Kamis, 02 Februari 2017

Bersama Sebuah janji Aku Berkelana



Ke mana aksara membawamu berkelana? Aku telah tiba di Mongolia, daerah kekaisaran yang ditaklukkan oleh Jengiz Khan. Yang karenanya banyak muslim gugur dibumihanguskan.

Sebuah janji, novel Bunda Sinta Yudisia yang telah membawaku ke sana. Dengan tokoh utama yang dibawakan oleh Kaisar Tuqluq Timur Khan. Janjinya kepada Syeih Jamaluddin memberikan warna baru dalam cerita.

Bukan melulu tentang romansa, novel ini membuat rinduku akan karya FLP tertuai. Sebelumnya, Sebuah Janji telah kutemui di deretan buku perpus ketika aku duduk di bangku menengah kelas satu. Sampai menginjak SMA ia tetap di situ. Berderet rapi tak terjamah di antara buku-buku.

Aku memang tak begitu tertarik dengan novel berlatar sejarah. Namun penghargaan yang diraih penulis membuatku selalu tergelitik untuk membacanya. Pemenang I sayembara Novel Islami Gema Insani, begitu tertera di sampulnya.

Usai sidang skripsi aku mengumpulkan banyak buku dari berbagai rekan. Menjadi anak Sastra bukanlah hal yang susah untuk mendapatkan berbagai buku keren. Nah itulah petualanganku dengan Sebuah janji.

Beberapa tontonan film bertemakan kolosal membuatku mudah menggambarkan apa yang terjadi di dalam Sebuah janji.

Kaisar Tuqluq Timur Khan, dan konlfliknya dengan para selir serta putra-putranya mengingatkanku pada jaman Goryeo yang digambarkan di The Moon Scarlet.

Putri Han Shiang, sang selir  ingin putra bertakhta, atau setidaknya putrinya dipermaisurikan sang raja baru nantinya. Untuk mendapatkannya, tentunya haruslah dilalui dengan pertempuran berdarah, bersama para pengkhianat kerajaan kemudian ia bersekongkol.

Kekhawatiran Permasuri Ilkhata, istri sang kaisar akan pertempuran sedarah pada ketiga putranya cukup beralasan. Pertikaian yang mungkin terjadi di antara Takudar, Arghun dan Buzun. Menilik leluhurnya dahulu, anak-anak Jengiz Khan membagi kekuasaan bedasarkan egonya masing-masing.

Dan benarlah. Ada pengkhianat di dalam istana. Yang menyusup diam-diam mengambil takhta. Di malam ketika lampion-lampion merah tergantung di sepanjang Sungai Kerulen. Perayaan tahun baru membuat penjagaan istana dalam keadaan kosong. Sedang Kaisar tengah berbaring kesakitan.

Ajudan manakah yang berani melanggar sumpah setia? Keluarga yang mana beralih menjadi pengkhianat? Sebuah Janji, janji apakah itu? Dan siapa yang akan menepati jika sang Kaisar telah mati?

Lalu mari kita pergi mengelana, bersama Sebuah Janji, ke Mongolia. Tempat Takudar melarikan diri. Karena Sebuah Janji melulu tentang pertikaian. Ia adalah tentang janji yang harus ditepati.

21 komentar:

  1. Duuu asik banget gaya menulisnya mba. Mengalir. Betah banget bacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arigatou, Kak Acha. Sedikit improved berarti ya my writing skill*bahasanya jadi nano-nano, haha ^^V

      Hapus
  2. Aku senangnya novel bernuansa drama sih..Keluarga..Mungkin faktor u ya..he2

    BalasHapus
  3. Hm,jadi ingin langsung baca novelnya deh, penasaran sayyah. ^_^

    BalasHapus
  4. Jadi ini novel historical fiction gitu ya Kak?

    BalasHapus
  5. cover novel nya kaya mau perang gitu mbak , tapi isi novelnya romatis ya mbak?? penasaran mau baca novelnya..

    BalasHapus
  6. wah menarik. jadi penasaran pengen baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, diburu. Masukan dalam daftar bacaan selanjutnya ^^

      Hapus
  7. Boleh jugaa buat bacaan selanjutnya

    BalasHapus
  8. Cerita kerajaan biasanya gak jauh dari perebutan tahta ya...

    BalasHapus
  9. Mba Sinta,. Ketum flp skrg y mba, karyanya memang teope..
    Btw template blognya so sweet mba, beli? Dmn?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Shona. Bunda Shinta Ketum FLP sekarang.

      Sepakat dengan teope-nya karya beliau.

      Template-nya bawaan blogspot, Mbak. sembari nambahin kode CSS sendiri.

      Hapus
  10. Haduh, mendayuuu ...
    legendnya FLP ya mba Sinta ini

    BalasHapus
  11. Covernya ga menduga isi novelnya mendayu, ya? Kejutan

    BalasHapus