Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2018

Inferno: An Escaping from Florence

Robert Langdon terbangun di Florence dalam keadaan ammesia. Tapi ia ingat siapa dirinya. Namun tentang dua hari sebelumnya, sama sekali ia lupa. Belum ingat apa yang terjadi, seseorang berpakaian hitam memaksa masuk ke dalam ruangannya dengan membombardir senjata dan mengenai salah seorang dokter. Dr. Marconi langsung wafat di tempat.

Bersama Sienna Brooks, dokter yang berasal dari Inggris ia melarikan diri.

Inferno, novel bikinan Dan Brown, seri Robert Langdon yang ketiga setelah Angels and Demons, The Davinci Code dan The Lost Symbol, tampil membawa isu overpopulasi; jumlah manusia yang kian hari meningkat dan membuat bumi sesak.

Dan inilah yang disebut krisis moral oleh Bertrand Zobrist, milyader dermawan pencinta berat Dante Alghieri. Penyair yang meramaikan novel ini dengan teka-teki puisinya.

The are places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.

24 Jam yang Seru
Apa yang terjadi dalam 24 jam? Bangun pagi lalu tidur lagi di malam hari? Tidak dengan Inferno. Dan Brown mengisahkan petualangan Robert Langdon dalam waktu singkat; sehari-semalam.

Dini hari ia terbangun di Florence untuk kemudian kabur dari kejaran WHO bersama Sienna Brooks. Ditemani halusinasi-halusinasi yang mendekam berat di kepala Langdon. Berbagai teka-teki yang harus ia pecahkan.

Travelling ala Inferno
Kalau di Indonesia kita punya Kang Abik. Novelis sangat detail betul akan setting tempat. Saat membaca novel beliau serasa kita sedang menjelajahi lokasi cerita tersebut.

Nah, Brown juga begitu. Jalan-jalannya pakai konflik lagi. Sedang meneleti di museum tiba-tiba dikejar polisi. Melewati taman yang terkenal itu lalu sampai Turki juga!

Iya, di Inferno kita akan bertemu Haghia Sophia dan destinasi wisata lainnya.

Belajar Diksi

The shadow began speaking now, its words muffled, whispering across the water withan eerily poetic rhythm.

Membaca dalam versi Inggrisnya membuat kita tahu bagaimana logat Brown sebenarnya. Rasanya beda karena kita langsung berhadapan dengan diksi yang dipilih pengarangnya. Real.

Bertemu Allah

Di Chapter 84 kita akan dibuat tertegun. Kita akan bertemu dengan kalimat yang bisa membuat kita masuk surga. Kalimat yang jika ditimbang bisa memberatkan. Penuh amal kita dengan kebaikan.

Aku jadi berpikir mungkin Brown muallaf? Hihi, kita doakan saja.

Novel-novel Brown kan biasanya mengangkat tentang banyak agama Seperti di Inforno ini kita akan ketemu orang-orang bercadar, masjid dan tentu saja orang Islam.

Selasa, 19 Desember 2017

Romansa dan Budaya dalam Jane Austen's Sense and Sensibility

Romansa dan Budaya dalam Jane Austen's Sense and Sensibility

Cerita Sense and Sensibility terkesan lambat awalnya. Tokoh rekaan Jane Austen dikenalkan satu persatu dengan deskripstif di volume pertama. Sabar, itu pesan Mbak Ila ketika merekomendasikan sastra klasik ini. Alon-alon asal kelakon..

Terjemahannya enak. Ditambah setelah kuketahui salah satu translatornya adalah Prisca Primasari, one of my favourite author! Makin semangat deh bacanya. Novel-novel rekaan beliau yang ingin kukoleksi semuanya. Pertama berjumpa dengan beliau pada Will and Juliette (Lingkar Pena Publishing) dil tahun 2008. Vokalis rock and roll dan wanita Muslim, penderita rabun senja.

Karena nggak mungkin novel ini sangat begitu mengesankan hingga tak lekang oleh waktu meski ratusan tahun berlalu, jika ceritanya biasa-biasa saja. Maka dengan sabar aku menelusurinya bab demi bab.

Di volume dua, aku mulai nyaman mengikuti ritme --apalagi di volume tiga, saat alurnya semakin seru. Cara bacaku bisa memakai speed reading style. Tak lagi pelan. Aku mulai akrab dengan Marienne dan Elianor. Dua kakak beradik yang perlahan beranjak dewasa; perempuan yang mencoba mencari kisah sejati.

Muncullah Willoughby, Kolonel Brandon, dan Edward Ferras dalam kehidupan keduanya.

Kisah yang rumit karena ini terjadi di tahun 1811 (setidaknya ini tahun pertama kali Sense and Sensibility terbit). Waktu yang menunjukkan ketiadaan telepon genggam dan pesan hanya sampai melalui seorang pelayan. Sehingga kesalahpahaman dan prasangka biasa muncul dalam kelindan cerita mereka.

Undangan, pesta, dan gunjingan menjadi lifestyle yang biasa pada zaman itu.

"Aku ingin sekali mengundangmu dan adikmu. Maukah kalian datang dan menghabiskan waktu di Cleveland Natal ini? Katakan ya; dan datanglah selagi keluarga Wetson berkunjung ke tempat kami. Aku akan sangat gembira! Akan sangat menyenangkan!.." (Austen, 2016: 141).

Itu juga termasuk prestige dan cara membanggakan diri jika berhasil mengundang mereka serta menunjukkan kemewahan rumah pemiliknya. Hal itulah yang terpikir pertama kali oleh Mrs.Dashwood, ibunda Elianor ketika akan pindah rumah.

"Tapi aku berharap bisa menjamu banyak teman di sana. Kami bisa menyediakan  satu atau dua kamar; dan kalau teman-temanku tidak merasa repot bepergian sejauh itu untuk bertemu  untuk bertemu denganku, aku merasa sangat senang menyediakan tempat menginap." (Austen, 2016: 35).

Ramah-tamah dan basa-basi masih terlihat jelas dalam Sense and Sensibility rekaan Jane Aunsten ini. Novel yang telah beberapa kali diapdatasi ke film layar lebar.

Kasta dan takhta adalah hal yang sangat diperhatikan dalam pemilihan jodoh. Hal ini diterangkan Mrs. Ferras ketika Edward mengutarakan hubungannya dengan wanita.

"..Miss Morton putri seorang bangsawan dengan nilai tiga puluh ribu pound, sedangkan Miss Dashwood hanyalah seorang putri pria terhormat dengan kekayaan tak lebih dari tiga ribu pound..." (Austen, 2016: 452-453).

Memang sedari awal Fanny tak setuju hubungan anaknya dengan Elianor. Makin rumitlah jalan cerita ketika juga ada Lucy dalam kehidupan Edward. Ending-nya susah ditebak deh.

