yang disebut krisis moral oleh Bertrand Zobrist, milyader dermawan pencinta berat Dante Alghieri. Penyair yang meramaikan novel ini dengan teka-teki puisinya.

The are places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.

24 Jam yang Seru
Apa yang terjadi dalam 24 jam? Bangun pagi lalu tidur lagi di malam hari? Tidak dengan Inferno. Dan Brown mengisahkan petualangan Robert Langdon dalam waktu singkat; sehari-semalam.

Dini hari ia terbangun di Florence untuk kemudian kabur dari kejaran WHO bersama Sienna Brooks. Ditemani halusinasi-halusinasi yang mendekam berat di kepala Langdon. Berbagai teka-teki yang harus ia pecahkan.

Travelling ala Inferno
Kalau di Indonesia kita punya Kang Abik. Novelis sangat detail betul akan setting tempat. Saat membaca novel beliau serasa kita sedang menjelajahi lokasi cerita tersebut.

Nah, Brown juga begitu. Jalan-jalannya pakai konflik lagi. Sedang meneleti di museum tiba-tiba dikejar polisi. Melewati taman yang terkenal itu lalu sampai Turki juga!

Iya, di Inferno kita akan bertemu Haghia Sophia dan destinasi wisata lainnya.

Belajar Diksi

The shadow began speaking now, its words muffled, whispering across the water withan eerily poetic rhythm.

Membaca dalam versi Inggrisnya membuat kita tahu bagaimana logat Brown sebenarnya. Rasanya beda karena kita langsung berhadapan dengan diksi yang dipilih pengarangnya. Real.

Bertemu Allah

Di Chapter 84 kita akan dibuat tertegun. Kita akan bertemu dengan kalimat yang bisa membuat kita masuk surga. Kalimat yang jika ditimbang bisa memberatkan. Penuh amal kita dengan kebaikan.

Aku jadi berpikir mungkin Brown muallaf? Hihi, kita doakan saja.

Novel-novel Brown kan biasanya mengangkat tentang banyak agama Seperti di Inforno ini kita akan ketemu orang-orang bercadar, masjid dan tentu saja orang Islam.

Jumat, 23 November 2018

Kepada Buya Hamka Mari Belajar Berani [Falsafah Hidup]

Falsafah Hidup karya Buya Hamka mengajarkan berbagai hal tentang hidup termasuk berani. Syaja'ah istilah kerennya. Ini penting sekali untuk kita maju.

Ma' lè tak tako'an..

Pertama kita harus semangat. Nyala yang berkobar haruslah ada di dalam dada. Kemauan yang dalam diri. Agar sikap berani bisa terealisasi.

Hal tersebut mempengaruhi hati dan jiwa. Jikalau kita sudah memiliki niat yang kuat maka mudah untuk melakukan.

Dengan sikap ini kita bisa memperbaiki mutu diri (Hamka, 2017: 261). Apalagi jika keberanian kita berlandaskan Al Qur'an. Pedoman dan tentu saja teladan dari Rasulullah.

Menurutmu apa yang paling membuat berani?

Ialah kebenaran yang menimbulkan kita berani (Hamka, 2017: 273).

Karena tahu Rasulullah menganjurkan. Karena paham Allah yang memerintah.

Maka seseorang itupun maju dengan sikap beraninya.

Meski begitu, sikap berani bukan ditujukan untuk ambil muka. Karena jika begitu riya namanya. Dan tidaklah masuk surga orang memiliki sombong sebagai sifatnya.

Falsafah Hidup Buya Hamka penuh dengan nasehat. Tak hanya tentang berani tetapi segala persoalan.

Tentang orang meninggal. Bid'ah dan larangan upacara kematian. Tentang tetangga. Tentang cinta. Pun tentang keadilan yang mesti ditegakkan.

Membaca buku ini serasa mendengar petuah seorang Tuan Guru. Seorang kakek yang penuh hikmah.

Bahasanya memang berbeda. Aksennya melayu. Dan karena rentang zaman yang lumayan; buku ini ditulis ketika Belanda masih berkeliaran di Indonesia dan sekarang telah merdeka.

Membacanya pun tak bisa sekali lahap macam menghabiskan novel. Harus dicerna maksudnya.

Untuk memksimalkan membaca ala speep reading pun tak bisa (beda kasus kalau kalian sudah expert).

Agama adalah nasehat.

Falsafah Hidup isinya semua nasehat sayang jika melewatkan halaman per halaman. Membacanya hati terasa semakin bening. Puas sudah menghatamkannya ♡

---
Judul: Falsah Hidup.
Penulis: Buya Hamka.
Tahun Terbit: Cetakan ke VI, 2017.
Penerbit: Republika.
Halaman:  XXXIV + 428.

Selasa, 19 Desember 2017

Romansa dan Budaya dalam Jane Austen's Sense and Sensibility

Romansa dan Budaya dalam Jane Austen's Sense and Sensibility

Cerita Sense and Sensibility terkesan lambat awalnya. Tokoh rekaan Jane Austen dikenalkan satu persatu dengan deskripstif di volume pertama. Sabar, itu pesan Mbak Ila ketika merekomendasikan sastra klasik ini. Alon-alon asal kelakon..

Terjemahannya enak. Ditambah setelah kuketahui salah satu translatornya adalah Prisca Primasari, one of my favourite author! Makin semangat deh bacanya. Novel-novel rekaan beliau yang ingin kukoleksi semuanya. Pertama berjumpa dengan beliau pada Will and Juliette (Lingkar Pena Publishing) dil tahun 2008. Vokalis rock and roll dan wanita Muslim, penderita rabun senja.

Karena nggak mungkin novel ini sangat begitu mengesankan hingga tak lekang oleh waktu meski ratusan tahun berlalu, jika ceritanya biasa-biasa saja. Maka dengan sabar aku menelusurinya bab demi bab.

Di volume dua, aku mulai nyaman mengikuti ritme --apalagi di volume tiga, saat alurnya semakin seru. Cara bacaku bisa memakai speed reading style. Tak lagi pelan. Aku mulai akrab dengan Marienne dan Elianor. Dua kakak beradik yang perlahan beranjak dewasa; perempuan yang mencoba mencari kisah sejati.

Muncullah Willoughby, Kolonel Brandon, dan Edward Ferras dalam kehidupan keduanya.

Kisah yang rumit karena ini terjadi di tahun 1811 (setidaknya ini tahun pertama kali Sense and Sensibility terbit). Waktu yang menunjukkan ketiadaan telepon genggam dan pesan hanya sampai melalui seorang pelayan. Sehingga kesalahpahaman dan prasangka biasa muncul dalam kelindan cerita mereka.

Undangan, pesta, dan gunjingan menjadi lifestyle yang biasa pada zaman itu.

"Aku ingin sekali mengundangmu dan adikmu. Maukah kalian datang dan menghabiskan waktu di Cleveland Natal ini? Katakan ya; dan datanglah selagi keluarga Wetson berkunjung ke tempat kami. Aku akan sangat gembira! Akan sangat menyenangkan!.." (Austen, 2016: 141).

Itu juga termasuk prestige dan cara membanggakan diri jika berhasil mengundang mereka serta menunjukkan kemewahan rumah pemiliknya. Hal itulah yang terpikir pertama kali oleh Mrs.Dashwood, ibunda Elianor ketika akan pindah rumah.

