Tampilkan postingan dengan label Chairil Anwar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chairil Anwar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juli 2017

Menjejak Karya Angkatan '45

Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2, begitu judul buku yang sempurna disusun H.B. Jassin di tahun 1948. Antologi yang berisi kumpulan sajak dan cerita karangan pujangga angkatan '45. Penyair favorit kita, Chairil Anwar hadir dengan 9 karya sastra pilihan. Aku yang fenomenal itu bahkan ada di urutan pertama yang tampil di hadapan pembaca.


Ada 21 pujangga yang ikut terangkum oleh H.B. Jassin. Jadi tak hanya Bung Chairil saja. Tercantum di sana Asrul Sani, Sakti Alamsyah, Abas Kartadinata dkk. Kesemuanya lelaki kecuali Siti Nuraini dan Samiati Alisjahbana. Itu perkiraanku saja. Menebak gender dari nama.

Penulis-penulis itu ditampakkan lengkap dengan biografi singkat sebelum pergelaran karya di dalam buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2. Dari paparan H.B. Jassin yang tertera di sana lantas kutahu semua-muanya adalah orang berpendidikan.

Dan kebanyakan pujangga-pujangga kita alumni sekolah Belanda yang lahir di tahun 20-30an. Itulah mengapa banyak berpengaruh dalam sajak atau cerita yang mereka karang.

Jikalau Aku adalah puisi yang kusuka di antara lainnya, maka dari kalangan (bangsawan :p) prosa aku menikmati karya Abas Kartadinata. Tulisannya berjudul Tidak Bernama beralamatkan halaman 174-184. Berkisah dua anak kembar yang bercengkrama di dalam rahim sang ibunda.

Mereka berdiskusikan suara-suara yang datang di telinga. Tak hanya berdua, keping-keping darah yang ada di sekitar pun diajak bercengkrama. Hingga lahir mereka tetap tak bernama.

Aku pun tertegun dalam puisi Asrul Sani berjudul Surat dari Ibu. Puisi beralamatkan halaman 102 ini adalah sajak yang aku nyanyikan saat kelas VII SMP. Bu Sahliah, sang guru Bahasa membagi dan menyuruh kami mengkreasikanny dengan nada dalam kelompok-kelompok. Cara mengajar beliau selalu unik. Membuat kami semakin mencintai sastra.

Kembali pulang, anakku sayang

Kembali ke langit malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu, pagi hari."


Karya lainnya lebih banyak menceritakan zaman mencekam. Serdadu Belanda-Jepang yang masih berada di Indonesia hingga penyakit menakutkan, mematikan; TBC, terlihat biasa mondar-mandir di antara karya satu dan lainnya.

Masyumi turut menjadi topik menarik di dalam buku ini. Menyaingi kehadiran anggur dan perempuan. Ini pasti dikarenakan, this party very incredible at that time. Pengen baca banyak tentang Masyumi. Apalagi buku most-favenya Pak Rafif, kepala sekolah Reading Challenge bertemakan Masyumi. It makes me more curious about.

However, penulisan dan pilihan kata yang dipakai para penulis menjadi perhatian tersendiri. Tertulis di zaman perang dan pemulihan bangsa, diksi kata yang dipilih tak sama dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang kita kenal sekarang. Kita tahunya 'suster' tapi di halaman 178 dan 273 tertulis 'zuster'. 'Pulpen' di zaman itu familiar dengan 'vulpen'. Pun 'uang' yang banyak tersebar di sekian prosa masih terejakan 'wang'.

Puisi dan prosa yang terkumpul dalam Gema Tanah Air ini tak semuanya baru. Banyak yang sudah terpublikasikan. Di bagian akhir karya tertulis nama-nama media yang pernah memuat sebelumnya. Zenith, Mimbar Indonesia, Siasat, Panca Raya, dan Kisah di sanalah H.B Jassin memetik bibit-bibit bunga hingga jadilah kebun kekata bernamakan Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2.

Antologi karya yang membuat pikiran kita lebih terbuka. Karena kita lebih tahu. Dengan karya penulis papan atas, selain menambah khazanah keilmuan, in this case sejarah bangsa, juga memperkaya diksi. Terlebih aku yang menyukai puisi.

***
Judul: Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi 2
Penyusun: H.B. Jassin
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: pertama - 1948, kesepuluh - 1993
Halaman: 278


Selasa, 25 April 2017

Merangkum Jejak Sang Pujangga (Chairil)

..karya sastra bisa sedemikian menakutkan bagi penguasa..

Belum sempat kutuntaskan Gadis Pantai, buku Chairil sudah di genggaman meminta kesudahan. Dua buku dengan sastra tinggi buatku. Namun ternyata Chairil lebih mudah dicerna maksudnya. Pun jika dibandingkan dengan skenario Aku. Mungkin karena penulisnya yang hidup di masa kini. 

Tercatat di awal buku, biografi ini adalah cetakan pertama tahun lalu; 2016. Pantas bukan, jika aku menyebutnya masa kini.

Buku terbitan Gagasmedia tersebut menurutku adalah biografi yang super-lengkap disbanding lainnya; buku-buku yang juga menyajikan hal serupa. Di daftar pustaka ada 48 rujukan yang menjadi sumber bagi Hasan Aspahani, sang penulis dalam meliarkannya ceritanya tentang Chairil.



Kehidupan Chairil
Karena sejatinya senjata para penyair adalah kata-kata


Chairil berasal dari keturunan konglomerat. Asli Medan yang kemudian merantau ke Batavia. Meski begitu orangtuanya rutin mengirimkan uang untuk kebutuhan Chairil. Pantas saja jika Chairil seringkali terlihat di pesta-pesta para bangsawan.