Tak hanya romansa, kulihat budaya yang masih melekat di zaman itu. Topi, seperti yang dibicarakan beruang dari pedalaman Peru dalam film Paddington, katanya dulu topi amat lekat dalam budaya Inggris. Namun sekarang sudah tergerus zaman. Dalam Sense and Sensibility ini topi muncul di halaman 429.

"Saya mengangkat topi, dan dia mengenal dan menyapa saya, lalu dia bertanya tentang Anda, Ma'am.."

Mengangkat topi adalah suatu cara untuk menyapa seseorang dengan penuh penghormatan. Seperti membungkuknya orang Jepang.

Juga kereta kuda sebagai alat transportasi mereka. Belum ada mobil ataupun pesawat. Jika tak ada kereta mereka akan bepergian dengan kuda atau berjalan kaki.

Nah latar Sense and Sensibilty-nya Jane Aunsten sangat aku sukai. Apalagi ketika berbicara tentang pedesaan. Aku membayangkannya seperti bukit-bukit di Skotlandia dan budaya yang mengelilingin. Tapi dalam cerita disebutkan bukit Allenham, tempat pertama kali bertemunya Marienne dan Willoughby.

***

Judul: Sense and Sensibility
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Prisca Primasari dan Linda Boentaram
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Enfira
Desain Sampul: AM Wantoro
Penerbit Qanita [Mizan]
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Halaman: 460

Selasa, 05 Desember 2017

Burlian si Anak Spesial

Burlian si Anak Spesial
Burlian si anak spesial, begitu Mamak, Bapak, Wak Yati, Bakwo Dar dan lingkungan memanggilnya. Bukan dengan sebutan ia si anak nakal atau pembangkang.

Anak-anak Mamak tumbuh dengan lingkungan positif. Julukan positif meskipun kadang harus diteriaki beberapa kali oleh Mamak baru mau menurut.

Amelia, si bungsu, si kuat. Burlian si anak spesial yang suka berpetualang. Pukat si anak pintar, pandai dan selalu bisa menjawab segala pertanyaan. Eliana si sulung yang pemberani, melindungi harta berharga kampung dari jarahan orang kota.

Setiap anak memiliki karakternya sendiri. Dalam Burlian, Tere Liye menegaskan bahwa ia adalah anak Mamak yang spesial. Walaupun 'bandel'nya luar biasa juga.

***

Mainan ala Anak-anak
Tak ada gawai, tentu saja. Mainan Burlian adalah otok-otok yang dibuat Pukat. Bisa saja mereka membelinya di pasar kecamatan, tapi apalah daya dompet yang tak beruang. Lagipula Pukat si pintar bisa membuatkannya dengan otak cemerlang.


Jika dalam Eliana, partner-nya melawan orang kota adalah Marhotap, Burlian memiliki karib yang bernama Ahmad. Teman yang sangat mahir bermain bola. Di lapangan bekas pabrik karet mereka bertanding di sana. Sangat seru. Orang sekampung menonton dan mengelu-elukan keduanya hingga peristiwa naas itu terjadi.

SDSB! Mainan yang dicoba Burlian ini membuat Mamak geram. Bahkan Nek Kiba di surau juga ikut turun tangan. Soalnya pemuda-pemuda kampung juga main. Burlian dibilangin juga nggak boleh tapi tetep aja cobacoba.

Main ala Burlian berarti mendekati yang terlarang. Ada untungnya juga, dia bisa bertemu dengan orang Jepang, meneropong bintang dan makan ayam hutan.

Nakamura-san yang membongkar bahwa makan di kasur itu tak apa asal dia tidak meninggalkan remah-remah. Membereskannya kembali sebelum Mamak mara-marah.

Berpetualang bersama Mang Unus
Serial anak Mamak lainnya pun melakukan hal serupa. Mang Unus adik kandung Mamak. Dengan motor trail, dibawanya secara bergantian anak Mamak ke tempat-tempat spesial di seluruh penjuru kampung.


Bersama Burlian, anak ketiga Mamak, mereka melewati hutan dan memasuki gubuk larangan. Ada 'putri mandi', 'harta berharga kampung' yang harus dilindungi dengan cerita seram dan bumbubumbunya.

Tapi Mang Unus membongkarnya rahasia tersebut. 'Putri mandi' yang langka, di tempat seram; gubuk larangan.

Memperjuangkan Pak Bin
Pak Bin, guru satu-satunya di sekolah. Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia diajari oleh guru yang sama, Pak Bin. Bertahun mengabdi pada bangsa, mengajar anak-anak di pedalaman Sumatera belum pernah sekalipun ia diangkat menjadi PNS.


Sekolah roboh dan menjadi anak spesial yang masuk televisi dijadikan kesempatan oleh Burlian untuk memperjuangkan Pak Bin. Di hadapan wartawan ia ungkapkan semua keinginannya.

***

Kutaksir setting cerita karangan Tere Liye ini tahun 1980an. Televisi masih hitam putih dan hanya TVRI. Listrik belum sempurna masuk desa. Malam mereka cahayakan dengan canting-canting di rumah atau obor ketika akan pergi keluar. Seperti pulang-pergi mengaji di rumah panggung Nek Kiba.

***

Selasa, 14 November 2017

My Finding in Dan Brown's Inferno [Quotes]

Dan Brown's Inferno [The Quotes]

The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.

Seek and ye shall find.

The decisions of our past are the architects of our present.

One great work of art inspired by another.

This changes everything.

Know only your mission. Share nothing.
Sweetheart, never forget you're a miracle.

There is seacond option, now. Complete your mission!

This is the future I would be giving my child?

The truth can glimpsed only through the eyes of death.

My career is all I have!

Compassion is a universal languange.

Provide the service. Trust the client. Ask no question.

Free divers swimming deep into a tunnel, far past thr point of no return, and then colliding with a stony dead end.

I'm a fan of the truth even if it's painfully hard to accept.

If you know where to look, Florence is heaven.

Avarice wan an international sin.

I'm not following.

The Lord works in mysterious ways.

"Robert, I thought you were a studenf of world history."

"Yes, but the world is large and history is long.."


It is physically imposibble for the human mind to think of nothing.

You CAN save the world. If not you, then who? If not now, then when?

While Christian tradition favored literal images of its god and saint, Islam focused on calligraphy and geometric patterns to represent the beauty of God's universe. Islamic tradition held that only God could create the life, and therefore man has no place creating images of life; not gods, not people, not even animals.

Depicting God's face would be considered blasphemy.

Safrice the few to save the many.

He was a scientist, a results-oriented person.

If everything you're saying is true, then you have my word.