"Tapi aku berharap bisa menjamu banyak teman di sana. Kami bisa menyediakan  satu atau dua kamar; dan kalau teman-temanku tidak merasa repot bepergian sejauh itu untuk bertemu  untuk bertemu denganku, aku merasa sangat senang menyediakan tempat menginap." (Austen, 2016: 35).

Ramah-tamah dan basa-basi masih terlihat jelas dalam Sense and Sensibility rekaan Jane Aunsten ini. Novel yang telah beberapa kali diapdatasi ke film layar lebar.

Kasta dan takhta adalah hal yang sangat diperhatikan dalam pemilihan jodoh. Hal ini diterangkan Mrs. Ferras ketika Edward mengutarakan hubungannya dengan wanita.

"..Miss Morton putri seorang bangsawan dengan nilai tiga puluh ribu pound, sedangkan Miss Dashwood hanyalah seorang putri pria terhormat dengan kekayaan tak lebih dari tiga ribu pound..." (Austen, 2016: 452-453).

Memang sedari awal Fanny tak setuju hubungan anaknya dengan Elianor. Makin rumitlah jalan cerita ketika juga ada Lucy dalam kehidupan Edward. Ending-nya susah ditebak deh.

Tak hanya romansa, kulihat budaya yang masih melekat di zaman itu. Topi, seperti yang dibicarakan beruang dari pedalaman Peru dalam film Paddington, katanya dulu topi amat lekat dalam budaya Inggris. Namun sekarang sudah tergerus zaman. Dalam Sense and Sensibility ini topi muncul di halaman 429.

"Saya mengangkat topi, dan dia mengenal dan menyapa saya, lalu dia bertanya tentang Anda, Ma'am.."

Mengangkat topi adalah suatu cara untuk menyapa seseorang dengan penuh penghormatan. Seperti membungkuknya orang Jepang.

Juga kereta kuda sebagai alat transportasi mereka. Belum ada mobil ataupun pesawat. Jika tak ada kereta mereka akan bepergian dengan kuda atau berjalan kaki.

Nah latar Sense and Sensibilty-nya Jane Aunsten sangat aku sukai. Apalagi ketika berbicara tentang pedesaan. Aku membayangkannya seperti bukit-bukit di Skotlandia dan budaya yang mengelilingin. Tapi dalam cerita disebutkan bukit Allenham, tempat pertama kali bertemunya Marienne dan Willoughby.

***

Judul: Sense and Sensibility
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Prisca Primasari dan Linda Boentaram
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Enfira
Desain Sampul: AM Wantoro
Penerbit Qanita [Mizan]
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Halaman: 460

Sabtu, 16 Desember 2017

Pernyataan Sikap Anak-anak Palestina

Pernyataan Sikap Anak-anak Palestina
Zionis Yahudi telah menduduki Palestina sejak tahun 1948. Mereka datang menjajah dan memborbardir tanah air penduduk Palestina. Menghancurkan bangunan, dan membunuh kejam penduduknya.

"Aku juga gelisah dan takut karena pesawat-pesawat F-16, pesawat pengintai, dan pesawat Apache selalu menginspeksi kami, menghujani kami dengan bom fosfor yang mematikan, melempari kami dengan rudal dan mortir. Aku benci Zionis."
Yusuf, 11 tahun.

Palestina yang utuh telah terbagi menjadi dua. Kini ada negara Israel yang menduduki kota suci kita. Hanya sepetak kecil yang tersisa.

Palestina Kini.
90 anak-anak Palestina menyatakan sikapnya. Mereka menceritakan kondisi Palestina dalam buku ini: Surat Sahabat dari Palestina, Masih Adakah Harapan buat Kami? Anak-anak Palestina ini juga menuliskan perasaan, harapan mereka. Terlebih pada dunia internasional.

"Kepada masyarakat dunia aku meminta do'a dan dukungan. Doakan aku dan rakyat Palestina agar Allah meneguhkan kaki-kaki kami melawan musuh."
Alyan, 12 tahun.

Palestine will be free.

Anak-anak Palestina dengan rentang umur 7-18 tahun ini juga membisiki kita tentang cita-citanya. Mereka ingin membebaskan Palestina dari jajahan Israel dan menghafal Al-Quran. Tentu saja itu cita mereka yang paling utama.

Setiap anak menyebutkan mimpi-mimpi mereka. Majdi (8 th) ingin menjadi tentara pembela negara. Sama seperti Ahmad (9th) yang ingin menjadi mujahid Palestina. Dan kelak ketika besar, Umar (7th) ingin menjadi dokter agar dapat membantu saudara-saudaranya yang sakit dan cedera.

Tak hanya warga Palestina yang berduka cita, namun seluruh muslim dunia. Al Quds, Kiblat pertama muslim. Tempat Nabi Muhammad mengimami ratusan Nabi. Tempat Rasulullah berhenti sebelum pergi ke sidratul Muntaha bertemu Allah 'azza wa jalla.

Dan Al-Quds adalah milik kami dan bukan untuk dijadikan ibu kota Israel!

Dome of the Rock (kubah emas) dan Masjid Al-Aqsha (kubah hijau keabuan) di Yerussalem timur.

"Kalau aku sudah besar, aku bercita-cita untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha dan shalat di dalamnya. Aku juga bercita-cita menghancurkan  kekuatan Israel dan melenyapkan pendudukan Israel atas tanah tumpah darah kami di berbagai penjuru negeri Palestina. Semua itu kulakukan karena itulah hak kami. Kami hanya ingin mengambil hak kami, lain tidak..."
Sha'ib, 15 tahun.


***

Judul: Surat Sahabat dari Palestina, Masih Adakah Harapan buat Kami?
Penyusun: Komite Nasional untuk Rakyat Palestina
Penerjemah: Ali Ghufron dan Darsim Ermaya I.F.
Penerbit: PT Era Adicitra Intermedia
Cetakan: Kedua, Jumadat Tsani 1436
Halaman: 225 halaman

Selasa, 05 Desember 2017

Burlian si Anak Spesial

Burlian si Anak Spesial
Burlian si anak spesial, begitu Mamak, Bapak, Wak Yati, Bakwo Dar dan lingkungan memanggilnya. Bukan dengan sebutan ia si anak nakal atau pembangkang.

Anak-anak Mamak tumbuh dengan lingkungan positif. Julukan positif meskipun kadang harus diteriaki beberapa kali oleh Mamak baru mau menurut.

Amelia, si bungsu, si kuat. Burlian si anak spesial yang suka berpetualang. Pukat si anak pintar, pandai dan selalu bisa menjawab segala pertanyaan. Eliana si sulung yang pemberani, melindungi harta berharga kampung dari jarahan orang kota.

Setiap anak memiliki karakternya sendiri. Dalam Burlian, Tere Liye menegaskan bahwa ia adalah anak Mamak yang spesial. Walaupun 'bandel'nya luar biasa juga.

***

Mainan ala Anak-anak
Tak ada gawai, tentu saja. Mainan Burlian adalah otok-otok yang dibuat Pukat. Bisa saja mereka membelinya di pasar kecamatan, tapi apalah daya dompet yang tak beruang. Lagipula Pukat si pintar bisa membuatkannya dengan otak cemerlang.


Jika dalam Eliana, partner-nya melawan orang kota adalah Marhotap, Burlian memiliki karib yang bernama Ahmad. Teman yang sangat mahir bermain bola. Di lapangan bekas pabrik karet mereka bertanding di sana. Sangat seru. Orang sekampung menonton dan mengelu-elukan keduanya hingga peristiwa naas itu terjadi.

