Minggu, 12 November 2017

Tere Liye Hadirkan Jokowi dan Sri Mulyani di Al Amien Prenduan

Tidak perlu mendatangi istana negara atau gedung keuangan negara untuk bertemu Pak Jokowi dan Ibu Sri Mulyani. Dua orang nomor satu di Indonesia tersebut malah dapat dengan mudah datang ke rumah-rumah penduduk. Di Al-Amien Prenduan, Sumenep Madura novelis kondang, Tere Liye memberi triknya.

"Jika kalian jeli, Pak Jokowi dan Ibu Sri Mudah dapat kalian temukan di dalam novelku." Di gedung serba guna TMaI (Tarbiyatul Mu'allimien al Islamiyah) putri Tere Liye santai membocorkan rahasianya.

Tere Liye
Seperti pajak penulis yang masih hangat menjadi perbincangan di kalangan kuli tinta. Tere Liye mengaku malas berdebat dengan mereka. Apalagi menghadapi komentar tak berdasar bin nyinyir di dunia maya. Penulis best seller ini lebih memilih melawan mereka dengan karya.

Dalam Eliana misalnya. Salah satu novel serial anak-anak Mamak ini memperlihatkan sebuah fakta. Kenyataan yang difiksikan tentunya, tentang orang-orang kota yang datang melibas hutan dan mengeruk habis pasir sungai. Ia mengkritik asap Sumatera dan menghadapi orang-orang kota yang memasuki desa dengan paparan kritisnya dalam novel.

"Bacalah novel Negeri Para Bedebah, kalian akan menemukan Pak Presiden dan menteri keuangan," katanya menjawab sebuah pertanyaan peserta.

GESERNA yang dipenuhi ratusan peserta seminar inspiratif pun mengangguk-angguk.  Para peserta  duduk di barisan berdasarkan asalnya. Dari berbagai lembaga dalam naungan Al-Amien; MTA, TMaI, IDIA misalnya atau dari luar pondok. Terlihat wajah-wajah mereka sedang mencoba untuk memahami dan sibuk berkutat menulis catatan. Terlebih, bagi seluruh santri Al-Amien membawa buku ke mana-mana adalah kewajiban. Sanksi siap menanti jika berani melanggar. Maka tangan-tangan terampil menulis ilmu baru yang ditemui mereka di sana.

Kebanyakan diskusi di dalam gedung terlontar seputar kepenulisan. Meski begitu pertanyaan mereka tetap beragam.

Siapa penulis favorit Bang Tere? "Dee Lestari, Asma Nadia, J.K Rowling dan masih banyak lagi. Apa tips menulis yang baik? Tidak ada. Tulis saja." Ringkas dan sederhana jawaban Tere Liye.

Tidak ada. Begitu juga jawaban mamak Tere Liye saat ditanya bagaimana cara memasak selezat beliau. Karena novelis tersebut tak menemukan yang serupa di kota-kota manapun. Padahal enaknya minta ampun.

Peserta yang ingin bertanya dipersilahkan berbaris mengantre di depan mikrofon yang telah disediakan panitia. Antrian juga tertib karena panitia membagi tempat duduk berdasarkan nomor daftar dan darimana mereka berasal. Pemberian doorprize dilakukan panitia dengan adil.

Tidak hanya santri PP. Al-Amien Prenduan yang datang menghadiri seminar bertajuk "Aku Mengenal Tuhan karena Menulis," mahasiswa dan peserta dari luar pondok pun dibolehkan ikut serta. Namun terbatas kuota dan hanya untuk kaum wanita. Bahkan beberapa santri putri sempat kecewa karena tidak bisa mengikuti acara karena kehabisan kuota. Terlebih acara seminar bertepatan dengan hari Jumat (6/10). Hari libur pondok.

"Iya, Mbak. Kuota untuk Tahfidz hanya 100 orang," ucap santriwati MTA (Ma'had Tahfidz Al-Quran) kelas VII SMP.
Antrean yang mengular
Ada kejadian unik saat acara berlangsung. Tere Liye ikut mengacung ketika panitia menanyakan nama asli sang novelis dan arti dari nama penanya. Namun tetap saja panitia memilih seorang peserta yang siap membocorkan dua rahasia tersebut.

"Nama asli Bang Tere Liye, Darwis dan Tere Liye artinya 'untukmu," jawab seorang peserta mantap.

Untuk-Mu. Menulis untuk Tuhan. Untuk memperlihatkan kepedulian. Begitu kira-kira menurut Tere Liye hakikatnya menulis. Bahkan Tere Liye berharap dari pondok pesantren Al-Amien lahir penulis cerdas nan kritis.

Di akhir acara peserta dipersilahkan berbaris rapi dan maju satu-persatu ke panggung. Untuk mendapatkan tandatangan spesial sang penulis.

"Bersabarlah menghadapi Burlian dan jadilah berani seperti Eliana," pesannya sebelum membubuhi tanda tangan di novelku.

2 komentar:

  1. Baru tahu kalau nama asli tere liye, Darwis. Duh aku katrok haha. Btw, makasih ya mbak sharenya.

    BalasHapus
  2. wah bisa merasakan semangatnya mbak. bukan cuma semangat bang tere tapi juga para pesertanya.

    BalasHapus