***

Those are the quotes I could share with you. Honestly I took many quotes but they acted as research quotation through the conflict. Then, if I writes all here, I will be a spoiler of the story. So it will be nice if you read the novel by yourself. Happy reading!


Minggu, 12 November 2017

Eliana dan Kekuatan Orang Kota

Eliana dan Kekuatan Orang Kota
Petualangan si Anak Sulung
Tere Liye menghadirkan petualangan sesungguhnya dalam Eliana. Bukan fiksi fantasi semacam Geng Raib, Ali dan Seli.

Dialah Eliana sang tokoh utama. Anak sulung Mamak.

Eli, anak SD kelas lima bersama teman-temannya yang dinamai geng Empat Buntal. Empat Buntal yang beraksi dengan cerdas. Menerobos hutan, melompat di dalamnya sungai berpenghuni buaya. Anak-anak desa dari pedalaman Sumatera melawan orang kota.

Ya! Petualangan Eliana, adalah tentang keheroikan anak-anak yang ingin menjaga alam dari keserakahan orang kota.

Orang kota datang mengeruk pasir di sungai. Membuat bising desa. Membuat ikan-ikan pergi.

Komentarku
Huuu, aku berseru kegirangan. Marhotap datang! Aku tahu dia sang penyelamatnya. Mungkin kisahnya akan mirip dengan Mamak dan Bapak waktu muda. Kukira awalnya begitu.


Ssstt, dalam kisah ini diceritakan asal muasal kisah mereka. Mula saat Bapak bertemu Mamak pada sebuah kejadian di kereta. Kalau nak tahu, bacalah.

Seru dan tentu saja mengharu biru khas Tere Liye.

Aku suka penokohan Eliana. Dia berani sekali melawan orang kota. Tak peduli itu bupati, konglomerat kaya raya, maka kebenaran tetap harus ditegakkan. Dan itu cita-cita Eli. Menjadi pembela kebenaran.

Pekerjaan apakah itu? Di bab-bab terakhir Eliana menemukan keinginan masa depannya.

The Connecting Dots
Tentu saja Eliana juga dimeriahkan oleh adik-adiknya. Cerita tak hanya bekerja seorangan. Sepi dong jadinya. Pukat, Burlian dan Amelia hadir melengkapi cerita.


Ada Pak Bin, Nek Kiba dan yang lain juga lho. Karena manusia makhluk sosial ^^

Tingkah laku anak-anak Mamak tersebut mengingatkanku pada Faza, sepupuku yang umurnya sekitar 9 tahun. Berani mengendarai motor naik turun bukit berbatu. Naik-naik pohon, mobil..

Faza sangat antusias dan berbinar kesenengan melewati jembatan Suramadu untuk pertama kalinya. Sama dengan salah satu adegan, ketika teman Eli naik kereta.

Kalung istimewa Marhotap juga membuatku serasa dejavu. Dengan kalung Delisa. Adegan yang sama-sama ditampilkan di akhir cerita.

The Minus
Kekurangannya apa yaa. Aku hanya menemukan satu typo. Coba cek di halaman 372.


Lainnya, hmmm..

Karena aku sudah membaca Amelia, Burlian dan Pukat, jadi aku bisa menebak-nebak. Haru yang kurasakan tak terlalu haru seperti dalam novel Burlian. Serial anak-anak Mamak yang kubaca pertama kali.

Tapi tetep aja sih, ada adegan yang mewek.

Konflik Terselubung
Konflik di Eliana banyak. Banyak. Namanya juga novel. Kalau satu, nanti jadinya cerpen.


Kasus bando istimewa pemberian Wak Yati. Perahu otok-otok Burlian dan Pukat. Tapi detail-sangatnya ada di serial Pukat. Tinta pena Burlian yang cepat habis. Selain melawan orang kota itu sebagian konfliknya.

Konflik terselubung di sini maksudku ada karya yang mengkritisi keadaan sekitar.

Lawan dengan karya. Berhenti nyinyir dan debat di Fesbuk. Gitu kata Bang Tere pas seminar kemarin. Menghadirkan opini dalam bentuk karya sastra adalah something impressive.

Eliana, menampilkan kasus terselebung terjadi di Indonesia. Kasus nenek pencuri kayu bakar, bisnis properti yang suka mengeruk pasir di sungai, perusahaan kelapa sawit yang menebang hutan sembarangan.

Segenggam Berlian
Dari Eliana aku belajar tentang detail. Seorang bapak yang asyik membaca koran di beranda mugkin hanya selingan belaka. Tapi hobi bapak Amelia berpengaruh besar pada cita Eliana di masa depan.


Eits, ternyata aku salah menyebut nama. Maksudku Eliana, bukan Amelia. Itulah mengapa dulu tahun lalu aku salah mengambil buku. Maunya beli cerita si sulung, eh malah si bungsu.

Hikmah lainnya kutulis di quotes ^^

Kamis, 26 Oktober 2017

Kebun Kekata dari Eliana [Quote]



Kutulis kekata berharga, quote istimewa yang kudapat dari novel Eliana. Si sulung dari tiga anak lainnya dalam Pukat, Burlian dan Amelia. Tokoh rekaan dalam Serial Anak-anak Mamak karangan Tere Liye.

Karena sayang rasanya jika hikmah yang bak mutiara itu, kunikmati sendiri. Jadi menuliskannya di sini, adalah caraku berbagi; kebun kekata yang berisi cantiknya diksi, kejadian menarik atau petikan pelajaran yang dapat kita ambilrenungi.

Dari Eliana, Nek Kiba, Marhotap dan tokoh-tokoh lainnya dikisahkan untuk melengkapi cerita.

Karena mutiara hikmah adalah bebungaan dalam kebun kekataku.

***

Aku tertawa melihat Burlian dan Pukat terbirit-birit ke dapur. Membuat berguguran rasa sebalku gara-gara kejadian di kota tadi.

Selebaran tidak membuatnya celaka. Ketakutanlah yang membuatnya terjatuh.

Nah, Burlian, Pukat, Amel bukankah Bapak pernah berkali-kali bilang, jangan pernah takut pada sesuatu yang tidak sejati. Kalian keliru jika takut pada hal-hal remeh seperti itu. Melainkan takutlah berbuat jahat, mengambil hak orang lain. Takutlah menganiaya, berbohong, mencuri dan merendahkan harga diri. Takutlah atas hal-hal yang seperti itu, sesuatu yang lebih sejati. Maka kalian tidak akan pernah takut dengan apapun lagi.

Nasib buruk, nasib baik, mati, kecelakaan, hadiah, rezeki, hanya Allah yang mengatur. Tidak ada satupun makhluk yang berhak ikut campur. Buka presiden, bukan orang tua, bukan atasan, bukan tetangga, bukan teman, dan jelas bukan karena selembar kertas.