SDSB! Mainan yang dicoba Burlian ini membuat Mamak geram. Bahkan Nek Kiba di surau juga ikut turun tangan. Soalnya pemuda-pemuda kampung juga main. Burlian dibilangin juga nggak boleh tapi tetep aja cobacoba.

Main ala Burlian berarti mendekati yang terlarang. Ada untungnya juga, dia bisa bertemu dengan orang Jepang, meneropong bintang dan makan ayam hutan.

Nakamura-san yang membongkar bahwa makan di kasur itu tak apa asal dia tidak meninggalkan remah-remah. Membereskannya kembali sebelum Mamak mara-marah.

Berpetualang bersama Mang Unus
Serial anak Mamak lainnya pun melakukan hal serupa. Mang Unus adik kandung Mamak. Dengan motor trail, dibawanya secara bergantian anak Mamak ke tempat-tempat spesial di seluruh penjuru kampung.


Bersama Burlian, anak ketiga Mamak, mereka melewati hutan dan memasuki gubuk larangan. Ada 'putri mandi', 'harta berharga kampung' yang harus dilindungi dengan cerita seram dan bumbubumbunya.

Tapi Mang Unus membongkarnya rahasia tersebut. 'Putri mandi' yang langka, di tempat seram; gubuk larangan.

Memperjuangkan Pak Bin
Pak Bin, guru satu-satunya di sekolah. Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia diajari oleh guru yang sama, Pak Bin. Bertahun mengabdi pada bangsa, mengajar anak-anak di pedalaman Sumatera belum pernah sekalipun ia diangkat menjadi PNS.


Sekolah roboh dan menjadi anak spesial yang masuk televisi dijadikan kesempatan oleh Burlian untuk memperjuangkan Pak Bin. Di hadapan wartawan ia ungkapkan semua keinginannya.

***

Kutaksir setting cerita karangan Tere Liye ini tahun 1980an. Televisi masih hitam putih dan hanya TVRI. Listrik belum sempurna masuk desa. Malam mereka cahayakan dengan canting-canting di rumah atau obor ketika akan pergi keluar. Seperti pulang-pergi mengaji di rumah panggung Nek Kiba.

***

Senin, 04 Desember 2017

My Hijab My Hijrah: Langkah Istiqamah Akhwat UTM

My Hijab My Hijrah: Langkah Istiqamah Akhwat UTM
Membaca My Hijab My Hijrah karangan akhwat UTM (Universitas Trunojoyo Madura) bagiku seperti kegiatan menambal lubang-lubang iman yang terkikis syubhat tak tentu arah. Charge yang selalu berfungsi meski telah membacanya berkali-kali. 

Memberikan pemahaman baru. Serta semangat untuk tetap istiqamah mempertahankan idealisme yang amat prinsipil. Jilbab yang sesuai syariat; menutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan kaki, tebal tidak menerawang, tak serupa lelaki dan kerudung minimal menutup dada.

Mereka perempuan-perempuan hebat yang tetap tegar meski lingkungan atau bahkan keluarga menolak perubahan dengan sangat jelas. Bahlan ada akhwat yang rela dipukuli keluarganya demi mempertahankan jilbab.

Fenomena ini membuatku tersadar kita belum merdeka. Setidaknya dari sekitar. Kita tahu setiap orang memiliki haknya masing-masing, tapi masih saja ada yang tidak terima. Berjilbab memang diperbolehkan tapi ada sekolah yang melarang.

Buku-buku atau kisah semacam ini adalah penguat bagi kita; perempuan akhir zaman yang mengalami banyak fitnah dunia. Baju seksi yang menggoda iman para lelaki terlihat berseliweran di sana-sini.

Ketika kita memutuskan hijrah, terkadang semuanya berjalan tak sesuai dengan semestinya. Ada batu-batu kerikil yang menghalangi. Cerita ini adalah langkah wa tawashau bil haqqi wa tawashau bis shabri.

Saling mengingatkan bahwa mereka pun mengalaminya. Perjalanan mereka pun tak mudah. Tapi mereka percaya ada Allah Sang Penolong, tempat mengadu yang selalu ada saban waktu. Pada janji-Nya mereka percaya. Surga yang menawan jiwa serta perjumpaan nan angung dengan Sang Maha.

Dan Allah akan menjadikan segalanya indah.

21 perempuan mengisahkan kisah hijrahnya di sini; My Hijrah My Hijrah. Dibawakan dengan mengharu-biru, menggelikan yang membuat sejenak kita tertawa dan senyum-senyum sendiri.

Baca dan temukan getar imanmu di sana!

***

Judul: My Hijab My Hijrah
Penulis: Ani Marlia, dkk
Halaman: 198 + XVIII
Penerbit: Minhaj Press
Editor: Tim Press 'n IT
Desainer Sampul: Insan Muplihah
Layouter: Shofia Asri


***

Buku dapat dibeli seharga Rp 42.000 dan dapatkan diskon sebanyak 20% dengan mencantumkan kode 'ISTQAMAH BERHIJRAH' pada pemesanan. Bisa diorder melalui nomor telepon genggam berikut ini: +62 857-3032-9959.

Jangan lupa sertakan kode uniknya agar kamu bisa menghemat pengeluaran berbelanja. Sisanya bisa ditabung untuk masa depan atau bersedekah untuk orang di sekitar.

Minggu, 12 November 2017

Eliana dan Kekuatan Orang Kota

Eliana dan Kekuatan Orang Kota
Petualangan si Anak Sulung
Tere Liye menghadirkan petualangan sesungguhnya dalam Eliana. Bukan fiksi fantasi semacam Geng Raib, Ali dan Seli.

Dialah Eliana sang tokoh utama. Anak sulung Mamak.

Eli, anak SD kelas lima bersama teman-temannya yang dinamai geng Empat Buntal. Empat Buntal yang beraksi dengan cerdas. Menerobos hutan, melompat di dalamnya sungai berpenghuni buaya. Anak-anak desa dari pedalaman Sumatera melawan orang kota.

Ya! Petualangan Eliana, adalah tentang keheroikan anak-anak yang ingin menjaga alam dari keserakahan orang kota.

Orang kota datang mengeruk pasir di sungai. Membuat bising desa. Membuat ikan-ikan pergi.

Komentarku
Huuu, aku berseru kegirangan. Marhotap datang! Aku tahu dia sang penyelamatnya. Mungkin kisahnya akan mirip dengan Mamak dan Bapak waktu muda. Kukira awalnya begitu.


Ssstt, dalam kisah ini diceritakan asal muasal kisah mereka. Mula saat Bapak bertemu Mamak pada sebuah kejadian di kereta. Kalau nak tahu, bacalah.

Seru dan tentu saja mengharu biru khas Tere Liye.

Aku suka penokohan Eliana. Dia berani sekali melawan orang kota. Tak peduli itu bupati, konglomerat kaya raya, maka kebenaran tetap harus ditegakkan. Dan itu cita-cita Eli. Menjadi pembela kebenaran.

Pekerjaan apakah itu? Di bab-bab terakhir Eliana menemukan keinginan masa depannya.

The Connecting Dots
Tentu saja Eliana juga dimeriahkan oleh adik-adiknya. Cerita tak hanya bekerja seorangan. Sepi dong jadinya. Pukat, Burlian dan Amelia hadir melengkapi cerita.