Sang Penyair hidup di kala bangsa masih dijajah Belanda dan Negeri Sakura. Tidak mengherankan jika karyanya banyak dipengaruhi oleh keadaan sekitar. 

Sebagian puisinya bertuliskan kisah tentang perjuangan. Di buku Chairil kita juga menemukan Indonesia di masa lampau. Saat mendengarkan radio harus sembunyi-sembunyi. Kala sang penyair turut memiliki pistol di kantongnya. Selalu siap sedia untuk ditarik pelatuknya. Meski tak pernah dilakukannya. Karena sejatinya senjata bagi Chairil adalah kata-kata.

Keadaan itu otomatis memutus kiriman dari tanah kelahiran. Terlebih perang masih bergejolak. Chairil pun mulai menghidupi diri dengan puisi. Berpuisi pun tak boleh sembarangan. Karena karya yang masuk redaksi akan dikontrol ketat oleh tentara Jepang. Meski begitu, ia pernah tertangkap. Masuk penjara menjadi tahanan sang penjajah.

Honornya tak seberapa tapi cukup untuk buku tuk kembali mengasah pena. Kerjanya yang tentu tiap bulan mendapat gaji membuatnya diusir Hapsah, sang istri. Bersama buku-buku ia pun pergi ke rumah rekannya. Ya, penyair kita ini dituliskan tak pernah punya rumah. Ia tinggal alias menumpang di berbagai tempat; orang-orang yang ia sebut sahabat.


Sahabat Sekitar
Jassin, yang kuserahkan padamu-yang kunamakan sajak!-itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.


Saudara, sahabat dan kenalan yang menjadi saksi perjalanan kepenyairan Chairil Anwar menjadi sumber utama selain buku-buku. Salah seorang sahabatnya, dikisahkan oleh Hasan Aspahani tentang Sal, Maria dan Sjahrir. 

Cerita yang hampir serupa dengan persahabatan Abu Darda’ dan Salman. Jika kau telah menamatkan Jalan Cinta Para Pejuang, pasti hafal betul kejadiannya. 

Baiklah akan kuceritakan perihal itu. Suatu saat Salman mengajak Abu Darda’ untuk menemaninya melamar seorang gadis. Sebagai seorang sahabat yang baik tentu saja beliau mengiyakan tawaran rekannya itu. Namun tanpa dinyana, setibanya di rumah sang gadis, pinangan Salman ditolak. 

Abu Darda’-lah ternyata kasih yang selama ini diidamkan oloeh sang gadis. Pekik takbir terelakan dari Salman. Semua mahar yang telah ia siapkan dengan ikhlas hati ia berikan untuk keperluan sahabatnya; Abu Darda’.

Bedanya Maria telah diperistri oleh Sal, namun demi melihat sahabatnya bahagia, dan ia tahu bahwa ternyata Sjahrir pun menaruh hati. Maka dilepasnya oleh Salomon Tas (p.47).

AM Chandra, Asrul Sani, Bohang si redaktur Pujangga Baru adalah nama-nama yang juga berada di sekitar Chairil Anwar. Melalui tangan Bohar-lah karya Chairil berhasil lolos dan terbit. Namun H.B. Jassin adalah sesosok rekan yang tak hanya mengarsipkan karya-karyanya namun juga berani berdebat dengannya.


Gairah Menganalisis
Sebab sebagai penyair, ia kita harapkan lebih banyak menembak dengan kata-katanya. Lewat puisi-puisi yang ia ciptakan. 


Perdebatan sengit antara Chairil dan Jassin yang terjadi di halaman 129 harusnya membuka pandangan baru bagi para penyair. Tentang keterbaruan. Tentang ekspresionisme. Katanya,

“Apakah kebagusan sebuah sajak itu diukur dari termuat atau tidaknya di majalah atau surat kabar? Bung, sajak yang baik itu menguji wawasan redaktur pengasuh sajak, bukan bukan mengikut mematut-matut dengan selera redaktur.”

Dalam buku ini berkali disebutkan tentang ekspresionisme. Banne des Expressionismus, buku dalam bahasa Jerman yang kerap kali dibaca Jassin. Seperti halnya Chairil, H.B. Jassin juga keranjingan buku-buku. Nah, paham ekspresionisme yang suka disebut-sebut itu menggairahkanku. Untuk segera memburu bukunya tentu saja, dan mulai mengaplikasikannya dalam karya sastra. Nganalisis lagi yuk! Jerman? Iya, kita akan bertemu prominent figure dari sana lagi. Wah kayak déjà vu dong.

Well, menamatkan buku Chairil laiknya bimbingan skripsi. Belajar menganalisis puisi.


Puisi Narasi Aspahani
Penyair takkan menjadi penyair jika ia tak menuliskan sajak-sajaknya.


Membaca narasi bernapaskan puisi. Menelusuri Chairil seperti mencicipi ribuan sajak. Penulis yang jago nyastra. Delapan buku tertulis di profil penulis. Di belakang buku.

Ada setidaknya delapan potong sajak yang kulahirkan berbarengan dengan membaca Chairil. Bisa saja itu dikarenakan gaya bahasa sang penulis yang amat puitis. Yang mungkin besar pengaruhnya dari biografi ini. Yang membuatku penaku gatal untuk menulis. Mau membaca mereka? Doakan saja, puisi-puisi itu terbit di koran dalam waktu dekat 

Terimakasih, Aspahani, telah menghadirhidupkan kembali puisi baru nan manis dalam sajakku.


Luka dan bisa kubawa berlari
berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.


Ya, kita lihat kini, Chairil masih bernyawa dalam puisi-puisinya meski raga telah berpulang di tanggal 28 April 1949.