Dalam kehidulan kita selalu ada momen, kejadian, atau peristiwa hebat yang bisa menjadikan dua orang musuh menjadi sahabat baik.

Kalau begitu, bantuan dari luar tidak bisa diharapkan lagi. Ini masalah kita, maka kitalah yang akan menolongnya sendiri.

Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik.

Barang hilang, sungguh aneh perilakunya. Semakin dicari semakin tidak ketemu. Saat dilupakan, diikhlaskan, malah muncul sendiri di depan mata.

Tim murid laki-laki memang lebih bertenaga, lebih cepat dan lebih kuat. Kami memang kalah cepat, kalah kuat. Tapi kami lebih gesit, lebih lincah, berusaha melewati garis pertahanan mereka saat penjaganya lengah atau terprovokasi seru-seruan.

Oi, itulah hakikat sejatinya adzan, membuat terhenti seluruh kegiatan. Yang sedang masak, berhenti menggoreng. Yang sedang bekerja membangun rumah, berhenti memasang batu bata. Yang sedang mencangkul kopi, berhenti mencangkul.

Bahkan adzan ini memancing kita semua datang ke masjid kampung. Ada yang memang hendak sholat maghrib. Ada yang ingin tahu. Ada yang sekadar menonton. Terserah apa niatannya, tapi adzan ini lebih kencang dari siapapum selama puluhan tahun aku tinggal di kampung.

Orang kota bilang hanya mengambil hutan yang terlantar, padang rumput gersang, lahan-lahan kritis. Itu dusta, alat-alat berat justru dikirimkan ke hutan-hutan terbaik. Penduduk mati-matian menolak. Percuma, kekuatan orang kota jauh lebih besar dibanding yang mereka bisa bayangkan.

Herbarium adalah bagian tanaman yang diawetkan. Seperti daun yang dikeringkan, menyisakan kelopak, benang sari dan mahkota kering. Atau batang, buah, akar, apa saja dari bagian tanaman yang bisa diawetkan.

Aku tidak tahu di mana Marhotap sekarang. Tetapi setidaknya aku tahu, kita pernah bersama-sama dalam satu pemahaman. Sama-sama membenci tambang pasir itu.

Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada suatu musim di antara musim-musim. Saat ketika alam memberikan perlawanannya sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, membalas sendiri para perusaknya.

Kami tidak banyak bicara melintasi jalan setapak padang rumput. Deru napas kami yang bicara.

Bumi kita hanya satu. Milik kita bersama, yang kita pinjam dari anak-cucu kita.

Urusan ini bukan sekadar bilang 'tidak', Eli. Kita harus pintar, tahan banting dan punya daya tahan menghadapi mereka. Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan kebijakan leluhur kampung bertahan ratusan tahun.

***

That's all the quotes from Eliana I can give to you. Hopefully it inspires you in all of things. Review bukunya, Insya Allah besok. See ya!


Rabu, 19 Juli 2017

Menjejak Karya Angkatan '45

Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2, begitu judul buku yang sempurna disusun H.B. Jassin di tahun 1948. Antologi yang berisi kumpulan sajak dan cerita karangan pujangga angkatan '45. Penyair favorit kita, Chairil Anwar hadir dengan 9 karya sastra pilihan. Aku yang fenomenal itu bahkan ada di urutan pertama yang tampil di hadapan pembaca.


Ada 21 pujangga yang ikut terangkum oleh H.B. Jassin. Jadi tak hanya Bung Chairil saja. Tercantum di sana Asrul Sani, Sakti Alamsyah, Abas Kartadinata dkk. Kesemuanya lelaki kecuali Siti Nuraini dan Samiati Alisjahbana. Itu perkiraanku saja. Menebak gender dari nama.

Penulis-penulis itu ditampakkan lengkap dengan biografi singkat sebelum pergelaran karya di dalam buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2. Dari paparan H.B. Jassin yang tertera di sana lantas kutahu semua-muanya adalah orang berpendidikan.

Dan kebanyakan pujangga-pujangga kita alumni sekolah Belanda yang lahir di tahun 20-30an. Itulah mengapa banyak berpengaruh dalam sajak atau cerita yang mereka karang.

Jikalau Aku adalah puisi yang kusuka di antara lainnya, maka dari kalangan (bangsawan :p) prosa aku menikmati karya Abas Kartadinata. Tulisannya berjudul Tidak Bernama beralamatkan halaman 174-184. Berkisah dua anak kembar yang bercengkrama di dalam rahim sang ibunda.

Mereka berdiskusikan suara-suara yang datang di telinga. Tak hanya berdua, keping-keping darah yang ada di sekitar pun diajak bercengkrama. Hingga lahir mereka tetap tak bernama.

Aku pun tertegun dalam puisi Asrul Sani berjudul Surat dari Ibu. Puisi beralamatkan halaman 102 ini adalah sajak yang aku nyanyikan saat kelas VII SMP. Bu Sahliah, sang guru Bahasa membagi dan menyuruh kami mengkreasikanny dengan nada dalam kelompok-kelompok. Cara mengajar beliau selalu unik. Membuat kami semakin mencintai sastra.

Kembali pulang, anakku sayang

Kembali ke langit malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu, pagi hari."


Karya lainnya lebih banyak menceritakan zaman mencekam. Serdadu Belanda-Jepang yang masih berada di Indonesia hingga penyakit menakutkan, mematikan; TBC, terlihat biasa mondar-mandir di antara karya satu dan lainnya.

Masyumi turut menjadi topik menarik di dalam buku ini. Menyaingi kehadiran anggur dan perempuan. Ini pasti dikarenakan, this party very incredible at that time. Pengen baca banyak tentang Masyumi. Apalagi buku most-favenya Pak Rafif, kepala sekolah Reading Challenge bertemakan Masyumi. It makes me more curious about.

However, penulisan dan pilihan kata yang dipakai para penulis menjadi perhatian tersendiri. Tertulis di zaman perang dan pemulihan bangsa, diksi kata yang dipilih tak sama dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang kita kenal sekarang. Kita tahunya 'suster' tapi di halaman 178 dan 273 tertulis 'zuster'. 'Pulpen' di zaman itu familiar dengan 'vulpen'. Pun 'uang' yang banyak tersebar di sekian prosa masih terejakan 'wang'.

Puisi dan prosa yang terkumpul dalam Gema Tanah Air ini tak semuanya baru. Banyak yang sudah terpublikasikan. Di bagian akhir karya tertulis nama-nama media yang pernah memuat sebelumnya. Zenith, Mimbar Indonesia, Siasat, Panca Raya, dan Kisah di sanalah H.B Jassin memetik bibit-bibit bunga hingga jadilah kebun kekata bernamakan Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2.