Ada Pak Bin, Nek Kiba dan yang lain juga lho. Karena manusia makhluk sosial ^^

Tingkah laku anak-anak Mamak tersebut mengingatkanku pada Faza, sepupuku yang umurnya sekitar 9 tahun. Berani mengendarai motor naik turun bukit berbatu. Naik-naik pohon, mobil..

Faza sangat antusias dan berbinar kesenengan melewati jembatan Suramadu untuk pertama kalinya. Sama dengan salah satu adegan, ketika teman Eli naik kereta.

Kalung istimewa Marhotap juga membuatku serasa dejavu. Dengan kalung Delisa. Adegan yang sama-sama ditampilkan di akhir cerita.

The Minus
Kekurangannya apa yaa. Aku hanya menemukan satu typo. Coba cek di halaman 372.


Lainnya, hmmm..

Karena aku sudah membaca Amelia, Burlian dan Pukat, jadi aku bisa menebak-nebak. Haru yang kurasakan tak terlalu haru seperti dalam novel Burlian. Serial anak-anak Mamak yang kubaca pertama kali.

Tapi tetep aja sih, ada adegan yang mewek.

Konflik Terselubung
Konflik di Eliana banyak. Banyak. Namanya juga novel. Kalau satu, nanti jadinya cerpen.


Kasus bando istimewa pemberian Wak Yati. Perahu otok-otok Burlian dan Pukat. Tapi detail-sangatnya ada di serial Pukat. Tinta pena Burlian yang cepat habis. Selain melawan orang kota itu sebagian konfliknya.

Konflik terselubung di sini maksudku ada karya yang mengkritisi keadaan sekitar.

Lawan dengan karya. Berhenti nyinyir dan debat di Fesbuk. Gitu kata Bang Tere pas seminar kemarin. Menghadirkan opini dalam bentuk karya sastra adalah something impressive.

Eliana, menampilkan kasus terselebung terjadi di Indonesia. Kasus nenek pencuri kayu bakar, bisnis properti yang suka mengeruk pasir di sungai, perusahaan kelapa sawit yang menebang hutan sembarangan.

Segenggam Berlian
Dari Eliana aku belajar tentang detail. Seorang bapak yang asyik membaca koran di beranda mugkin hanya selingan belaka. Tapi hobi bapak Amelia berpengaruh besar pada cita Eliana di masa depan.


Eits, ternyata aku salah menyebut nama. Maksudku Eliana, bukan Amelia. Itulah mengapa dulu tahun lalu aku salah mengambil buku. Maunya beli cerita si sulung, eh malah si bungsu.

Hikmah lainnya kutulis di quotes ^^

Selasa, 24 Oktober 2017

Meneladani Abu Bakar: Sahabat Utama Rasulullah

Meneladani Abu Bakar: Sahabat Utama Rasulullah

Abu Bakar As-shiddiq, begitu sahabat utama Nabi ini mendapat julukan. Gelar kehormatan yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Isra' Mi'raj. Pagi itu orang-orang seperti biasa berkumpul di Ka'bah. Rasulullah juga di sana, khusyuk beribadah kepada Allah. Sedang Abu Jahal mengoloknya tak percaya, "Mana mungkin Muhammad semalam melakukan safar ke Palestina. Padahal sekarang ia sudah berada di sini."

Orang-orang yang tak sengaja bertemu dengan Abu Jahal juga banyak yang terpengaruh.

Riuhlah Makkah. Benarkah?

Berita itu pun sampai pada Abu Bakar. Mendengarnya, bergegaslah ia. Menemui sang sahabat. Menanyakan kebenaran.

Seketika itu, saat perjalanan Isra'-Mi'raj terucap dari lisan Muhammad. Seketika itu Abu Bakar mempercayai sang sahabat. Sepenuhnya.

"Engkaulah As-Shiddiq, yang mempercayaiku tanpa ragu."

Sejak itu ia dipanggil dengan nama Abu Bakar As-Shiddiq yang pada masa jahiliyah bernama Abdul Ka'bah. Teman-temannya memanggil Abu Bakar dengan nama Atiq.

Sumarti M. Thahir mengisahkannya dengan sangat lugas. Meski diperuntukkan pada anak-anak bahasanya kurasa dipilih secara ketat dan tetap menghasilkan haru yang membiru.

Meski begitu, para sahabat memang teladan yang patut kita tiru. Tak peduli siapa yang menceritakannya kepada kita.

Buku Abu Bakar As-Shiddiq: Sahabat Utama Rasulullah ini dimulai sejak masa kanak beliau. Bernama Atiq, ia sudah menunjukkan keraguannya pada patung di sekitar ka'bah. Itulah mengapa ayah Abu Bakar menyebutnya pembangkang.

Allah menjaganya dari syirik.

Hatta pada saat remaja, bersama Nabi ia menjalin pertemanan. Dan kemudian menjadi yang pertama beriman.

Penulis buku ini menceritakan Abu Bakar sedang melakukan perdagangan di Syam kala wahyu pertama turun. Tapi tentu saja, ini tidak menghalangi Abu Bakar menjadi as-saabiquunal awwalun, orang-orang yang pertama masuk Islam. Serta satu di antara yang dijamin masuk surga.

Berkat pertemanan iman itulah, ilmunya semakin tambah dan qanaah.

Pernah suatu waktu para sahabat mengumpulkan harta benda mereka untuk keperluan perang. Adalah Abu Bakar yang menginfakkan seluruh miliknya tanpa tersisa.

Bukan hanya dermawan, ia adalah karib yang menenangkan. Kala di Sumur Badar, Nabi sempat galau karena pasukan muslim hanyalah sedikit.

"Sesungguhnya Allah akan menenangkan hatimu. Dan takkan pernah membiarkanmu kecewa. Tenangkan hatimu, Ya Rasulullah."

Abu Bakar adalah sahabat yang paling tegar. Tatkala Muhammad wafat, banyak yang tak percaya. Bahkan Umar menghunus pedangnya. Jika ada salah seorang yang mengatakan kepergian Rasulullah untuk selamanya.

"Bukankah Muhammad adalah manusia sebagaimana diutusnya rasul Allah sebelum beliau. Barangsiapa yang menyembah Muhammad ia telah wafat. Barangsiapa beriman kepada Allah dan menyembahNya. Maka Allah kekal selamanya.."

Nasehat Abu Bakar membuat Umar lansung pingsan.

Karena selayaknya jika ada seorang sahabat yang sangat berduka, dialah Abu Bakar. Sahabat utama, karib paling dekat dengan Rasulullah.

Abu Bakar menjadi khalifah kemudian. Setelah sebelumnya terjadi sengketa. Orang Anshar membaiat Sa'ad bin Ubaidah. Sedang Umar membersamainya 'melerai' orang Madinah. Lalu As-Shiddiq merelakan salah satu di antar Umar dan Abu Ubaidah menjadi khalifah selanjutnya.

Namun kaum muslimin lebih memilih Abu Bakar. Karena pemimpin sejati adalah yang dipilih umat bukan ia yang meminta.

Khalifah kita ini wafat di usia 63. Tepatnya tanggal 22 Jumadil Akhir, tahun 13 Hijriah.

Overall, buku shirah ini bagus buat tambahan bacaan buat Dek Wafi. Rekomen buat pembaca lainnya. Ada peta perang dan ilustrasinya juga. Cocok buat anak umur >6 tahun. Cuma ada ilustrasi yang menurutku kurang sesuai.

Rumah istri-istri Nabi dalam buku Ummahatul Mu'minin tulisan Muhibbudin At-Thabari kesemuanya terbuat dari pelepah kurma. Kecuali rumah Ummu Salamah yang terbuat dari batu bata.

Tapi yaa karena buku anak-anak kebanyakan ada ilustrasinya walau satu-dua. Etapi sekarang Dek Bela dan Dek Wafi sudah mau baca buku-buku Tere Liye; Serial Anak-anak Mamak, Bintang yang tidak ada ilustrasinya sama sekali.

Empat bintang buat buku ini! Dek Wafi masih suka sebut-sebut cerita Abu Bakar, "Mbak waktu Abu Bakar jadi khalifah... bla.. bla.." Meskipun bacanya sudah seminggu lalu.

☆☆☆☆

Judul: Abu Bakar As-Shiddiq: Sahabat Utama Rasulullah
Penulis: Sumarti M. Thahir
Penerbit: PT. Citra Putra Bangsa
Cetakan: Keempat, 2009
Halaman: 45


Senin, 18 September 2017

Oleh-Oleh dari Petualangan Klan Bintang

Setelah menjelajahi Klan Bumi, Bulan dan Matahari, kali ini Raib, Seli dan Ali melanjutkan petualangan keempat mereka. Menuju Klan Bintang yang berada di perut bumi!


Tere Liye berhasil menjabarkan teori monomyhth dalam kisah fantasinya dalam Bintang. Meski kuaki alur awalnya masih bertele-tele. Basa-basi, khas Indonesia yang mengedepankan sopan-santun. Setidaknya begitu harfiah yang dibawakan KBBI.

Bab pertama bercerita soal Pak Gun dan penjelasan biologinya mengenai lungfish. Ikan yang bisa bertahan selama puluhan tahun dalam tanah kering. Bahkan ketika tanah tersebut dijadikan bangunan. Dan meskipun ada si ikan terjebak di sana. Ia akan kembali hidup jika hujan datang menimpanya.

Aku membayangkan Dory ikan dengan mata membesar. Oh imutnya!

Itu bab yang aku tawarkan pada Bela. Adikku yang masih duduk di kelas lima esde. Dia awalnya tak mau membaca buku itu. Katanya, sampulnya seram. Banyak monsternya. Pikirnya, isinya pasti tak jauh-jauh dari itu.

Tapi kudesak ia dengan hanya membaca bab pertama. Dia setuju. Hanya satu bab saja. Kutinggal rehat dan ketika mataku terbuka ia masih dengan novel Bintang.

Tuh kan Dek. Besok-besok kau akan mengerti perihal don't judge book by its cover.

Sejujurnya aku juga setuju dengan Bela akan sampul yang menyeramkan itu. Deskripsi yang menerangkan petualangan ketika bocah SMA saat mereka menghadapi laba-laba raksasa pemakan ternak.

Ya, anak SMA. Padahal dari awal, imajinasiku membayangkan para pemeran Bintang adalah anak-anak. Macam Burlian atau Amelia gitu. Haha, ternyata salah telak. Wah, gegara serial anak-anak Mamak nih.

Karena sudah terlanjur, bayanganku tak jauh dari itu. Pilihan imajinasiku membawa tiga tokoh Bintang jatuh pada anime Free yang imut. Anak SMA yang imut. Nah, itu baru benar.


Balik lagi soal sampul. Laba-laba raksasa dan kucing hitam. Padahal si kucing tidak tampil untuk memerankan satu adegan pun. Namun, nyatanya itu yang disajikan di depan. Tampak seperti monster menakutkan. Kenapa tidak Ruangan Padang Rumput dengan gemericik sungai yang menentramkan saja? Atau Pulau Pesisir Tenggara dengan laut, sunset dan pasirnya yang lembut. Itu lebih menakjubkan menurutku. Lebih catchy.

Ah, kumaha Orkha Creative lah sebagai desainer.

Iya lho, informasi pada halaman keempat hanya memberi tahu soal perancang sampul. Layouter dan editornya tidak disebutkan. Ini mencurigakan sekali bukan. Jangan-jangan Bang Tere membuatnya sendirian. Dan kuhitung hanya ada satu typo. Masya Allah, kerennya. Two thumbs up!

***
Judul: Bintang
Penulis: Tere Liye
Halaman: 380
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, Juli 2017
Desain Sampul: Orkha Creative



Kamis, 03 Agustus 2017

Menata Hati Bersama Imam Al-Ghazali

Sabar. Itu poin pertama yang melekat di pikiran setelah membaca buku ini. Soalnya tadi sudah nulis banyak. Tulisannya tinggal beberapa kalimat. Tapi lantas hilang tak bersisa dan aku harus menulisnya kembali dari awal.


Sabar. Karena dalam Ali Imran ayat 186 tertulis di sana bahwa sabar adalah sikap utama yang harus dimiliki oleh orang yang bertakwa. Dan Imam Ghazali juga mengingatkan kita akan Surat Az-Zumar ayat 10 yaknk hanya orang-orang yang bersabarlah, yang Allah beri pahala tanpa batas.

Pun Rasulullah juga bersabda, la taghdab wa lakal jannah. Janganlah kamu marah surga untukmu.

Setimpal, karena menurut Ifa Avianty, Putri Salju yang baik hati bisa berubah sikapnya seperti ibu tiri kala marah. Menyeramkan sekali bukan.

Pangeran yang biasanya jadi pahlawan pun 180 derajat berbeda sikapnya kala marah. Laiknya penjahat kelas kakap yang kehausan darah. Ups, kayaknya ini berlebihan pemirsa.

Tapi jika itu fakta, kita tetap berharap orang-orang yang dikuasai amarah kembali lagi ke jalan yang benar.

Tips dari Rasulullah. Jadi jika kamu marah saat berdiri, duduklah. Berbaringlah jika belum juga reda. Lalu sholat dan membaca quran agar hati kembali tenang.

Perkara hati menjadi perhatian utama Imam Al-Ghazali. Karena jika hati nggak karuan. Sulitlah untuk bisa fokus beribadah. Keikhlasan berkurang. Mau qanaah rasanya susah dan bawaannya riya' melulu. Astaghfirullah.

Jadi apa gunanya beribadah selama 70 tahun jika hanya seperti mengisi ember bocor. Na'udzubillahi min dzalik.

Imam Ghazali mengajari kita untuk dzikrul minnah. Mengingat segala kekuasan Allah, kebesaranNya. Agar kita tidak takabbur. Untuk tidak thulul amal, alias lebih banyak berangan-angan daripada beribadah. Sholat tapi mikirin A-B sampai Z.

Itulah mengapa Imam Ghazali menempatkan hati sebagi porsi paling banyak untuk dibahas. Kita memang diperintahkan menjaga mata untuk tidak bermaksiat. Tapi dengan menutup pandangan jadilah sekeliling gelap. Lisan bisa berbicara banyak. Dengan mengatupkannya, berhentilah ia berkata-kata.

Namun hati, meski semua anggota badan diam tak bergerak. Hati bebas berkeliaran siang malam. Boleh berpikir apa saja.

Kita sebagai raja, tentulah sangat disarankan untuk bisa menata hati. Agar ia lebih condong pada Allah. Jadi kalau mau marah ingat Allah. Ingat surga yang dijanjikan. Ingat bahwa amarah itu hanya sementara dan sebentar lagi reda jika kita mengikuti saran-saran dari Rasulullah.