Antologi karya yang membuat pikiran kita lebih terbuka. Karena kita lebih tahu. Dengan karya penulis papan atas, selain menambah khazanah keilmuan, in this case sejarah bangsa, juga memperkaya diksi. Terlebih aku yang menyukai puisi.

***
Judul: Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2
Penyusun: H.B. Jassin
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: pertama - 1948, kesepuluh - 1993
Halaman: 278


Rabu, 12 Juli 2017

Keabadian Cinta Taj Mahal


Taj Mahal berasal dari kata Mumtaz Mahal yang berartikan Istana paling Istimewa. Ialah panggilan sayang sang raja pada permaisurinya. Namun bukan hanya itu, istana putih berpualam di India itu tidak hanya perwujudan rasa Shah Jahan. Ustadz Isa, sang arsitek, menanam pula romansanya di setiap inci mahakaryanya.

India telah dikuasai Islam pada saat Taj Mahal dibangun. Pun dengan raja mereka. Seneng banget, ketika Al-Qur’an terlantun merdu dalam romansa ini. AyatNya menjadi pembuka salah satu chapter di sana.

Aku jadi teringat Takudar. Rindu dengan penguasa Muslim Mongolia yang pertama, setelah Takhta Awan, aku masih menanti sekuel selanjutnya, semoga segera. Kita doakan saja.

Kembali cinta yang mengabadikan dirinya pada sinar terang di malam purnama. Taj Mahal, karya John Shors juga menampilkan kisah tentang ketegaran. Pada Jahanara sifat itu terpancarkan. Sang Putri yang merupakan cerminan kecantikan sang Ibunda. Aku belajar banyak padanya. Belajar menjadi cerdas, karib yang menyenangkan dan bagaimana berdiplomasi dengan para ningrat tanpa menimnulkan kecurigaan dan perpecahan.

Sama seperti kisah kerajaan yang pernah kau tonton atau terbaca dari buku-buku, romansa dari India ini sarat dengan adegan pengkhianatan, penggulingan takhta. Pernikahan politik atas dasar perluasan daerah atau perdamaian dengan penguasa lainnya juga terjadi di sini.

Membaca Kehidupan
Penerjemahan
Cara Meithya menerjemahkan buku sekitar 500 halaman ini memukauku. Ia pintar sekali memilih dan memilin kata menjadi sedemikian sempurna. Aku beberapa kali mencicipi kualitas terjemahan yang buruk, jadi kuacungi jempol pada sang penyunting.

Rembang petang, katanya beberapa kali terlihat dalam pilihan katanya. Rembang semakna dengan tepat betul, pada puncaknya. Itu terdengar hebat menurutku. Juga bagaimana Meithya mengambil kata sebagai diksi dalam terjemahan di seluruh suntingnya. Sangat nyastra, I want to be like her, someday. An incredible professional translator or even interpreter. 

Dekorasi
Sang Arsitek
“Kita membutuhkan orang-orang terbaik sedunia, Jahanara. Aku tak peduli negeri mana yang kausebut rumah.”

Taj Mahal membutuhkan dua puluh dua ribu pekerja yang berasal dari mancanegara. Pun beberapa ahlinya, berasal dari Eropa. Isa, sang arsitek tak peduli. Ia paham betul bahwa bangunan impian sang raja haruslah yang terbaik. Maka the experts pun ia panggil dari seluruh dunia.

Sayangnya Shors tak menceritakan dari mana Isa mempelajari seni yang sangat indah itu. Apakah ia lulusan universitas ternama atau, kursus paling mahal di dunia. Eh, dulu mah mana ada ya. Yang jelas dulunya ia lahir dan besar di Persia. Melihat betapa fenomelnya istana yang ia dirikan, aku jadi mengerti, cintalah yang menampakkan rasa pada karyanya.

Pengen deh rasanya manggil Ryan tokoh utamanya Diorama Sepasang Al Banna dan Dilatasi Memori untuk berkolaborasi dengan sang arsitek keren. Terus nanti mereka bikin perpustakaan setara atau malah mengalahkan Camridge yang memiliki milyaran koleksi. Oh I hope, I hope!

Idealisme
Pluralisme
Novel ini mengajarkan bagaimana berkompromi dan bertetangga dengan agama lainnya. Dara, sang putra mahkota yang gila syair dan sastra bahkan menulis buku yang menyatukan Hindu dan Islam yang menjadi agama mayoritas kala itu.

Itulah mengapa kemudian ia dituduh ahli bid’ah oleh Aurangzeb, saudara Jahanara yang takut ular kobra. Anak kedua raja yang kelak bernama Alamgir.

Cahaya
Nilai Islam
Dari apa yang Shors narasikan dengan banyaknya minuman keras yang ditampilkan hampir setiap bab, aku tak setuju. Ia juga menyebut bahwa Al-Qur’an sedikit keliru mengharamkan anggur karena ia membebaskan segala urusan pelik kehidupan. 

Tentu saja itu tidak benar. Sebagai Muslim aku tak sepakat dengan apa yang ia lontarkan. Jadi kita tak serta merta menelan mentah-mentah apa yang penulis tunjukkan dalam wacananya. Yup, it is about my faith.

Overall, setelah baca novel sejarah ini jadi mengerti latar belakang Istana Marmer Putih didirikan. Dan ternyata ada dua kisah cinta yang mendasarinya. Tapi untuk membuktikannya, kita harus menganalisis novel ini dengan New Criticism. Kalau pakai Historical Criticism nanti jadinya cuma berpatokan sama satu sumber aja. Kan katanya history is based on who is told you about. Dari perspektif mana sejarah diceritakan dan siapa yang menceritakan.

Seperti kisah ibu tiri yang biasanya diceritakan kejam, di Malleficent malah kita tahu alsannya kenapa. Eh. Jjadi ke situ-situ ya? Hoho, efek kangen nganalisis nih. Rindu bikin paper. Yawda gitu saja romansa dari India yang bisa kuceritakan pada permirsah sekalian. See ya!

***
Judul Asli: Beneath a Marble Sky: A Novel of Taj Mahal
Penulis: John Shors
Penerjemah: Meithya Rose
Penerbit: Mizan
Terbitan: Cetakan ke-VII Maret 2008
Jumlah Halaman: 458
Rating: 3,5 dari 5


Rabu, 19 April 2017

Pelarian Putra Mahkota

Baruji melarikan diri ke Baabussalam bersama dayangnya yang setia, Almamuchi. Di sana ia mendalami ilmu agama namun keresahannya akan istana terus membenak, berkelindan dalam kepala.

Di istana, ayah dan bundanya dibunuh orang tak dikenal. Sampai kini pun jejak sang pembunuh belumlah ditemukan. Di samping itu, Arghun putra kedua naik takhta. Sedang Baruji kabur dari sana sesuai perintah Ibunda Ilkhata.

Raja Arghun Khan memperluas kekuasaanya. Ia membabi buta. Memusnahkan segala hal yang menurutnya termasuk pengkhianat. Pejabat-pejabat Muslim diturunkan dari takhta. Perekonomian semakin carut marut di sana-sini.

Dalam novel kedua ini, Sinta Yudisia lebih menampakkan budaya-budaya Islam. Karena latar cerita tak hanya tentang kerajaan. Kisah sang pangeran mulai memasuki asrama-asrama tempat para pemuda menimba ilmu.

Ada juga padepokan-padepokan tempat belajar bela diri. Hmm, jadi pengen ikutan karate-an. Eh.

Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Sebaliknya, apabila dunia diperintah oleh orang saleh maka kehidupan berjalan laksana nirwana: tenang dan berlimpah kecukupan.

Quote di atas pertama kali kutemui di lemari kayu Sekret LDK dalam bentuk hadits. Di sebuah pagi ketika ODOW berlansung. One Day One Work, satu hari satu karya. Jadi dulu Divisi Pers 'n IT punya program harian, submit a work then it will be critisized by all of members.

Nah kebetulan hijab (pembatas) sekret menempatkan para akhwat di samping lemari itu dan kini kudapati nasehat itu di The Lost Princenya Bunda Sinta Yudisia.

Takudar Khan, putra mahkota imperium Mongolia yang sebenarnya. Yang harusnya menggantikan sang ayahanda. Bukan Kaisar Arghun yang kali ini memerintah negara. Sepertinya dia terpengaruh Jenderal Albulqa.

Well, buku ini akan bersambung di The Road to the Empire dan Takhta Awan. Hmm, ceritanya masih panjang sodara. Entah bagaimana caranya Takudar, sang Pangeran kembali ke istana. Tak tahu juga, ia akan menyerang adiknya, Arghun atau tetap menjadi rakyat jelata seperti yang ia impikan. Tanpa lagi memerdulikan urusan negara, Imperium Mongolia!

Namun yang pasti, The Lost Prince masih  bersama dayangnya. Almamuchi, yang setia. Setia pada janji Ibunda Ilkhata. Untuk menjaga pangeran dari Arghun yang haus akan kekuasaan.


Daan, jika kau tetap mencari putra mahkota. Takkan kautemukan. Karena kubawa ia berlari hingga hilang pedih perih :D

Jumat, 14 April 2017

Cress; Hacker dari Antariksa

Cress, a novel by Marissa Meyer
Sang Programmer
Di serial ketiga The Lunar Chronicle kita akan bertemu dengan Crescent Moon. Hacker yang selama ini membajak bumi. Segala informasi di persemakmuran dapat dia ketahui. Apalagi the earth drama.

Kadang ia cekikan sendiri hingga pipinya bersemu merah melihat perilaku-perilaku manusia di bumi. Drama yang baginya real life tentu saja. Hingga pada saat tertentu Cress seringkali mengamati seseorang diam-diam. Ah, itu berkat keahlian hackingnya dia.

Cress, gadis ini ahli dan sangat familiar dengan coding and programming. Tapi sayangnya dia adalah peliharaan Ratu Levana. Ini nih alasan kenapa Levana tahu banget; real time sama keadaan bumi. Meski pada akhirnya dia berbalik berteman dan bersekutu dengan sang rival. Nah!

Intertextuality
Semua seri rekaan Meyer terinspirasi dari dongeng-dongeng melegenda. Dan Cress hasil interpretasi cerita Rapunzel. Tahu apa persamaannya?

Rapunzel tinggal di kastil. Menara tinggi yang dibangun sang ibu tiri. Atau sang penyihir? Cress tinggal di pesawat antariksa yang jauh dari peradaban. Meski ia tetap mengetahui berbagai pengetahuan melalui kelihaian membajaknya.

Rapunzel memiliki rambut panjang pun Cress. Well, Cress sudah bertahun-tahun tinggal di spaceship. Ia asyik  bermain dengan komputernya hingga tak dinyana rambutnya sudah panjang sampai bermeter-meter. Nggak usah jauh-jauh, kalo anak teknik lagi khusyu masygul di depan lepi lihat saja tampangnya yang tampak kusut masai beberapa hari tak mandi. Ngapain? Main dota! :p
*kabuuur ><

Seorang pencuri yang datang ke kastil sang puteri adalah Thorne. Pilot pesawat bernama Rampion. Ssstt, aslinya itu pesawat yang dia curi dari Republik Amerika. Semua kru yang ingin tetap tinggal di pesawatnya harus patuh memanggilnya Kapten Thorne kalau nggak mau diusir. Dan, tahu nggak? Dia ketemu Cress setelah dia melarikan diri dari penjara kerajaan. What? Cress, diakah pangeran impianmu?

Adegan Kesukaan
Adegan yang paling aku suka di Cress saat Cinder membuat pengakuan di depan Pangeran Kai. Ups, Kaisar Kai, maksudku. Soalnya kan sudah diangkat menjadi Raja setelah Kaisar Rikan meninggal. Katanya begini,

"It's me. Prince Selene."

Aww, that's so sweet. Akhirnya Cinder membuat pengakuannya di seri ketiga. Ya ampun itu kan membutuhkan keberanian banget. Ikut deg-degan deh waktu Cinder ngomong itu. Apalagi Cinder sudah tahu sejak di serial pertama. Cuma ya itu. She has many things to think about.

Secara, Kai memang sedanh mencari-cari sang tuan puteri supaya dia bisa berkilah untuk Levana. Ya, agar kaisar tak jadi menikahi si ratu bulan itu. Tau kan kejahatannya sudah melampui batas. Mulai dari wabah Letumosis yang dia ciptakan hingga prajurit monster yang ia kirim ke bumi untuk melancarkan serangan. Huh!

Adegan lainnya menyangkut action scene. Seru deh waktu kru Rampion menyerang istana. Ngapain? Ya, mereka mau menculik sang kaisar. Oh tidak!

Lainnya
Mau nggak mau aku harus membaca Cress versi ebook-nya. Pun kalo harus beli kudu nunggu tiga hari sama estimasi perjalanannya. Di toko buku sekitar pada nggak ada. Atau aku harus menempuh empat jam ke Surabaya untuk mendapatkannya.

Sedangkan aku sudah ngebet; pengen tahu banget sama jalan cerita Cress. In case, Winter serial ketiganya yang tebelnya 900 halaman sudah di tangan.

Maunya sih loncat aja, langsung baca Winter. Tapi pas baca bab pertamanya  bikin penasaran tingkat langit ketujuh. Ditambah sebuah penemuan yang menyatakan Kai diculik. What?