Ingat dampak amarah yang bisa saja membuat orang lain terluka. Bisa hati, bisa juga fisik. Hanya dikarenakan emosi yang tak terkendali. Allah, Allah, Allah!

Jangan karena Allah memberi kita lima emosi, maka marah pun dipakai dengan alasan biar tidak mubadzir. Duh.

Sebenarnya marah pun bisa diarahkan dengan baik. Misalnya marah dengan Israel yang menjajah Palestina bertahun-tahun. Marah dengan pemerintah yang pro Zionis contohnya. Seperti kata Asma Nadia, istilahnya, dendam positif.

Namun dibalik itu semua, aku masih bertanya-tanya, benarkah penulis buku ini Imam Al Ghazali? Soalnya beberapa kali tertulis kata penyusun di sana. Ada tulisan, "Imam Ghazali berkata..." di halaman 366.
Di sampul depan tertulis Imam Al Ghazali, namun di dalam buku tercantum Imam Al Ghazaly. Entah itu typo atau memang beda orang.

Hal menjanggal lainnya adalah ada beberapa hadits atau kisah yang sanad atau riwayatnya tidak dijelaskan dari siapa dan siapa. Tidak seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang fenomenal itu, beliau menyebut mana yang berstatus shahih, hasan bahkan yang gharib.

Terlepas dari itu. Yuk move on. Kalau belum bisa menata hati, bisa baca buku ini.

***
Judul: Minhajul Abidin: Petunjuk Ahli Ibadah
Penulis: Imam Al Ghazaly
Penerjemah: Abul Hiyadh
Penerbit: Mutiara Ilmu
Cetakan: Pertama Muharram 1416
Halaman: 390


Jumat, 28 Juli 2017

Belajar dari 101 Dosa Penulis

Dosa adalah kesalahan. Darinya kita belajar agar menjadi lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Isa Alamsyah, suami Asma Nadia membocorkan kepada kita 101 Dosa Penulis Pemula. Tentunya agar kita mengambil hikmah. Belajar untuk tidak mengulanginya. Tobat euy, tobat!

Buku ini diawali dengan berbagai jenis pengulangan yang sering dilakukan oleh penulis. Seperti terlalu banyak aku dalam satu kalimat. Menerangkan yang sudah jelas. Klise tapi sering terjadi.


Aku masuk ke kelasku sambil kubawa buku sejarahku yang lumayan berat. Baru saja kumelangkah, sahabatku yang selalu membantuku di saat aku sedang kesulitan, memanggilku dari jauh.

Ups.

Dosa lainnya adalah konflik dan detail. Terkadang seorang penulis tidak fokus dengan apa yang ingin dia sampaikan. Tulisan yang harusnya hanya membicarakan satu pokok permasalahan lantas melebar ke mana-mana. Dan detail yang tidak perlu menjadi ada.

Pak Isa mengisyaratkan hal tersebut dengan penulis mabuk. Bicaranya banyak tapi maksud dari yang dikatakan tidak ada. Fokusnya hilang.
Beliau mengibaratkannya dengan drama yang membosankan. Apalagi jika lead atau opening tulisan tidak membuat pembaca tertarik. Mereka pergi begitu membaca paragraf pertama, atau bahkan hanya kalimat pembuka.

Itulah pentingnya belajar mengaplikasikan teknik-teknik yang benar pada tulisan.  Cara tertentu yang harus kita pelajari. Tentunya menulis berita berbeda dengan menulis puisi.

Di dalam buku ini Pak Isa memaparkan beragam contoh. Sampelnya diambil dari anggota KBM (Komunitas Bisa Menulis) di Facebook.


Sedangkan untuk shirathal mustaqim alias tulisan yang sesuai kaidah, banyak mengambil ilustrasi dari adegan film-film luar negeri. Kamu bisa mencatat judul dan mengunduhnya sebagai bahan ajar. Contekan biar tulisanmu makin indah di mata pembaca.

Menurutku buku ini nggak hanya cocok untuk pemula. Penulis profesional pun butuh mengoleksi karya Pak Isa sebagai bacaan. Tentunya agar sehabis membaca mereka bisa langsung praktek. Karena tuntutan profesi kan.

Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah yang diamalkan? Tambah nafi' wes.

Melihat semua seluk-beluk kepenulisan dikupas habis di sini, Dari A sampai Z! Itu membuatku memberi empat bintang dari lima.  Titik koma penulisan dialog hingga PoV [point of view] dan pemilihan diksi juga dibahas.


Kerennya lagi, buku 101 Dosa Penulis Pemula hanya disusun dalam jangka waktu sepekan! Masya Allah. Tujuh hari menulis tanpa henti. Buku setebal 318 halaman.

Karena gigih dan nekat juga perlu menjadi mental penulis. Pun semangat pantang menyerah. Louis L'Amor, pernah ditolak sebanyak 350 kali. Namun kini memiliki lebih dari 100 buku. Ya, beberapa bab terakhir membisikkan kita sekian motivasi agar terus melanjutkan tulisan. Meneruskan perjalanan literasi tanpa takut patah hati ditolak kepala direksi.

Yuk! Taubat, yuk.. biar nggak dosa.

Alias,
terus berlatih agar tulisan kita makin kece.


***
Judul: 101 Penulis Pemula
Penulis: Isa Alamsyah
Penerbit: Asma Nadia Publishing House
Halaman: 318



Rabu, 19 Juli 2017

Menjejak Karya Angkatan '45

Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2, begitu judul buku yang sempurna disusun H.B. Jassin di tahun 1948. Antologi yang berisi kumpulan sajak dan cerita karangan pujangga angkatan '45. Penyair favorit kita, Chairil Anwar hadir dengan 9 karya sastra pilihan. Aku yang fenomenal itu bahkan ada di urutan pertama yang tampil di hadapan pembaca.


Ada 21 pujangga yang ikut terangkum oleh H.B. Jassin. Jadi tak hanya Bung Chairil saja. Tercantum di sana Asrul Sani, Sakti Alamsyah, Abas Kartadinata dkk. Kesemuanya lelaki kecuali Siti Nuraini dan Samiati Alisjahbana. Itu perkiraanku saja. Menebak gender dari nama.

Penulis-penulis itu ditampakkan lengkap dengan biografi singkat sebelum pergelaran karya di dalam buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2. Dari paparan H.B. Jassin yang tertera di sana lantas kutahu semua-muanya adalah orang berpendidikan.

Dan kebanyakan pujangga-pujangga kita alumni sekolah Belanda yang lahir di tahun 20-30an. Itulah mengapa banyak berpengaruh dalam sajak atau cerita yang mereka karang.

Jikalau Aku adalah puisi yang kusuka di antara lainnya, maka dari kalangan (bangsawan :p) prosa aku menikmati karya Abas Kartadinata. Tulisannya berjudul Tidak Bernama beralamatkan halaman 174-184. Berkisah dua anak kembar yang bercengkrama di dalam rahim sang ibunda.

Mereka berdiskusikan suara-suara yang datang di telinga. Tak hanya berdua, keping-keping darah yang ada di sekitar pun diajak bercengkrama. Hingga lahir mereka tetap tak bernama.

Aku pun tertegun dalam puisi Asrul Sani berjudul Surat dari Ibu. Puisi beralamatkan halaman 102 ini adalah sajak yang aku nyanyikan saat kelas VII SMP. Bu Sahliah, sang guru Bahasa membagi dan menyuruh kami mengkreasikanny dengan nada dalam kelompok-kelompok. Cara mengajar beliau selalu unik. Membuat kami semakin mencintai sastra.