Ya sudah deh baca apa adanya. Kuy diklik link-nya kalo kamu penasaran juga. Tapi jangan salahkan daku kalo yang ini in English version.
*terus ketawa jahat.

http://www.8novels.net/fiction/u3758.html

Gapapa lah ya, sekalian nambahin kosakata English. Kan katanya mau dapet skor 8 IELTSnya ♡

Kamis, 30 Maret 2017

Pencarian Scarlet dan Tudung Merahnya


Pencarian Scarlet dan Tudung Merahnya

Seri The Lunar Chronicle karya Marissa Meyer tak berhenti di Cinder saja karena selanjutnya ada Scarlet. Jika Cinder adalah pengembangan cerita Cinderella maka Scarlet metamorfosa dongeng si Gadis Bertudung Merah.

Scarlet Benoit kerap kali menggunakan jaket merah jika sedang merasa tak aman dan nyaman. Seperti ketika ia bertemu dengan Wolf, pemuda petarung jalanan dengan gigi taring menyeramkan. Aslinya memang manusia tapi indra penciumannya sangat tajam.

Awal kisah ini dimulai ketika Scarlet kehilangan neneknya. Chip identitasnya bahkan ditemukan di kamar sang nenek. Para detektif angkat tangan dengan mengatakan sang nenek kabur dari rumah atas kehendaknya sendiri. Jadi tak perlu dicari.

Tentu saja hal ini membuat Scarlet geram. Apalagi ialah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Kekesalannya terpaksa membuat Scarlet melayani pelanggan bar. Padahal di sana ia hanya mengantar tomat-tomat hasil pertaniannya. Namun justru di situlah Scarlet bertemu Wolf.

Hasil pertanian Scarlet bukan bebungaan melainkan tomat dan brokoli.
Selanjutnya kisah mereka berdua berlanjut karena Wolf sepakat membantu Scarlet menemukan neneknya. Yang ternyata diculik sekawanan serigala.

Sejujurnya bab-bab pertama dalam novel ini membuatku bosan dan ingin menghentikan bacaan. Rasa-rasanya kurang seru. Oh come on, apa menariknya kisah serigala? Yet, it's changed since Cinder appeared on the next scene.

Yosh! Gue ketemu Cinder lagi!
*jejingkrak kegirangan :D


Yah, kalo dibandingin sama Scarlet, aku lebih suka Cinder. She looks smarter than Scarlet. Pas Cinder muncul itu aroma sci-fiction-nya lebih kerasa. Dan lebih berbumbu tentunya.

Seneng deh ternyata Cinder nggak menghilang kisahnya. Kukira bakalan fokus pada Scarlet dan cerita serigalanya.

Umm, apa karena serigala buas ya dan nyeremin ya makanya nakutin? :D

Kaburnya Cinder dari kurungan Kai itu membuat cerita makin seru. Apalagi proses pelariannya melibatkan seorang Kapten pesawat antariksa. Kadet sebenarnya tapi dia kekeuh minta dipanggil 'Kapten.' Duh iya deh. Jadinya Cinder nurut ajah. Namanya Kapten Thorne.

Scarlet, a novel by Marissa Meyer
Makin ke belakang makin seru. In the fact, Wolf yang nama aslinya Alfa Keasley itu ada hubungannya sama scene konferensi persemakmuran di cerita Cinder sebelumnya. Terus akhirnya perpsepsiku tentang Scarlet berubah. Dia ternyata pinter banget mengemudikan pesawat. Paham betul mekanisme dan fungsi satu-persatunya. Salut deh!

Tuh kan makanya jangan keburu ngejudge :p

Menurutku, pantas saja. Wong neneknya dulu anggota militer. Pastilah sedikit atau banyak, beliau pernah mengajarkan Scarlet akan hal itu. Jadi tidak hanya tentang pertanian dan ladang saja. Tapi sayang sekarang sang nenek menghilang. Dan tak ada satupun yang peduli. That's why dia kudu usaha sendiri.

Yaaa, meski ada Wolf yang sepakat membantunya. Namun didekatnya ia harus merapatkan resleting jaket dan memakai tudungnya. Gigi taring dan keahlian membaui itu lho yang patut dicurigakan. Dia beneran mau bantu nggak sih?

Satu hal yang bikin aku terharu, Kaito akhirnya ngerti juga kenapa Cinder bela-belain datang ke pesta dan membahayakan dirinya. Greget sebenarnya, kenapa dia baru nyadar coba. After everything happen? Oh!

Endingnya sukaaa! Nggak terlalu gantung kaya Cinder. Akhirnya dia punya keputusan yang pas untuk menghadapi Levana. Aku dukung tuan putri!



Sabtu, 04 Februari 2017

Quotes of Sinta Yudisia's the Lost Prince



Almamuchi mencoba bertahan dengan memelihara ingatannya.

Ia sedang nestapa, hilang akal, sendiri, tanpa arah. Bahkan pemuda itu bisa dimangsa pikirannya sendiri.

Sekarang, jika ada kesempatan pada dua belah tanganmu untuk membangun kembali peradaban Islam yang tertinggi, apakah kau akan lakukan sesuatu untuk mewujudkannya?

Almamuchi bahkan kehilangan semua perbendaharaan kata untuk menyangkal atau membela diri.

Tapi menangis hanya semakin menambah rasa sakit bagi kepedihannya selama ini. Digigitnya bibir kuat-kuat agar tak satupun gemuruh dalam dadanya meledak keluar.

Kekhawatiran hanyalah bisikan setan, Amir.

Ingatannya sudah sekeriput permukaan kulit.

Tapi dalam perjalanan panjang hidup seseorang, ada penggal-penggal peristiwa yang membekas begitu dalam.

Jangan menyela, jangan menyangkal. Jangan berpikir ini hanya kisah yang dilebih-lebihkan apalagi sekadar isapan jempol. Sebaliknya, mulailah merencanakan sesuatu. Kita punya satu kesempatan untuk mengembalikan Islam kembali pada kejayaannya.

Sejujurnya kukatakan, ini saat terberat dalam hidupku. Maka dari itu aku tak dapat memutuskan perkara ini sendiri. Aku butuh masukan kalian, aku butuh bantuan kalian.

Aku rasa, kita takkan lupa bagaimana 24.000 cendekiawan terbunuh di Baghdad saat penyerbuan Jengiz Khan. Enam ribu perpustakaan hangus terbakar, belasan ribu literatur Islam dihanyutkan ke sungai.

Dalam kitab-kitab perang tidak disebutkan pasukan yang banyak merupakan kulnci kemenangan. Perlu tekad. Kesatuan kehendak. Aturan yang rinci. Waktu yang tepat. Pendukung yang setia. Prajurit yang taat dan siap berkorban. Satu lagi, pemimpin yang disegani.

Jika kita menghitung rintangan, jumlahnya lebih dari seribu. Jika kita mencari ketidak-sepahaman, sumbernya ada seribu. Jika mencari perselisihan, penyebabnya ada seribu. Perpecahan yang terjadi di antara kita hanya menimbulkan bencana.

Setiap dari kita adalah berharga. Pasti ada sesuatu yang dapat kita sumbangkan, sesuatu yang bermanfaat bagi umat.

Keburukan seperti air laut, Sahabat. Terlihat banyak, bergulung-gulung, datang silih berganti, tapi tak pernah memecahkan karang. Ia hilang begitu angin bertiup. Tapi kebaikan seperti batang pohon. Bertunas, tumbuh, bercabang dan memiliki ranting, lalu bersemi makin rindang. Akarnya kokosh menghujam bumi, buahnya ranim dan dapat dipetik di segala musim. Ia tumbuh dan terus tumbuh. Setiap gugur akan digantikan dengan oleh semai yang baru.

Kita tidak berbicara tentang pasukan, senjata dan peperangan, Quthb. Mulai sekarang kita akan mempersiapkan kekuatan apapun yang ada. Mendidik anak-anak dan para wanita kita agar memiliki mental baja menghadapi segala kesulitan, membekali mereka dwngan keahlian dan kepandaian. Menanamkan ke benak para sahabat dan masyarakat untuk kembali ke pangkuan Islam. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang keberadaannya menaungi setiap makhluk di bumi ini.

Ini saatnya kita mengumpulkan keping demi keping harapan, bukan rasa keputusasaan yang cepat timbul saat satu permasalahan muncul.

Darimu? Kami tak mau apa-apa. Harta kami sudah punya. Seberapa banyak harta yang diperlukan selain makan, tempat tinggal, sehat dan berpendidikan? Kami sudah cukup. Kami hanya ingin kemuliaan Islam kembali di bumi. Islam yang menanungi alam semesta, yang menjaga kehormatan manusia tetap pada martabatnya. Yang menjadikan dunia sebagai kereta menuju akhirat hingga tak satupun jiwa saling menindas antara satu dengan lainnya. Yang menjadikan Al Quran dan sun ah Rasul sebagai pegangan hidup hingga dunia ini berlimpah cahaya-Nya.

Kematian dan kehidupan hanya sebatas tirai tipis, lalu apakah ia harus menyia-nyiakan peluang yang ada?

"Apa yang kalian harapkan?"
"Suatu tempat yang paling menyenangkan di surga, saat kawan-kawanku dapat berdampingan dengan Rasul yang mulia dan menetap wajah Rabb-ku."


Kamis, 16 Juni 2016

Pulang [Quotes]


Aku tidak takut. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, dan kemarahan aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.

Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilaian kalian. Toh, aku bukan hidup untuk membahagiakan orang lain, apalagi mengahbiskan waktu mendengar komentar mereka.

I against my brother, my brothers and I against my cousins and I against strangers-pepatah suku Bedouin

Kau segera akan tahu bahwa dunia ini luas sekali, Bujang. Tidak hanya seluas hutan di kampung.

Kuburkan aku segera tanpa harus menunggu siapapun agar semua bisa dilupakan dengan cepat.

Semua orang memiliki masa lalu, dan itu bukan urusan siapapun. Urus saja masa lalu masing-masing.

Aku tahu Kopong sudah berusaha sangat ramah. Tapi wajah sangar tetap tidak bisa ditolong.
Di keluarga ini masa lalu, hari ini, masa depan sepertinya berkelindan erat bagi setiap penghuninya.

Aku sudah mulai melupakan lereng rimba Sumatera.lupa rasanya berlarian di ladang padi tadah hujan, melompati parit-parit hutan, berjalan di atas pohon tumbang, atau menatap kabut putih yang menggantung setiap pagi.

Jangan pernah tertipu dengan tampilan fisik.

Tidak semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang.

Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu  walau sehelai benang.
Bahwa kesetiaan terbaik adalah prinsip-prinsip hidup bukan pada yang lain.

Sungguh jika manusia memiliki lima emosi, aku hanya memiliki empat karena aku tak lagi memiliki rasa takut.

Tentu sekarang, Bujang! Aku tidak punya waktu untuk berdiri di sini sepanjang hari.

Salonga tidak pernahmeminta bayaran sepeser pun atas setiap pekerjaan yang Keluarga Tong berika karena dia memiliki definisi kesetiaan tersendiri.

Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan lainnya.
Samurai adalah cara hidup. Prinsip-prinsip. Kehormatan.

Katana bukan sekedar alat untuk membunuh, tapi juga simbol rasa sabar dan pengendalian diri.sejatinya dalam hidup kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalalahkan diri sendiri. egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau menang dalam pertempuran itu. maka pertempuran yang lainnya mudah saja.

Sekarang saatnya kau melatih diri sendiri dan menemukan jawaban dar dirimu sendiri.

Saat kau ada di titik itu, kau seperti bisa menyentuhnya, tersenyum takzim, menyaksikan betapa jernihnya kehidupan. Saat itu terjadi, kau telah pulang. Pulang pada hakikat kehidupan. Memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan.

Bagaimana aku melakukannya? Persis seperti yang kau bilang, kerja keras, latihan dan disiplin.
Kita tidak tahu kehidupan akan membanting kita dalam sekali. Membuat tertunduk untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga,sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.

Semua orang bisa berkhianat, Bujang. Jika dia memiliki motif dan kesempatan, dia akan melakukannya.

Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya, lautan akan kering. Biarkan waktu menghabisi semuanya.

Hidup adalah perjalanan panjang. Kumpulan hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghidup udara pertama kali. Di salah hari lainnya, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu berikutnya, kita tertikam sesak,tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia akan tiba menegtuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan.

Jangan dilawan hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan memenuhi janjinya,terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu.

Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Peluklah semuanya. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebenciaan itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak.

Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?

Ketahuilah, Nak. Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu.

Dia takut-dia mengakuinya-tapi dia tidak akan lari dari kenyataan itu, melainkan akan menitipkan sisanya kepada takdir Tuhan.

Menerjemahkan kembali keberanian.

Kita tidak pernah berdua.

Apakah aku takut saat ini?

Aku  membutuhkan keajaiban yang tersisa.

Tidak ada sihir. Aku hanya bergerak lebih cepat dibanding dirinya, bergerak lebih kuat. Aku telah menerobos batasan diriku sendiri.

Ketika di telah membuka tabir ‘rahasianya,’ hal yang tak  mungkin menjadi mungkin.


Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitam yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami pulang. Anakmu telah pulang.