Kembali pulang, anakku sayang

Kembali ke langit malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu, pagi hari."


Karya lainnya lebih banyak menceritakan zaman mencekam. Serdadu Belanda-Jepang yang masih berada di Indonesia hingga penyakit menakutkan, mematikan; TBC, terlihat biasa mondar-mandir di antara karya satu dan lainnya.

Masyumi turut menjadi topik menarik di dalam buku ini. Menyaingi kehadiran anggur dan perempuan. Ini pasti dikarenakan, this party very incredible at that time. Pengen baca banyak tentang Masyumi. Apalagi buku most-favenya Pak Rafif, kepala sekolah Reading Challenge bertemakan Masyumi. It makes me more curious about.

However, penulisan dan pilihan kata yang dipakai para penulis menjadi perhatian tersendiri. Tertulis di zaman perang dan pemulihan bangsa, diksi kata yang dipilih tak sama dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang kita kenal sekarang. Kita tahunya 'suster' tapi di halaman 178 dan 273 tertulis 'zuster'. 'Pulpen' di zaman itu familiar dengan 'vulpen'. Pun 'uang' yang banyak tersebar di sekian prosa masih terejakan 'wang'.

Puisi dan prosa yang terkumpul dalam Gema Tanah Air ini tak semuanya baru. Banyak yang sudah terpublikasikan. Di bagian akhir karya tertulis nama-nama media yang pernah memuat sebelumnya. Zenith, Mimbar Indonesia, Siasat, Panca Raya, dan Kisah di sanalah H.B Jassin memetik bibit-bibit bunga hingga jadilah kebun kekata bernamakan Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2.

Antologi karya yang membuat pikiran kita lebih terbuka. Karena kita lebih tahu. Dengan karya penulis papan atas, selain menambah khazanah keilmuan, in this case sejarah bangsa, juga memperkaya diksi. Terlebih aku yang menyukai puisi.

***
Judul: Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2
Penyusun: H.B. Jassin
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: pertama - 1948, kesepuluh - 1993
Halaman: 278


Rabu, 12 Juli 2017

Keabadian Cinta Taj Mahal


Taj Mahal berasal dari kata Mumtaz Mahal yang berartikan Istana paling Istimewa. Ialah panggilan sayang sang raja pada permaisurinya. Namun bukan hanya itu, istana putih berpualam di India itu tidak hanya perwujudan rasa Shah Jahan. Ustadz Isa, sang arsitek, menanam pula romansanya di setiap inci mahakaryanya.

India telah dikuasai Islam pada saat Taj Mahal dibangun. Pun dengan raja mereka. Seneng banget, ketika Al-Qur’an terlantun merdu dalam romansa ini. AyatNya menjadi pembuka salah satu chapter di sana.

Aku jadi teringat Takudar. Rindu dengan penguasa Muslim Mongolia yang pertama, setelah Takhta Awan, aku masih menanti sekuel selanjutnya, semoga segera. Kita doakan saja.

Kembali cinta yang mengabadikan dirinya pada sinar terang di malam purnama. Taj Mahal, karya John Shors juga menampilkan kisah tentang ketegaran. Pada Jahanara sifat itu terpancarkan. Sang Putri yang merupakan cerminan kecantikan sang Ibunda. Aku belajar banyak padanya. Belajar menjadi cerdas, karib yang menyenangkan dan bagaimana berdiplomasi dengan para ningrat tanpa menimnulkan kecurigaan dan perpecahan.

Sama seperti kisah kerajaan yang pernah kau tonton atau terbaca dari buku-buku, romansa dari India ini sarat dengan adegan pengkhianatan, penggulingan takhta. Pernikahan politik atas dasar perluasan daerah atau perdamaian dengan penguasa lainnya juga terjadi di sini.

Membaca Kehidupan
Penerjemahan
Cara Meithya menerjemahkan buku sekitar 500 halaman ini memukauku. Ia pintar sekali memilih dan memilin kata menjadi sedemikian sempurna. Aku beberapa kali mencicipi kualitas terjemahan yang buruk, jadi kuacungi jempol pada sang penyunting.

Rembang petang, katanya beberapa kali terlihat dalam pilihan katanya. Rembang semakna dengan tepat betul, pada puncaknya. Itu terdengar hebat menurutku. Juga bagaimana Meithya mengambil kata sebagai diksi dalam terjemahan di seluruh suntingnya. Sangat nyastra, I want to be like her, someday. An incredible professional translator or even interpreter. 

Dekorasi
Sang Arsitek
“Kita membutuhkan orang-orang terbaik sedunia, Jahanara. Aku tak peduli negeri mana yang kausebut rumah.”

Taj Mahal membutuhkan dua puluh dua ribu pekerja yang berasal dari mancanegara. Pun beberapa ahlinya, berasal dari Eropa. Isa, sang arsitek tak peduli. Ia paham betul bahwa bangunan impian sang raja haruslah yang terbaik. Maka the experts pun ia panggil dari seluruh dunia.

Sayangnya Shors tak menceritakan dari mana Isa mempelajari seni yang sangat indah itu. Apakah ia lulusan universitas ternama atau, kursus paling mahal di dunia. Eh, dulu mah mana ada ya. Yang jelas dulunya ia lahir dan besar di Persia. Melihat betapa fenomelnya istana yang ia dirikan, aku jadi mengerti, cintalah yang menampakkan rasa pada karyanya.

Pengen deh rasanya manggil Ryan tokoh utamanya Diorama Sepasang Al Banna dan Dilatasi Memori untuk berkolaborasi dengan sang arsitek keren. Terus nanti mereka bikin perpustakaan setara atau malah mengalahkan Camridge yang memiliki milyaran koleksi. Oh I hope, I hope!

Idealisme
Pluralisme
Novel ini mengajarkan bagaimana berkompromi dan bertetangga dengan agama lainnya. Dara, sang putra mahkota yang gila syair dan sastra bahkan menulis buku yang menyatukan Hindu dan Islam yang menjadi agama mayoritas kala itu.

Itulah mengapa kemudian ia dituduh ahli bid’ah oleh Aurangzeb, saudara Jahanara yang takut ular kobra. Anak kedua raja yang kelak bernama Alamgir.

Cahaya
Nilai Islam
Dari apa yang Shors narasikan dengan banyaknya minuman keras yang ditampilkan hampir setiap bab, aku tak setuju. Ia juga menyebut bahwa Al-Qur’an sedikit keliru mengharamkan anggur karena ia membebaskan segala urusan pelik kehidupan. 

Tentu saja itu tidak benar. Sebagai Muslim aku tak sepakat dengan apa yang ia lontarkan. Jadi kita tak serta merta menelan mentah-mentah apa yang penulis tunjukkan dalam wacananya. Yup, it is about my faith.

Overall, setelah baca novel sejarah ini jadi mengerti latar belakang Istana Marmer Putih didirikan. Dan ternyata ada dua kisah cinta yang mendasarinya. Tapi untuk membuktikannya, kita harus menganalisis novel ini dengan New Criticism. Kalau pakai Historical Criticism nanti jadinya cuma berpatokan sama satu sumber aja. Kan katanya history is based on who is told you about. Dari perspektif mana sejarah diceritakan dan siapa yang menceritakan.

Seperti kisah ibu tiri yang biasanya diceritakan kejam, di Malleficent malah kita tahu alsannya kenapa. Eh. Jjadi ke situ-situ ya? Hoho, efek kangen nganalisis nih. Rindu bikin paper. Yawda gitu saja romansa dari India yang bisa kuceritakan pada permirsah sekalian. See ya!

***
Judul Asli: Beneath a Marble Sky: A Novel of Taj Mahal
Penulis: John Shors
Penerjemah: Meithya Rose
Penerbit: Mizan
Terbitan: Cetakan ke-VII Maret 2008
Jumlah Halaman: 458
Rating: 3,5 dari 5


Selasa, 25 April 2017

Merangkum Jejak Sang Pujangga (Chairil)

..karya sastra bisa sedemikian menakutkan bagi penguasa..

Belum sempat kutuntaskan Gadis Pantai, buku Chairil sudah di genggaman meminta kesudahan. Dua buku dengan sastra tinggi buatku. Namun ternyata Chairil lebih mudah dicerna maksudnya. Pun jika dibandingkan dengan skenario Aku. Mungkin karena penulisnya yang hidup di masa kini. 

Tercatat di awal buku, biografi ini adalah cetakan pertama tahun lalu; 2016. Pantas bukan, jika aku menyebutnya masa kini.

Buku terbitan Gagasmedia tersebut menurutku adalah biografi yang super-lengkap disbanding lainnya; buku-buku yang juga menyajikan hal serupa. Di daftar pustaka ada 48 rujukan yang menjadi sumber bagi Hasan Aspahani, sang penulis dalam meliarkannya ceritanya tentang Chairil.



Kehidupan Chairil
Karena sejatinya senjata para penyair adalah kata-kata


Chairil berasal dari keturunan konglomerat. Asli Medan yang kemudian merantau ke Batavia. Meski begitu orangtuanya rutin mengirimkan uang untuk kebutuhan Chairil. Pantas saja jika Chairil seringkali terlihat di pesta-pesta para bangsawan.

Sang Penyair hidup di kala bangsa masih dijajah Belanda dan Negeri Sakura. Tidak mengherankan jika karyanya banyak dipengaruhi oleh keadaan sekitar. 

Sebagian puisinya bertuliskan kisah tentang perjuangan. Di buku Chairil kita juga menemukan Indonesia di masa lampau. Saat mendengarkan radio harus sembunyi-sembunyi. Kala sang penyair turut memiliki pistol di kantongnya. Selalu siap sedia untuk ditarik pelatuknya. Meski tak pernah dilakukannya. Karena sejatinya senjata bagi Chairil adalah kata-kata.

Keadaan itu otomatis memutus kiriman dari tanah kelahiran. Terlebih perang masih bergejolak. Chairil pun mulai menghidupi diri dengan puisi. Berpuisi pun tak boleh sembarangan. Karena karya yang masuk redaksi akan dikontrol ketat oleh tentara Jepang. Meski begitu, ia pernah tertangkap. Masuk penjara menjadi tahanan sang penjajah.

Honornya tak seberapa tapi cukup untuk buku tuk kembali mengasah pena. Kerjanya yang tentu tiap bulan mendapat gaji membuatnya diusir Hapsah, sang istri. Bersama buku-buku ia pun pergi ke rumah rekannya. Ya, penyair kita ini dituliskan tak pernah punya rumah. Ia tinggal alias menumpang di berbagai tempat; orang-orang yang ia sebut sahabat.


Sahabat Sekitar
Jassin, yang kuserahkan padamu-yang kunamakan sajak!-itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.


Saudara, sahabat dan kenalan yang menjadi saksi perjalanan kepenyairan Chairil Anwar menjadi sumber utama selain buku-buku. Salah seorang sahabatnya, dikisahkan oleh Hasan Aspahani tentang Sal, Maria dan Sjahrir. 

Cerita yang hampir serupa dengan persahabatan Abu Darda’ dan Salman. Jika kau telah menamatkan Jalan Cinta Para Pejuang, pasti hafal betul kejadiannya. 

Baiklah akan kuceritakan perihal itu. Suatu saat Salman mengajak Abu Darda’ untuk menemaninya melamar seorang gadis. Sebagai seorang sahabat yang baik tentu saja beliau mengiyakan tawaran rekannya itu. Namun tanpa dinyana, setibanya di rumah sang gadis, pinangan Salman ditolak. 

Abu Darda’-lah ternyata kasih yang selama ini diidamkan oloeh sang gadis. Pekik takbir terelakan dari Salman. Semua mahar yang telah ia siapkan dengan ikhlas hati ia berikan untuk keperluan sahabatnya; Abu Darda’.

Bedanya Maria telah diperistri oleh Sal, namun demi melihat sahabatnya bahagia, dan ia tahu bahwa ternyata Sjahrir pun menaruh hati. Maka dilepasnya oleh Salomon Tas (p.47).

AM Chandra, Asrul Sani, Bohang si redaktur Pujangga Baru adalah nama-nama yang juga berada di sekitar Chairil Anwar. Melalui tangan Bohar-lah karya Chairil berhasil lolos dan terbit. Namun H.B. Jassin adalah sesosok rekan yang tak hanya mengarsipkan karya-karyanya namun juga berani berdebat dengannya.


Gairah Menganalisis
Sebab sebagai penyair, ia kita harapkan lebih banyak menembak dengan kata-katanya. Lewat puisi-puisi yang ia ciptakan. 


Perdebatan sengit antara Chairil dan Jassin yang terjadi di halaman 129 harusnya membuka pandangan baru bagi para penyair. Tentang keterbaruan. Tentang ekspresionisme. Katanya,

“Apakah kebagusan sebuah sajak itu diukur dari termuat atau tidaknya di majalah atau surat kabar? Bung, sajak yang baik itu menguji wawasan redaktur pengasuh sajak, bukan bukan mengikut mematut-matut dengan selera redaktur.”

Dalam buku ini berkali disebutkan tentang ekspresionisme. Banne des Expressionismus, buku dalam bahasa Jerman yang kerap kali dibaca Jassin. Seperti halnya Chairil, H.B. Jassin juga keranjingan buku-buku. Nah, paham ekspresionisme yang suka disebut-sebut itu menggairahkanku. Untuk segera memburu bukunya tentu saja, dan mulai mengaplikasikannya dalam karya sastra. Nganalisis lagi yuk! Jerman? Iya, kita akan bertemu prominent figure dari sana lagi. Wah kayak déjà vu dong.

Well, menamatkan buku Chairil laiknya bimbingan skripsi. Belajar menganalisis puisi.


Puisi Narasi Aspahani
Penyair takkan menjadi penyair jika ia tak menuliskan sajak-sajaknya.


Membaca narasi bernapaskan puisi. Menelusuri Chairil seperti mencicipi ribuan sajak. Penulis yang jago nyastra. Delapan buku tertulis di profil penulis. Di belakang buku.

Ada setidaknya delapan potong sajak yang kulahirkan berbarengan dengan membaca Chairil. Bisa saja itu dikarenakan gaya bahasa sang penulis yang amat puitis. Yang mungkin besar pengaruhnya dari biografi ini. Yang membuatku penaku gatal untuk menulis. Mau membaca mereka? Doakan saja, puisi-puisi itu terbit di koran dalam waktu dekat 

Terimakasih, Aspahani, telah menghadirhidupkan kembali puisi baru nan manis dalam sajakku.


Luka dan bisa kubawa berlari
berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.


Ya, kita lihat kini, Chairil masih bernyawa dalam puisi-puisinya meski raga telah berpulang di tanggal 28 April 1949.